Loading...
Inspirasi GSM

Refleksi Pendidikan Indonesia terhadap Tantangan Dunia Masa Depan

Fenomena pandemi COVID-19 telah menjadikan perubahan menuju tatanan baru tersebut semakin cepat. Oleh sebab itu, fenomena ini membuat para ilmuwan, pembuat kebijakan, dan praktisi merasa cemas karena kesulitan menghadapi disrupsi yang semakin cepat. Contoh nyatanya ada di bidang pendidikan. Ketika pemerintah memutuskan untuk melakukan Belajar dari Rumah (BDR), guru-guru mengalami kebingungan bagaimana menerjemahkan pendidikan kontekstual karena metode ini tidak sesuai dengan kurikulum yang telah berlaku sebelumnya. Dampaknya, muncul permasalahan mengenai efektivitas kegiatan belajar mengajar karena hanya sekitar 8% dari 4,2 juta guru yang mengerti teknologi pembelajaran online (Jayani, 2020). Akhirnya, 53% guru mengajar hanya untuk mengejar ketuntasan capaian kurikulum (Jayani, 2020). Disinilah contoh disrupsi nyata yang terjadi di bidang pendidikan. Padahal, di masa kritis seperti ini, dunia pendidikan lah yang seharusnya dapat dihandalkan untuk berdiri kokoh menjaga ketahanan anak agar dapat beradaptasi di lingkungan yang baru.
Lalu, kompetensi apa yang sebenarnya diperlukan di masa VUCA ini? OECD mencoba merumuskan itu dalam kerangka kerja “21st Century Skills and Competencies” yang terbagi dalam 3 dimensi, yaitu informasi, komunikasi serta etika dan dampak sosial (Ananiadou & Claro, 2009). Kemajuan teknologi mendorong manusia untuk tidak sekedar memproses dan mengorginisasi informasi saja. Manusia sekarang dituntut untuk menemukan, memproses, mengorganisasi, dan mentransformasikan informasi menjadi sebuah ide baru. Sehingga, keterampilan manajemen, berorganisasi, berfikir analitis, problem solving, dan berpikir kreatif adalah keterampilan yang diperlukan dalam dimensi informasi. Pada dimensi lain, komunikasi memegang peranan penting untuk mempersiapkan siswa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, metode sharing dan collaborative menjadi pilihan akibat dari perubahan tatanan yang semakin kompleks. Sehingga, kemampuan komunikasi efektif, kolaborasi serta interaksi virtual juga dibutuhkan dalam era sekarang. Namun, hal yang tidak kalah penting adalah kemampuan dan skill dalam dimensi etika dan dampak sosial. Kemampuan ini dapat diwujudkan dengan menciptakan tanggungjawab sosial bagi anak, baik dalam sense positif (tanggungjawab untuk bertindak) maupun negatif (tanggungjawab untuk mencegah suatu tindakan) sehingga keterampilan untuk berempati dan bersosialisasi juga dibutuhkan dalam era VUCA.
Melihat dunia pendidikan Indonesia yang ternyata masih belum berdiri kokoh melindungi anak dalam masa kritis ini mengindikasikan bahwa kurikulum pendidikan Indonesia tidak relevan dalam menghadapi tantangan di masa depan. Hal ini dapat dianalisa melalui sistem penilaian kompetensi siswa berdasarkan ujian berbasis akademik. Penilaian kompetensi siswa di sekolah masih dilakukan secara sempit karena hanya menyasar pada mata pelajaran tertentu yang berbasis kognitif saja, seperti UN yang hanya menilai 4 mata pelajaran yaitu Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Padahal, kemampuan koginitif bukanlah satu-satunya dan yang paling dominan dibutuhkan dalam realita. Ditambah pula, mekanisme ujian yang sangat kompetitif bukanlah yang diperlukan karena nyatanya manusia akan cenderung beradaptasi melalui cara-cara kolaboratif dan kolektif. Bentuk ujian berupa trivia secara tidak langsung telah membatasi daya imajinasi dan kreativitas siswa karena terjadi standarisasi dalam jawaban. Melalui fakta-fakta ini, dapat disimpulkan bahwa sistem penilaian berdasarkan ujian akademik sebenarnya bersifat kontraproduktif dengan tantangan yang dihadapi di masa depan. Artinya, sistem penilaian yang diharapkan mampu untuk menyiapkan siswa menghadapi tantangan di masa depan, justru memberikan hasil sebaliknya.
Setelah berefleksi panjang mengenai tantangan di masa VUCA kaitannya dengan kondisi pendidikan Indonesia saat ini, apakah kita hanya akan tersekat di dalam kekhawatiran semata dan berhenti pada refleksi? Atau justru kita ingin menjadikan refleksi menjadi sebuah aksi untuk pendidikan yang lebih relevan di masa depan?

Jayani, D. H. (2020, Mei 11). Problem Belajar Dari Rumah. Retrieved from Katadata.co.id: https://katadata.co.id/infografik/2020/05/11/problem-belajar-dari-rumah#

Ananiadou, K., & Claro, M. (2009). 21st Century Skills and Competences for New Millennium Learners in OECD Countries. OECD Education Working Papers, 1-33.

 

%d bloggers like this: