Loading...
Inspirasi GSM

PROFIL GURU – Pak Perdana: “Jangan Beri Beban, tapi Pemahaman”

Perdana Wira Saputra atau biasa dipanggil Pak Perdana merupakan seorang guru di SD Labschool Unnes Semarang. Pak Perdana berumur 30 tahun dan saat ini mengajar di kelas 2 SD. Sejak awal terjadinya pandemi ini, pihak sekolah maupun guru telah berkomitmen bahwa bahwa pandemi ini tidak dijadikan alasan untuk tidak adanya proses belajar. Namun, perlu diperhatikan bahwa pasti ada perbedaan antara cara kegiatan belajar mengajar normal dan juga kegiatan belajar yang bersifat daring.  Pak perdana sendiri memiliki prinsip bahwa selama pembelajaran itu harus memberikan kesan yang tidak membosankan serta menyenangkan bagi para murid, itu berlaku untuk pembelajaran baik secara normal maupun daring. Maka dari itu Pak Perdana mengartikan bahwa pembelajaran daring bukan merupakan pemindahan tugas dari sekolah ke rumah karena hal seperti itu banyak memiliki kelemahan, di antaranya anak-anak akan merasa bosan dan terbebani. Orang tua juga belum tentu bisa membantu pekerjaan rumah tersebut. Oleh karena itu, tugas yang diberikan harusnya kontekstual. Salah satu caranya adalah memberikan tugas-tugas berbasis sosial.

Contoh sederhana yang Pak Perdana terapkan pada pelajaran matematika. Ia memberi tugas kepada murid-muridnya untuk menghitung pecahan dengan kreasi sesuka hati para muridnya.  Contohnya, ketika murid membeli makanan lalu makanan tersebut dibagi-bagi berdasarkan jumlah keluarganya atau ketika murid-murid  membeli sayuran lalu sayuran tersebut dipotong-potong dengan potongan tertentu lalu dihitung pecahannya. Hal-hal sederhana tersebut tentunya dapat meningkatkan pemahaman terhadap anak akan konteks pembelajaran. Selain itu pembelajaran berbasis sosial juga akan memberikan kesempatan anak  untuk mengeksplorasi lebih jauh dan juga berkolaborasi dengan  teman-temannya. Pak Perdana mencontohkan bahwa murid-muridnya diberi tugas untuk memahami waktu dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak diminta untuk menuliskan kegiatannya sehari-hari, dalam prosesnya anak-anak banyak berinteraksi dengan teman-temannya dan itu akan membuat hal tersebut semakin bermakna dan anak-anak pun semakin mengerti tujuan dari materi tersebut.  Contoh lainnya adalah anak-anak diminta untuk membuat kata sapaan. Ternyata anak-anak jauh mengeksplorasi tugas tersebut mulai dari membuat  cerita bahkan ada yang membuat drama. Proses inilah yang kemudian menjadi penting bahwa anak-anak tidak hanya memahami  secara tekstual namun juga kontekstual dari materi tersebut.  Pak Perdana Juga memanfaatkan berbagai fasilitas teknologi yang ada seperti Google classroom, video conference dan lain-lain.

Pak Perdana memberikan penekanan bahwa harus ada pemahaman yang baik antara dan guru orang tua dan juga anak. Dalam kondisi seperti ini materi pembelajaran idealnya tidak akan tersampaikan secara optimal maka yang terpenting adalah anak-anak memahami bahwa kondisi seperti ini mereka harus tetap sehat dan juga merasa senang. Pak Perdana menekankan  anak-anak tidak harus paham banyak materi cukup semampunya saja. Para orang tua juga tidak perlu khawatir  akan pembelajaran  anak di sekolah. Yang penting juga para guru harus memberikan pemahaman terhadap para orangtua dan juga anak-anak  akan kondisi seperti ini serta tidak hanya memberikan beban  berupa pekerjaan rumah dan yang lainnya.

Dafa Dhiya, Sleman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Develop and Design by Deep Red
%d bloggers like this: