content detail

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 1, Part 4)

Post by: 22/06/2015 0 comments 748 views

Sebelumnya:

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 1, Part 1)

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 1, Part 2)

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 1, Part 3)

Workshop bertajuk Membangun “Dynamic and Positive Learning Environment” di Sekolah sebagai Wujud Implementasi Gerakan Sekolah Menyenangkan diselenggarakan selama tiga hari, yaitu tanggal 9 – 11 Juni 2015 (Baca: Guru Australia Isi Workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan ). Pada hari pertama workshop, ketiga pembicara, Brad, Josie, dan Joanne, mengisi materi tentang lingkungan pembelajaran yang positif. Ada beberapa kata kunci yang bisa dilihat dalam membangun lingkungan belajar positif, yaitu student engagement, student inclusion, student ownership, student voice, serta parent partnerships.

Dalam menciptakan lingkungan sekolah yang positif, sekolah juga perlu menanamkan sifat kepemimpinan pada anak. hal ini dilakukan dengan membiarkan siswa merasa bertanggungjawab terhadap sekolah dan proses pembelajaran yang mereka jalani di sekolah. Ada berbagai macam cara untuk membuat anak memiliki kepemimpinan. Misalnya adalah melibatkan anak sebagai petugas persiapan upacara, mengajak anak untuk turut memelihara binatang peliharaan sekolah,  dan sebagainya.

Salah satu hal menarik yang juga melatih kepemimpinan adalah adanya program buddies. Dalam program ini, anak yang lebih muda atau baru pindah ke sekolah tersebut diberi satu teman dari kelas yang lebih tua. Tugas buddies adalah membantu adiknya, untuk memperkenalkan sekolah baru atau untuk membantu ketika adik mengalami permasalahan. Jika ada permasalahan, maka kakak buddy lah orang pertama yang akan membantu, jika masalahnya lebih berat, baru akan ditangani guru.

Program ini pun cukup efektif untuk menekan adanya bullying dari kakak kelas ke adiknya. Joanne menerangkan, di Clayton North Primary School (CNPS), bullying bukan berarti tidak ada, tetapi sekolah berusaha menjaga agar angka bullying berada di level yang paling rendah. Usaha lain untuk menekan bullying adalah dengan menempelkan cara-cara menghadapi pelaku bullying di dalam kelas sebagai bagian dari dekorasi kelas. Hal ini membuat setiap anak sadar bahwa ada perilaku-perilaku tidak menyenangkan yang bisa menjadi bullying di sekolah, dan seharusnya dihindari.

Ada 5 tahap yang bisa dilakukan ketika menghadapi pelaku bullying, yang pertama adalah abaikan saja, tidak perlu ditanggapi. Yang kedua, pergi menjauh ketika pelaku melakukan hal yang tidak menyenangkan. Tahap ke tiga dan keempat adalah mengatakan pada pelaku untuk berhenti karena kita tidak menyukainya. Dan yang terakhir, jika pelaku masih mengulangi hal yang sama, laporkan ke guru. Adanya beberapa tahap sebelum anak melaporkan pelaku bullying ke guru adalah salah satu cara untuk melatih anak berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri sebelum melaporkan kesulitan yang dialaminya kepada guru.

Tugas guru dan sekolah adalah mengajari anak-anaknya bagaimana cara menghadapi pelaku bullying. Mengajari bagaimana cara anak mengatakan bahwa ia tidak suka dengan perilaku pelaku bullying, dengan cara yang tepat, sehingga tidak menambah masalah jika pelaku merasa tidak terima. Selain itu, perlu juga mengajari anak untuk belajar menghadapi hidup dalam lingkungan social dan menekankan nilai sekolah. Guru pun diharapkan tidak langsung melakukan cap pada anak yang dianggap nakal. Cari juga hal positif dari anak yang mungkin dianggap nakal, dan kembangkan hal tersebut, agar anak tidak berkembang ke arah yang lebih negatif.

Hal terakhir yang menjadi fokus lingkungan sekolah yang positif adalah kontribusi dari orang tua. Bagi sekolah, orang tua siswa adalah partner untuk membantu siswa belajar. Yang dilakukan oleh CNPS adalah membiarkan orang tua masuk ke kelas dalam beberapa kesempatan dan merasa diterima di sekolah. Selain itu, orang tua pun menjadi bagian untuk dimintai pendapat soal kebijakan sekolah.

Komunikasi guru dan orang tua dalam perkembangan anaknya pun merupakan hal yang penting. Sesekali, ajaklah orang tua untuk melihat hasil belajar siswa, misalnya prakarya, laporan, dan sebagainya. Keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran, dapat mengurangi pandangan negatif yang mungkin ada pada sekolah.

 

Tulisan ini disarikan dari Workshop Sekolah Menyenangkan 9 Juni 2015. Day 1, Selesai.

About author

Shiane Anita Syarif

Kontributor Gerakan Sekolah Menyenangkan

Website:

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...