Loading...
Inspirasi GSM

Menilik Ulang Konsep Belajar Dari Rumah

Masa pandemi benar-benar memberikan kebiasaan baru di bidang pendidikan. Orang tua yang biasanya memberikan kepercayaan penuh pada sekolah untuk mendidik anak-anaknya, kali ini orang tua “dipaksa” untuk ikut serta dalam mendidik anak di rumah. Tidak jarang ini menjadi tantangan tersendiri. Sebagian justru menganggap hal ini adalah hambatan. Sebab, selama ini sistem pendidikan Indonesia tidak mendorong terjalinnya konektivitas orang tua dengan sekolah. Sehingga, fenomena orang tua mengeluh dalam menemani anaknya belajar di rumah menjadi hal yang dapat diwajarkan. Melihat fenomena ini, perlu bagi kita semua berfikir ulang tentang makna Belajar dari Rumah dan bagaimana pelaksanaan seharusnya.

Kebanyakan orang gagal memahami konsep Belajar Dari Rumah yang sebenarnya. Dalam edaran Kemendikbud No.4 Tahun 2020, yang ditekankan dari konsep ini adalah proses pendidikan yang bermakna, tidak hanya berfokus pada pencapaian kognitif. Kenyataannya, sejak awal BDR ditetapkan hingga sekarang, tidak jarang ditemukan BDR dilakukan dengan berpindah platform dari tatap muka ke daring, sedangkan konten pendidikan tidak ada yang berubah. Sehingga banyak guru memberikan tugas dan anak menerima tugas tidak hanya dari satu guru dalam sehari. Akibatnya anak-anak menjadi semakin tidak senang belajar, orang tua menjadi semakin bingung menghadapi anaknya yang malas belajar.

Kemungkinan yang terjadi banyaknya orang yang gagal memahami konsep Belajar Dari Rumah karena kurang jelasnya pendidikan bermakna yang dimaksud. Apa yang dimaksud dengan pendidikan bermakna ini? Kata bermakna terlalu luas untuk dipahami dan dijadikan sebagai sebuah acuan. Sehingga, kemungkinan utama yang diperlukan untuk meminimalisir terjadinya salah paham dalam konsep BDR adalah menemukan arti dari pendidikan yang bermakna.

Seperti yang telah diketahui, pendidikan selama ini kurang berpedoman pada pendekatan kemanusiaan. Hal ini dapat menjadi kemungkinan alasan mengapa kebanyakan orang sulit menemukan arti pendidikan bermakna tersebut. Dalam pelaksanaan pembelajaran, kebanyakan siswa dan guru selalu dihadapkan pada pencapaian standar akademik dan administrasi. Sedangkan, keterlibatan guru dan siswa dalam kebijakan sekolah, interaksi antara siswa, guru dan orang tua tidak menjadi sorotan utama yang harus dikembangkan dalam pencapaian sistem pendidikan kita. Tentu ini menjadi masalah besar ketika konten pendidikan yang sama dipindah begitu saja dalam pembelajaran daring karena siswa akan semakin sulit mengasah keterampilan sosial dan emosinya, serta anak semakin tercerabut dari lingkungannya.

Perlu adanya pendidikan yang menyentuh pendekatan kemanusiaan untuk menemukan arti dari pendidikan yang bermakna tersebut. Seperti halnya yang sedang dipersiapkan oleh guru-guru penggerak GSM, konsep pembelajaran di masa online berusaha diterjemahkan melalui berdiskusi bersama untuk membuat kurikulum HBL (Home Based Learning). HBL dimaknai sebagai rumah menjadi pusat pendidikan dan lingkungan menjadi ekstraksi bagi pusat pendidikan. Sehingga, pembelajaran kontekstual dapat dirasakan dengan adanya dorongan untuk menangkap persoalan-persoalan di rumah, keluarga, serta lingkungan.

Prinsip utama yang seharusnya dipegang dalam proses Belajar Dari Rumah yaitu pembelajaran yang tidak memberatkan dan sesuai dengan kondisi lingkungan. Siswa harus terlibat aktif dalam rencana pembelajaran, contohnya pembuatan jadwal harian. Hal ini dilakukan agar siswa diberi keleluasaan untuk menyesuaikan rencana pembelajaran sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing sehingga menghindari anak dari adanya beban belajar. Tidak kalah penting, orang tua harus dijadikan teman guru dalam proses pembelajaran agar orang tua dapat merasa terlibat secara fisik dan emosi terhadap perkembangan anak. Dengan prinsip-prinsip ini, arti dari pendidikan bermakna dapat dirasakan dalam proses pembelajaran Belajar Dari Rumah.

Develop and Design by Deep Red
%d bloggers like this: