Loading...
Inspirasi GSM

[Cakrawala GSM] Pemimpin yang Baik adalah Dampak dari Pendidikan yang Baik

Terminologi “kepemimpinan” mungkin cukup jarang ditemukan pada konteks pendidikan anak. Menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada anak bukan berarti melatih dia untuk menjadi presiden atau gubernur, namun lebih menekankan pada kemampuan anak dalam mengontrol dirinya sendiri, menyelesaikan masalah, bertanggung jawab dan empati pada orang-orang di sekitarnya.

Perdebatan yang selalu menyertai ketika kita membicarakan mengenai kepemimpinan adalah apakah pemimpin itu memang “born leaders” ataukah “learn to be leaders”? Mari abaikan perdebatan tersebut dan mari kita melihat kembali prinsip psikologi perkembangan anak yang menyatakan bahwa anak-anak memiliki plasticity yang memungkinkan dia untuk menyerap dan mempelajari suatu kemampuan tertentu. Apalagi kepemimpinan adalah kemampuan yang tidak bisa dicapai dengan sekejap, melainkan merupakan sebuah life-long process yang harus dibiasakan sejak dini.

Dibutuhkan orang tua dan guru yang mendukung dalam mengembangkan jiwa kepemimpinan ini pada anak. Dalam praktiknya, sebenarnya Gerakan Sekolah Menyenangkan secara tidak langsung sudah mendukung lahirnya jiwa kepemimpinan tersebut. Pembiasaan anak-anak untuk berani dan merasa aman berbicara mengeluarkan pendapatnya dalam circle time, kemampuan problem solving dalam pendidikan yang kontekstual, sikap prososial dalam kelas berbagi, sikap guru yang demokratis, dan juga kerjasama tim yang dibangun ketika mengerjakan proyek di kelas merupakan aspek-aspek yang mendukung lahirnya jiwa-jiwa pemimpin dalam diri anak.

Jika terus dibiasakan, aspek-aspek ini akan menjadi bekal bagi anak-anak untuk menjadi pemimpin masa depan yang berintegritas dan berkarakter. Hal ini mungkin juga menyadarkan kita betapa besarnya kontribusi pendidikan dalam membentuk seorang individu karena pemimpin yang baik adalah dampak dari pendidikan yang baik pula.

Saat ini kita sudah terlalu banyak melihat pemimpin yang tidak jujur dan hanya memikirkan keuntungan bagi segelintir golongan. Fenomena ini bisa saja terjadi karena pendidikan kita selama ini mungkin kurang memanusiakan? Siswa dituntut untuk terobsesi mendapatkan nilai yang tinggi saja dan menihilkan esensi pendidikan yang sebenarnya. Siswa-siswa jarang dilatih untuk berpikir kritis dan mengungkapkan pendapatnya, banyak siswa menjadi rela berbuat tidak jujur demi nilai yang tidak sebenrapa, banyak siswa yang minim nurani karena lingkungan sekolah tidak mendukung mereka untuk berlatih empati.

Mungkin tidak semua anak-anak akan menjadi pemimpin di masa depan, semua anak memiliki keinginan dan nasibnya masing-masing. Pada akhirnya, tujuan penanaman jiwa kepemimpinan memang menekankan pada bagaimana anak menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Agar dia mampu mengontrol diri sendiri, menyelesaikan masalah, bersikap jujur, bertanggung jawab dan empati terhadap orang-orang di sekitarnya. Perihal dia nanti menjadi presiden, Menteri, gubernur, walikota, anggota DPR atau ketua RT, anggap saja itu sebagai bonus dari pendidikan yang baik.

[Putri Nabhan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: