content detail

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 1, Part 3)

Post by: 19/06/2015 0 comments 842 views

Sebelumnya:

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 1, Part 1)

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 1, Part 2)

Workshop bertajuk Membangun “Dynamic and Positive Learning Environment” di Sekolah sebagai Wujud Implementasi Gerakan Sekolah Menyenangkan diselenggarakan selama tiga hari, yaitu tanggal 9 – 11 Juni 2015 (Baca: Guru Australia Isi Workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan ). Pada hari pertama workshop, ketiga pembicara, Brad, Josie, dan Joanne, mengisi materi tentang lingkungan pembelajaran yang positif. Ada beberapa kata kunci yang bisa dilihat dalam membangun lingkungan belajar positif, yaitu student engagement, student inclusion, student ownership, student voice, serta parent partnerships.

Pada part ke 3, akan dibahas soal student voice, yaitu bagaimana anak-anak diberikan kesempatan untuk berkontribusi pada apa dan bagaimana ia belajar. Anak diberi ruang untuk memberikan ide bagaimana mereka belajar, mengatur ruang kelas, serta memilih bagaimana memamerkan hasil belajarnya. Fasilitas dan tempat untuk belajar cukup menunjang sejauh mana anak bisa belajar. Oleh sebab itu, tempat belajar yang digunakan tidak perlu sebatas ruang kelas, tetapi juga membawa anak ke luar kelas. Biarkan mereka mengenal lingkungan mereka, dan mempraktekkan apa yang mereka pelajari ke luar kelas, sehingga dapat berkembang menjadi ketrampilan hidup, tidak hanya sebatas teori.

Suara anak menjadi penting dilakukan untuk membuat anak terikat dengan lingkungannya. Dengan merasa dilibatkan, serta merasa menjadi bagian dari komunitasnya. Hal tersebut perlu dibangun sejak dini, dimulai dari dalam kelas. Biarkanlah anak-anak berdiskusi untuk menata kelasnya masing masing, sesuai dengan topik pembelajaran yang akan diberikan. Misalnya letak kursi, meja, dan benda-benda lain yang ada di kelas. Hal ini membuat penataan kelas satu dan lainnya akan berbeda sesuai dengan kebutuhan kelas. Meski demikian, anak tidak melakukan hal ini sesuka mereka. Mereka tetap berdiskusi dengan guru sampai terjadi kesepakatan, sehingga anak pun bisa belajar mengutarakan pendapat mereka dengan cara yang baik. Suara anak juga dilibatkan dalam memilih kebijakan di sekolah, misalnya ketika sekolah mengadakan survey, forum, pemilihan kapten sekolah (seperti ketua OSIS, tapi tingkat SD), dan sebagainya.

Untuk mendapatkan suara dan pendapat siswa, siswa perlu dilatih untuk mengeluarkan apa yang ia pikirkan dan merekspresikan diri. Salah satunya adalah dengan presentasi. Presentasi dilakukan dengan media yang bebas. Misalnya saja mempresentasikan mainan, benda, maupun project. Dalam presentasi tersebut, anak dilatih untuk mengutarakan pendapat, serta belajar untuk menghargai ekspresi orang lain.

Setelahnya:

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 1, Part 4)

Tulisan ini disarikan dari Workshop Sekolah Menyenangkan 9 Juni 2015

About author

Shiane Anita Syarif

Kontributor Gerakan Sekolah Menyenangkan

Website:

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...