Loading...
Ruang Refleksi

Mengabdi Dari Hati: Sebuah Refleksi

Gerakan Sekolah Menyenangkan, atau yang sering disebut dengan GSM, adalah sebuah gerakan sosial yang bergerak di bidang pendidikan.  Gerakan ini berbasis akar rumput yang berperan untuk menggerakan dan berjuang di sekolah-sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang ada.

Pertama kali tahu tentang GSM ketika Bu Novi, yang merupakan dosen saya di UGM dan juga merupakan co-founder GSM, mengajar di mata kuliah tentang intervensi sistem pendidikan. Pada saat itu, Beliau memaparkan tentang fakta-fakta sistem pendidikan di Indonesia dan seperti apa sistem pendidikan semestinya diterapkan. Faktanya, sistem pendidikan kita lebih berorientasi pada pencapaian akademik semata dan melupakan aspek pendidikan yang lain seperti emosi, life-skill, well-being, dan aspek-aspek penting lainnya. Bahkan, bisa dibilang sistem pendidikan kita lupa untuk menanyakan “bahagiakah siswa belajar di sekolah?”. Sejak saat itulah saya punya keinginan di dalam hati untuk belajar lebih banyak dari Bu Novi dan juga dari GSM. Hingga, sampailah pada suatu hari ketika saya berdiskusi dengan Bu Novi dan beliau menawarkan saya untuk ikut berpartisipasi menjadi volunteer di GSM, “Ahh rasanya bahagia sekali!”.

Kebahagiaan saya semakin bertambah usai saya masuk di GSM. Nyatanya, saya benar-benar banyak belajar. Apalagi, saya boleh memilih untuk masuk di divisi manapun yang sesuai dengan passion saya. Saya memilih divisi kurikulum, yakni sebuah divisi yang bertugas untuk membantu sekolah-sekolah binaan GSM dalam menyusun kurikulum. Oleh karena pandemi  Covid-19 yang sangat berdampak pada sistem pendidikan, tugas saya adalah membantu merancang model pembelajaran yang tepat untuk diterapkan selama dan pasca pandemi.

Sejak masuk GSM, saya mendapat akses untuk belajar mengenali sebagian kecil dari kondisi nyata pendidikan di Indonesia melalui sekolah-sekolah binaan GSM. Saya mengenal guru-guru dari berbagai sekolah binaan GSM dan banyak mendapatkan informasi tentang bagaimana sistem pendidikan kita (di Indonesia). Saya juga banyak belajar bagaimana menyusun  sistem pembelajaran yang tepat untuk diterapkan, bagaimana agar model pembelajaran itu mampu mencakup segala aspek mulai dari kognitif, socio-emotional, life-skills, adanya keterlibatan keluarga, dan sebagainya. Serta, pembelajaran yang paling penting saya dapatkan tentang bagaimana sebuah model pembelajaran dapat membuat “siswa bahagia untuk belajar, guru bahagia dalam mengajar, dan orang tua dilibatkan tanpa direpotkan”.

Di GSM saya betemu dengan guru-guru hebat yang membuat saya amazed dan terheran-heran. Pandangan saya dulunya sangat pesimis dengan sistem pendidikan di Indonesia dan sering mempertanyakan “Masih adakah guru yang benar-benar mau bergerak menerapkan pendidikan yang semestinya? Masih adakah guru yang mau membuat inovasi pendidikan untuk siswa-siswinya? Masih adakah guru yang bekerja selayaknya guru?”. Di GSM-lah saya bertemu dengan guru-guru tersebut, guru-guru yang saya pertanyakan keberadaannya yang ternyata ada. Sejak saat itu pandangan saya mulai berubah bahwasanya masih banyak orang baik di dunia ini dan masih ada, guru-guru yang mau bekerja dari dan menggunakan hati, berpikir bahwa mendidik itu tidak asal, dan mau bergerak melawan arus”.

Bahkan, banyak di antara guru-guru penggerak GSM yang memiliki kesibukan luar biasa, seperti mengurus anak, mengajar di sekolah, les, siaran, wirausahawan, dan masih banyak kegiatan lainnya tetapi masih mau ikut andil dan aktif mengikuti kegiatan GSM, tanpa ada bayaran sepeserpun. Benar-benar sukarela.

Terimakasih GSM, buat saya, kamu ibarat kawah Candradimuka yang di dalamnya terkandung banyak pembelajaran. Semoga langkah dan gerakmu semakin gesit, manfaatmu semakin meluas, dan cita-cita luhurmu semakin mewujud nyata.

 

Volunteer GSM 2020,

Viska Erma Mustika.

Develop and Design by Deep Red
%d bloggers like this: