Loading...
Inspirasi GSM

Kontekstualisasi Pendidikan untuk Mencapai Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan merupakan isu yang perlu diperhatikan dalam rangka menjamin keberlangsungan setiap manusia di dunia. Pada kulwap (kuliah WhatsApp) nasional GSM yang diselenggarakan serentak pada hari Kamis, (30/4), isu ketahanan pangan diangkat utamanya mengenai pentingnya pendidikan ketahanan pangan dalam unit keluarga di masa pandemi.

Sesi ini menyorot pentingnya kontribusi dan sinergi antara pendidik, siswa, dan keluarga dalam mewujudkan ketahanan pangan keluarga di masa pandemi. Maka dari itu, sesi ini mengkritik metode pembelajaran yang terkesan memindahkan sekolah ke rumah yang dinilai tidak kontributif dalam konteks pandemi seperti saat ini. Metode pembelajaran yang demikian justru membebani baik siswa maupun orang tua. Siswa dituntut untuk memahami seluruh materi pelajaran yang berarti juga menuntut orang tua, sebagai pendamping belajar anak di rumah, untuk menguasai seluruh materi. Dampaknya menjadi negatif bagi keharmonisan keluarga.

Kontekstualisasi pendidikan menjadi prinsip pertama dalam pendidikan ketahanan pangan keluarga. Prinsip ini diimbangi dengan pembelajaran yang komprehensif berbasis permasalahan yang aktual. Prinsip kedua adalah riset yang disesuaikan dengan kegiatan orang tua sehingga pendidikan ketahanan keluarga tidak menjadi suatu kegiatan yang terpisah dari kegiatan orang tua yang sudah ada. Selanjutnya, refleksi harus mencapai tercapainya faktor ketahanan pangan dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.

Program problem-based learning seperti ketahanan pangan keluarga ini perlu dikembangkan karena berguna untuk merangsang kemampuan berpikir tinggi. Hal ini karena problem-based learning memberikan ruang bagi pemecahan masalah yang kontekstual yang dapat dilakukan dengan riset baik yang sederhana maupun kompleks. Perwujudan program problem-based learning ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan lima tahap yang disebut 5E.

5E ini meliputi engage, explore, explain, elaborate, dan evaluate yang melibatkan siswa secara aktif. Tahap engage melibatkan siswa dengan mengenalkan konsep serta mendorong rasa ingin tahunya. Pada tahap explore, siswa diajak menyelidiki dan melakukan eksperimen yang berkaitan dengan topik. Siswa diberikan kesempatan untuk menunjukkan pemahaman akan konsep dan menganalisis data yang sudah diperoleh dalam kelompok diskusi pada tahap explain. Pada tahap yang sama, fasilitator dapat membantu memberikan definisi formal dan penjelasan ilmiah. Pada tahap elaborate, eksplorasi dan diskusi analisis data tetap dilakukan. Bedanya, kali ini siswa diberikan kesempatan untuk menerapkan konsep-konsep yang telah diperoleh sesuai dengan konteks isu yang dihadapi. Seluruh kegiatan tersebut kemudian disimpulkan dan dievaluasi pada tahap evaluate.

Pendidikan ketahanan pangan ini harus memenuhi prakondisi yang menjadi awal media komunikasi antara guru dan orang tua, yaitu mengenai tujuan, waktu yang tepat, peran keluarga, tata cara proses, dan portofolio penilaian yang kontekstual. Pemilihan tema pun perlu disesuaikan agar dapat melibatkan seluruh anggota keluarga sehingga dapat membangun pertumbuhan keluarga. Komunikasi pun perlu memanfaatkan berbagai media daring dan luring namun sebisa mungkin memaksimalkan media luring.

Jika sudah mampu diwujudkan dalam keluarga masing-masing, kolaborasi antarkeluarga pun perlu didorong. Kolaborasi antarkeluarga ini menjadi titik awal ketahanan sosial dalam skala yang lebih luas. Dengan tujuan besar ini, kerangka pendidikan ketahanan pangan ini perlu mengantisipasi keluarga-keluarga yang belum siap menjalankannya. Selain itu, bagi sekolah berbasis mata pelajaran, pendidikan ketahanan pangan ini idealnya menjadi ajang kolaborasi antarmata pelajaran. Kolaborasi ini memberikan pemahaman bahwa aplikasi mata pelajaran di kehidupan nyata berkesinambungan alih-alih terpisah-pisah sekaligus memberikan kesempatan untuk merasakan langsung manfaat ilmu yang dipelajari di sekolah bagi permasalahan-permasalahan di sekitar kita.

Elivia I’anati, Magelang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Develop and Design by Deep Red
%d bloggers like this: