Loading...
Kabar Gembira

SMPN 1 Girimulyo dan Keterlibatan Orang Tua dalam Proses Pendidikan

Orang Tua

YOGYAKARTA, Senin (04/02) – Pemanggilan orang tua oleh sekolah selalu mendapatkan konotasi negatif, biasanya pemanggilan tersebut dilakukan untuk meminta dana atau dilakukan sebagai teguran karena anak-anak mendapatkan poin atas pelanggaran di sekolah. Setidaknya hal itulah yang umum dirasakan dan terjadi pada sekolah-sekolah di Indonesia sehingga hubungan antara sekolah dan wali murid tidak terjalin dengan baik.

“Sekarang kepala sekolah lebih mengajak kami untuk berdialog dalam menyelesaikan permasalahan anak-anak. Tidak ada lagi surat pemanggilan dan teguran seperti dulu” Ungkap salah satu orang tua siswa SMPN 1 Girimulyo ketika menjelaskan perubahan yang terjadi setelah adanya Gerakan Sekolah Menyenangkan.

Para orang tua siswa diajak datang dalam acara kunjungan dari SMPN 1 Mlati ke SMPN 1 Girimulyo (04/02) untuk  menunjukkan betapa pentingnya keterlibatan orang tua dalam menunjang perubahan yang diinginkan.

“Sejak komite guru turun langsung melihat masalah anak dari keluarganya, sekarang orang tua sudah mulai terbuka, sudah mulai kritis karena tahu program sekolah seperti apa” tambah salah satu guru SMPN 1 Girimulyo menjelaskan program pendekatan pada keluarga yang dipimpin oleh Ibu Rini. Hal ini karena sempat terjadi beberapa kasus di mana orang tua enggan untuk datang ke sekolah, mereka merasa bahwa tanggung jawab pendidikan sepenuhnya sudah diberikan pada sekolah. Komite guru kemudian mengambil sebuah inisiatif melakukan pendekatan dari bawah, mereka lah yang datang pada orang tua untuk menjelaskan program sekolah sehingga orang tua mau untuk ikut berkolaborasi.

Gerakan Sekolah Menyenangkan sadar betul bahwa sebaik apapun proses pendidikan yang sudah dilakukan di sekolah tidak akan berjalan maksimal tanpa didukung oleh iklim keluarga dan orang tua yang juga turut berpartisipasi dalam proses tersebut.

Pada kesempatan itu, selain mengajak guru-guru dan beberapa orang tua siswa, SMPN 1 Mlati juga mengajak sembilan orang siswanya untuk melihat suasana SMPN 1 Girimulyo yang sudah terlebih dahulu melakukan Gerakan Sekolah Menyenangkan.

“Zona kesukaan kami yang zona urutan kehadiran karena bisa bikin berlomba-lomba supaya tidak terlambat” Ujar Puput dan Novita dari SMPN 1 Mlati malu-malu ketika ditanya zona mana yang paling mereka sukai saat berkeliling melihat-lihat suasana kelas di SMPN 1 Girimulyo.

Terdapat sesuatu yang menarik ketika sesi berkeliling dan melihat-lihat berlangsung. Dua orang siswa bernama Syahrina dan Fatma dari SMPN 1 Mlati didapati selalu sibuk dengan handphonenya. Ketika ditanyakan lebih lanjut ternyata mereka berdua melakukan live report pada grup whatsapp yang berisi siswa-siswa SMPN 1 Mlati karena tidak semuanya bisa ikut dalam kunjungan tersebut.

Apa yang dilakukan oleh Syahrina dan Fatma menunjukkan sudah adanya semangat berbagi dengan cara pemanfaatan teknologi yang kini kian canggih. Mereka membagikan pengalamannya lewat voice note, foto dan juga video agar teman-temannya mendapatkan pengalaman yang sama dengan mereka.

Jika kembali melihat keterlibatan wali murid, menghadapi fenomena anak-anak yang terlalu sibuk dengan handphone biasanya mereka anak-anak dalam belajar. Namun ketika orang tua sudah mau terbuka untuk diajak berdialog, sesuatu yang tadinya dianggap destruktif bisa menjadi bermanfaat ketika orang tua mau untuk berkolaborasi dalam mengarahkan pemanfaatan teknologi tersebut. Karena sesungguhnya, memberikan kepercayaan dan rasa tanggung jawab pada anak juga adalah sebuah proses pendidikan.

One comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Develop and Design by Deep Red
%d bloggers like this: