Loading...
Kabar Gembira

Yayasan Dapena Surabaya dan Usaha untuk Mengubah Sekolah Menjadi Lingkungan yang Menyenangkan

GSM, Sekolah Anak-anak

Sekolah selalu diasosiasikan sebagai tempat yang membosankan karena kegiatan yang ada di dalamnya hanya belajar, ujian dan hal-hal lain yang membuat anak-anak pulang ke rumah dalam keadaan lelah.

Siapa sangka, kegiatan seperti mencuci kaos kaki, menanam tanaman, memasak dan berjualanan kue bisa dilakukan di sekolah sebagai salah satu proses pembelajaran? Itulah setidaknya yang dilakukan oleh Eko Hari Wisroyo sebagai kepala sekolah SD Dapena Surabaya untuk mengubah lingkungan sekolah yang kaku menjadi lebih menyenangkan namun tetap sarat dengan pembelajaran.

Dalam sebuah kesempatan wawancara yang dilakukan oleh Kumparan, Eko juga menjelaskan bahwa PG, TK, SD, SMP dan SMA yang berada dalam Yayasan Dapena sudah mengadopsi gaya belajar Gerakan Sekolah Menyenangkan. Salah satunya dengan melakukan pembelajaran dengan melakukan kegiatan yang dekat dengan keseharian.

Jika dilihat sekilas, kegiatan-kegiatan tersebut seperti tidak terlalu berguna bagi anak-anak. Namun jika dicermati lebih jauh, dari kegiatan sederhana itu justru guru bisa menanamkan nilai dan pembelajaran yang mampu membentuk karakter dan kecerdasan siswa. Misalnya saja dengan melakukan kegiatan jual-beli dalam market day, banyak sekali yang bisa dipelajari dari kegiatan tersebut.

Di antaranya adalah pembelajaran matematika yang mengharuskan mereka menghitung uang kembalian, juga membagi pendapatan dalam penjualan dengan adil sama rata pada semua anggota kelompok. Selain itu terdapat juga proses pembelajaran sosial karena di sana mereka harus berinteraksi dengan anak-anak lain baik dari kelas yang lebih tinggi ataupun adik kelasnya sendiri. Terdapat dinamika yang mungkin terjadi di antara mereka, mereka harus berlatih untuk berargumentasi dan mempromosikan apa yang mereka jual sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan.

Sesuai yang direkomendasikan oleh GSM, kegiatan semacam ini bisa dilakukan setiap hari sabtu dengan tajuk sabtu ceria. Menurut Eko, tanggapan orangtua terhadap kegiatan ini sungguh positif karena mereka terharu mendapati anaknya bisa berlatih mandiri justru di sekolah.

Apa yang dilakukan oleh Yayasan Dapena tersebut adalah usaha untuk membangun lingkungan sekolah agar bisa mendukung tiga aspek dasar keterampilan manusia yang menjadi tujuan GSM itu sendiri. Ketiga aspek tersebut diantaranya adalah, pola pikir yang terbuka, kompetensi abad 21 (berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif, pemecahan masalah), juga pembentukan karakter akhlak dan etos kerja.

“Prestasi adalah dampak dari anak yang bahagia dalam belajar. Anak-anak yang tidak pernah diapresiasi, yang selalu disalahkan, tidak bisa berprestasi. Karena itu kami fokus membuat anak bahagia di sekolah supaya belajar tidak menjadi beban tapi keasyikan tersendiri”, tambah Eko pada wawancaranya dengan Kumparan.

Terlihat bahwa memang sudah seharusnya sekolah mulai memikirkan lebih dari sekedar prestasi akademis siswa. Bahwa menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan justru bisa membuat siswa menjadi lebih kreatif, antusias pada ilmu pengetahuan dan yang terpenting membuat siswa menjadi lebih semangat dalam belajar yang tanpa beban.

(Sumber: Kumparan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: