Loading...
Inspirasi GSM

Membangun Kultur dan Kemerdekaan Berpikir di Pendidikan

Kemerdekaan dalam pembelajaran tidak cukup diwujudkan dengan membebaskan administrasi, namun harus menjangkau kultur dan alam pikir semua stakeholder pendidikan.

Paradigma sekolah menyenangkan ini turut menyempurnakan gagasan ‘Merdeka Belajar’ dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Jika program Mendikbud akan membebaskan pendidikan dari beban administrasi, GSM melakukan perubahan mulai dari ruang refleksi dan pikiran kritis semua anggotanya. Paradigma memerdekakan nalar pikir inilah yang nantinya akan membawa pendidikan kepada kemajuan.

Manusia pada dasarnya menginginkan kemerdekaan. Anak-anak pun ingin merdeka. Mereka butuh ruang kemerdekaan untuk belajar dan memenuhi kodratnya. Kodrat setiap manusia itu berbeda satu sama lain. Unik. Jadi kalau anak punya minat dan bakat berbeda, seharusnya mereka mampu berkembang sesuai dengan keunikan masing-masing,” ujar Muhammad Nur Rizal, pendiri GSM.

“Sayangnya, sistem pendidikan kita tidak mengakomodasi keunikan-keunikan itu. Pendidikan kita cenderung menyeragamkan dan tidak menyenangkan karena tidak memberi ruang untuk berkembang. Makanya, pendidikan kita tidak menyenangkan bagi anak. Padahal, pendidikan seharusnya membina siswa – dan juga guru – untuk menjadi manusia seutuhnya,” sambungnya.

Untuk perubahan yang berkelanjutan, setiap pengajar diberi kemerdekaan untuk mengembangkan sistemnya sendiri. Guru-guru diajak untuk menjadi independent thinker dan melakukan peer review dalam proses perubahan sehingga mampu membangun dan menjalanan sistem yang disusun secara bersama. Dalam konteks ini, guru tidak hanya diminta untuk mengajar, namun juga membangun kultur ‘Merdeka Belajar’ di sekolah dan komunitas pendidikan sekitarnya.

GSM sebagai gerakan akar rumput di bidang pendidikan telah dan akan terus mengubah paradigma para stakeholder pendidikan yang merupakan peran strategis. Selama ini, ekosistem sekolah menyenangkan hanya didapatkan oleh segelintir orang yang memiliki privilese. GSM mengusahakan kualitas pendidikan yang merata dan berjuang untuk memangkas tajamnya ketimpangan antara sekolah favorit dan pinggiran. Pendidikan berkualitas seharusnya menjadi hak semua anak dan sekolah di Indonesia.

%d bloggers like this: