Loading...
Inspirasi GSM

Sejauh Mana Pendidikan Kita Telah Bersiap-siap?

Pembaca yang budiman,

Tidak ada upacara bendera untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei ini karena pandemi belum usai. Tiadanya selebrasi bukan menjadi soal ketika nilai-nilai yang terangkum di dalamnya telah melekat pada diri kita. Pertanyaannya kemudian adalah: apakah nilai-nilai pendidikan yang ditanamkan oleh Ki Hadjar Dewantara sudah kita terapkan sehari-harinya?

Sebelum membahas lebih jauh, situasi saat ini membuat sekolah kembali pada fitrahnya bila menilik arti sekolah menurut asal mula bahasanya: waktu senggang. Tidak dipungkiri bila belajar dari rumah memberikan banyak waktu senggang bagi anak didik, meski pun ada tanggung jawab berupa mengerjakan LKS atau menonton siaran edukatif di TVRI sesuai jadwal. Namun, seberapa efektif dan kontekstual metode pembelajaran yang diterapkan selama masa pandemi ini? Apakah metode tersebut mampu menstimulasi anak didik untuk memahami apa yang sedang terjadi?

Jawabannya mudah saja, sekolah dengan jadwal ketat saja belum mampu meningkatkan daya berpikir kritis anak didik, apalagi di saat anak didik memiliki banyak waktu luang untuk bermain TikTok atau PUBG? Tentu saja jawaban ini sangat spekulatif dan tendensius. Namun, bukankah begitu keadaannya? Padahal contoh media daring di atas bisa digunakan sebagai sarana belajar yang sederhana. Coba dihitung, berapa banyak siswa yang menjalankan physical distancing dengan taat atau memahami mengapa harus melakukan hal tersebut? Situasi seperti ini pada akhirnya, sekali lagi, menyadarkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata berkembang.

Sejatinya, waktu senggang ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para guru untuk menciptakan inovasi dalam belajar mengajar jarak jauh. Misalnya, memberikan ruang kritis dengan mengajak siswa membayangkan tantangan-tantangan di masa mendatang: apa yang sebaiknya dilakukan ketika terjadi pandemi, bagaimana mengelola waktu dan emosi dengan baik, bagaimana mencegah pemanasan global, bagaimana mencukupi kebutuhan pangan dan seterusnya. Harapannya, daya kritis yang muncul tidak hanya berada di tataran konsep namun sampai pada praktik.

Bayangkan saja kalau pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan tugas seputar menanam dan merawat pohon, sayur-sayuran, atau apotek hidup. Tidak saja mengisi waktu luang siswa, lebih dari itu, siswa dan orang tuanya yang terlibat dalam pengerjaan tugas ini telah memberikan sumbangsih besar terhadap ibu bumi. Di sisi lain, jika hal ini diterapkan terus menerus dibarengi dengan distribusi pengetahuan yang cukup, ketahanan pangan bukanlah hal yang sangat mungkin untuk dilakukan sejak dalam keluarga. Sebab, bukan hanya siswa yang belajar, namun seluruh keluarga. Seperti halnya yang dikatakan Ki Hadjar Dewantara, “Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, jadikan setiap orang sebagai guru.”

Yesa Utomo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Develop and Design by Deep Red
%d bloggers like this: