content detail

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 2, Part 3)

Post by: 26/06/2015 0 comments 828 views

Workshop bertajuk Membangun “Dynamic and Positive Learning Environment” di Sekolah sebagai Wujud Implementasi Gerakan Sekolah Menyenangkan diselenggarakan selama tiga hari, yaitu tanggal 9 – 11 Juni 2015 (Baca: Guru Australia Isi Workshop Sekolah Menyenangkan). Pada hari kedua workshop, ketiga pembicara, Brad, Josie, dan Joanne, mengisi materi tentang student engagement dan student centered learning. Untuk itu, ada empat hal yang ditekankan oleh pembicara, yaitu project based learning, open ended mathematics task, go public, serta critical thinking and student questioning.

Setelah kemarin membahas project based learning, open ended mathematics taskgo public, pada bagian ke tiga ini, akan dibahas yang terakhir, yaitu critical thinking. Guru perlu mengerti, bagaimana kekritisan siswa meningkatkan keterlibatannya dalam pembelajaran. Yaitu dengan membiarkan siswa tertarik, lalu berpikir soal jawaban, dan melihat, bagaimana apa yang mereka pelajari diaplikasikan ke dunia nyata.

Biasanya, cara yang dilakukan oleh guru untuk mengembangkan critical thinking adalah dengan think-pair-share. Yaitu, guru memberikan pertanyaan atau tantangan kepada murid, lalu murid memikirkan jawabannya secara individual. Selanjutnya, guru meminta murid untuk berkolaborasi secara berpasangan untuk menghasilkan jawaban yang menurutt mereka paling baik dan lengkap. Yang terakhir, murid diminta untuk membagi jawaban yang telah mereka gabungkan di depan kelas.

Jossie, Brad, dan Joanne menerangkan, ada beberapa hal yang dapat menjadi ciri-ciri pengajaran yang produktif. Yaitu menantang siswa untuk mengerti, bukan mengingat, berupa pertanyaan, merangsang siswa menganalisis, mendorong untuk menciptakan sesuatu, menginterprestasikan, berdiskusi, dan mencari jalan keluar. Selain itu, kelas memiliki tujuan yang jelas dan diorganisir dengan baik. Murid juga diberikan kesempatan untuk memikirkan dan membawa apa yang dipelajari ke dalam situasi nyata, serta merangssang siswa untuk melanjutkan belajar secara mandiri.

Pembicara mengaku menggunakan taksonomi Bloom untuk menggerakkan critical thinking. Taksonomi Bloom adalah sejenis tahapan pemahaman yang menunjukkan peningkatan critical thinking. Ada 6 tahapan di dalamnya, dengan kesulitan yang meningkat seiring tahapan. Tahapan yang terdasar adalah mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevalusi, serta yang terakhir adalah membuat atau menciptakan. Hal itulah yang digunakan guru sebagai tahapan untuk mengajar muridnya dalam berpikir.

Selain itu, dalam mengajar, guru perlu mempertimbangkan kemampuan siswa. Guru perlu tahu sejauh mana siswa sudah mampu menjawab tantangan. Sesuaikan antara level tantangan dengan kemampuan yang sudah dimiliki siswa, serta yang mana yang membutuhkan bantuan dari guru. Sebab jika diberi telalu sedikit dan tantangan terlalu mudah, siswa akan bosan. Tapi jika diberi tantangan yang terlalu berlebihan dan di luar kompetensinya, siswa justru akan cemas.

 

Tulisan ini disarikan dari Workshop Sekolah Menyenangkan 10 Juni 2015

 

About author

Shiane Anita Syarif

Kontributor Gerakan Sekolah Menyenangkan

Website:

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...