Loading...
Ruang Refleksi

(Review film Bad Genius) PRAKTIK MENCONTEK MASAL : Kecurangan Siswa atau Kecurangan Sistem Pendidikan?

Tampaknya seluruh volunteer sepakat bahwa menjadi relawan GSM memiliki peluang belajar yang besar, terutama terkait pendidikan dan pelaksanaan sistem pendidikan di Indonesia. Selain tergabung menyukseskan program GSM, ada beberapa kegiatan menyenangkan yang dilakukan para volunteer, salah satunya adalah “nonton bareng” dengan seluruh volunteer atau biasa disebut nobar. Agenda nobar ini dilaksakan sekali dalam dua minggu dengan film-film yang sarat akan pesan pendidikan berdasarkan pilihan para volunteer. Nobar secara daring ini menjadi agenda yang menyenangkan karena juga diisi dengan diskusi menarik mengenai film yang tengah ditonton.

Film sebagai media komunikasi massa kerap memuat pesan bagi para penontonnya. Tak jarang film fiktif yang diproduksi dengan ide cerita menarik juga mengangkat fakta yang kerap terjadi di tengah masyarakat. Ambil saja contohnya film Bad Genius produksi Jor Kwang Films asal Thailand yang rilis tahun 2017 silam. 11 September 2020 lalu, film ini menjadi film pilihan untuk ditonton dan didiskusikan bersama para volunteer. Secara menarik film ini menampilkan cerita praktik kecurangan di salah satu sekolah ternama di Thailand. Beberapa mungkin sudah ada yang menonton film ini dan sudah menyaksikan betapa cerdiknya Lynn dkk serta bagaimana pelaksanaan sistem pendidikan di sekolahnya. Tulisan ini tidak akan mereview dari segi sinematografi seperti ulasan film pada umumnya, melainkan menengok pesan yang disampaikan dari film ini dan diskusi menarik yang terbangun dari kegiatan nobar volunteer.

Pada diskusi film tempo hari, beberapa poin berhasil tercatat, hal menariknya ialah fakta bahwa praktik kecurangan tidak hanya terjadi di antara para siswa, melainkan juga terjadi pada tatanan yang lebih tinggi yaitu tingkat guru dan sekolah. Seolah upaya bertahan dari peliknya urusan nilai di sekolah, siswa menyusun siasat yang cerdik. Kecurangan yang terjadi oleh siswa tampaknya hanyalah hasil dari kecurangan yang sebelumnya telah dilakukan para guru dan sekolah. Hal itu terlihat dari kekecewaan tokoh utama yang kemudian menyetujui menjadi otak pemasok jawaban ujian bagi siswa lainnya dengan imbalan uang. Selain hal itu, pertemanan remaja atau siswa SMA seperti yang terjalin antara Lynn dan Grace juga menjadi penguat untuk melakukan kecurangan. Hal ironi lainnya ialah karena faktor ekonomi dan gap antara para siswa cerdas yang kurang mampu dan siswa lainnya yang lebih kaya tapi lemah dalam pelajaran.

“Sekolah hanya diperuntukkan bagi siswa dengan nilai tinggi, jika tidak maka keluarkanlah uang lebih banyak untuk sekolah”, “nilai adalah segalanya, jika kamu mau, para guru bisa memberikan nilai yang layak untukmu”

Kira-kira itu poin menarik lainnya yang ditampilkan dari film ini. Sekolah nyatanya memungut bayaran sangat mahal bagi siswa-siswa terutama yang memiliki nilai rendah. Guru pun akan memberikan bocoran soal untuk ulangan harian bagi siswa yang mengikuti les tambahan dengannya. Pendidikan tidak lagi difungsikan sebagai sarana mencerdaskan para siswa, praktik kecurangan benar-benar terjadi di tengah sistem pendidikan.

Dukungan orangtua dari tokoh-tokoh di film ini juga menunjukkan peran yang besar dalam pembentukan karakter dan keputusan yang diambil oleh para tokoh hingga prinsip yang dipegang mereka. Di akhir, film ini menyiratkan pesan yang sama kuatnya, bahwa pendidikan bukan hanya mengenai nilai dan hal akademik saja melainkan harus menjadi contoh yang baik.

Apakah praktik kecurangan dalam sistem pendidikan juga terjadi di Indonesia?

 

Septiriana Wulandari

Develop and Design by Deep Red
%d bloggers like this: