Loading...
Kabar Gembira

[Kabar Menyenangkan] Menteri Pendidikan Victoria Mengapresiasi Penerapan GSM di SMPN 2 Sleman

Level pendidikan di Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara lain yang ada di dunia. Bahkan dalam Human Development Reports 2019, tingkat pendidikan di Indonesia berada di bawah Thailand dan  juga Malaysia.  Hal ini salah satunya disebabkan karena masih dalamnya jurang kesenjangan yang ada antara sekolah yang favorit yang ada di kota dan juga sekolah yang ada di pinggiran kabupaten atau desa. Kesenjangan tersebut bisa dirasakan terutama pada aspek infrastruktur dan juga kualitas tenaga pendidik.

Kendati demikian, status sekolah favorit atau sekolah pinggiran pada akhirnya tidak berarti lagi jika sekolah yang disebut sebagai sekolah pinggiran memiliki inisiatif dan keinginan yang kuat untuk maju dan berkembang. Itulah yang sudah dilakukan oleh SMPN 2 Sleman dan ratusan sekolah lainnya yang sudah menerapkan program GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) di sekolahnya masing-masing.

 

Pada hari Jumat (20/09), menteri Pendidikan Victoria, Australia, James Merlino didampingi oleh pendiri GSM yaitu Muhamad Nur Rizal dan Novi Chandra, melakukan kunjungan ke SMPN 2 Sleman untuk melihat bagaimana kesuksesan dan perjuangan sekolah kecil pinggiran yang berkembang pesat bersama Gerakan Sekolah Menyenangkan.

James Merlino sangat mengapresiasi penerapan GSM di SMAN 2 Sleman tersebut. “saya optimis GSM mampu untuk menerapkan prinsip pendidikan taraf global di sekolah marjinal di Indoensia” Komentarnya.

Gerakan Sekolah Menyenangkan memang selalu memprioritaskan sekolah marjinal yang ada di Indonesia agar mampu untuk menjadi sekolah yang selalu memanusiakan siswa-siswanya dengan penciptaan lingkungan positif di sekolah. Lingkungan positif ini tidak selalu harus didukung oleh sarana dan prasarana yang serba mahal. Ketika semua lapisan yang ada di sistem sekolah bekerja sama dan berkolaborasi, maka lingkungan positif ini akan terbentuk dengan mudah. Dan hal ini sudah dibuktikkan oleh banyak sekolah model GSM yang ada di Indonesia, salah satunya SMPN 2 Sleman.

Dampaknya, sekolah-sekolah yang gesit dalam menciptakan lingkungan positif akan mampu menggali minat, bakat serta potensi siswa-siswanya karena ekosistem yang positif akan memerdekakan siswa dari rigidnya sistem pendidikan Indonesia yang selama ini memenjarakan mereka dalam angka-angka yang tertuang pada nilai saja. Lebih dari itu, untuk mampu bersaing dalam kancah global siswa harus dipandang sebagai manusia yang dimerdekakan dalam mengembangkan segala potensinya.

“Tidak peduli dia sekolah unggulan atau tidak, dengan menciptakan lingkungan pendidikan yang memerdekakan dan memanusiakan, siswa akan mampu untuk menggali minat, bakat dan potensinya yang selama ini terabaikan” ucap Nur Rizal di SMPN 2 Sleman dalam acara kunjungan tersebut.

Gerakan akar rumput yang dilakukan oleh GSM ini justru menjadi kekuatan tersendiri karena memberikan pembuktian bahwa dengan adanya inisiatif dan semangat yang kuat, sekolah-sekolah marjinal sangat mungkin untuk bersaing secara global. Saat ini sudah ada ratusan sekolah di Yogyakarta, Semarang, Tebuireng, Tangerang, hingga beberapa kota di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan yang menjadi sekolah model GSM. Ketika gerakan ini terus dilakukan secara konsisten, bukan tidak mungkin segala kesenjangan yang ada pada pendidikan di Indonesia pada akhirnya akan hilang.

“Apa yang dilakukan oleh GSM pada sekolah di Indonesia melalui framework dan metodologinya ini dapat diadopsi di negara berkembang lainnya,seperti India dan Singapura” Tandas Menteri Pendidikan Victoria, James Merlino menutup kunjungan siang hari itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: