content detail

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 1, Part 2)

Post by: 17/06/2015 0 comments 863 views

Workshop bertajuk Membangun “Dynamic and Positive Learning Environment” di Sekolah sebagai Wujud Implementasi Gerakan Sekolah Menyenangkan diselenggarakan selama tiga hari, yaitu tanggal 9 – 11 Juni 2015 (Baca: Guru Australia Isi Workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan). Pada hari pertama workshop, ketiga pembicara, Brad, Josie, dan Joanne, mengisi materi tentang lingkungan pembelajaran yang positif. Ada beberapa kata kunci yang bisa dilihat dalam membangun lingkungan belajar positif, yaitu student engagement, student inclusion, student ownership, student voice, serta parent partnerships (Baca: Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 1, Part 1)).

School ownership adalah bagaimana siswa merasa bahwa sekolah yang mereka tempati adalah milik mereka. Hal ini sangat berhubungan dengan student inclusion, dimana anak bisa merasa nyaman dan memiliki keterikatan dengan komunitas yang menjadi tempat belajarnya. Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa hal, misalnya dengan memajang pekerjaan atau hasil prakarya siswa di kelas. Kelas juga bisa membuat nilai dan harapan yang ada di tiap kelas, lalu menempelkan, agar dapat dilihat setiap hari.

Ajak anak untuk membuat pajangan dan hiasan kelas bersama-sama. Meski demikian, perlu diperhatikan pajangan yang dibuat haruslah sesuatu yang ada artinya atau bermanfaat. Aturan yang ada di kelas antara guru dan siswa pun merupakan kesepakatan antara keduanya, sehingga anak merasa bahwa aturan itu merupakan hal yang ia sepakati, bukan hanya sebuah perintah.

Libatkan juga anak dalam kegiatan yang membutuhkan kerjasama dan saling berbagi dalam satu kelas. Misalnya, salah satu contoh yang digunakan Clayton North Primary School (CNPS) membuat sebuah project dengan satu tema besar adalah tema Australia. Tema itu ditempelkan di belakang kelas sebagai tema besar, lalu anak dipersilahkan untuk mengisinya, sesuai dengan apa yang membuatnya tertarik dan apa yang ingin diceritakan. Misalnya anak tertarik dengan sejarah Australia. Maka anak itu boleh membuat alat peraga atau apapun untuk ditempelkan, mengisi tema besar. Ia juga bisa melakukan presentasi dan berbagi dengan teman-temannya. Anak perlu belajar bagaimana menghargai hasil karya orang lain dan saling menolong.

Untuk meningkatkan rasa memiliki, salah satu hal yang digunakan CNPS adalah dengan membuat kelompok (house system) yang beraggotakan anak-anak dari berbagai kelas. Satu sekolah, misalnya dibagi dalam 4 kelompok yang beranggotakan beberapa kelas. Nantinya, mereka dapat dikompetisikan untuk kegiatan-kegiatan positif, misalnya olah raga, kebersihan, dan sebagainya. Hal ini meningkatkan rasa memiliki antar kelompok, dan melatih kemampuan interpersonal anak.

Selain itu, sekolah juga memiliki aturan dan nilai yang ingin ditanamkan dan menjadi dasar di sekolah. Misalnya saja CNPS, mereka memiliki empat nilai, yaitu creativity (kreatif), respect (menghormati), acceptance (penerimaan), dan responsibility (tanggungjawab). Hal inilah yang menjadi dasar aturan yang ada di sekolah. Di CNPS, sebenarnya ada banyak nilai, namun keempat hal ini merupakan nilai yang paling menjadi fokus utama. Yang menarik adalah, nilai ini merupakan hasil dari poling yang diberikan oleh orang tua dan siswa. Di sana lah keterlibatan orang tua, siswa, dan sekolah dalam komunitas sekolah.

Setelahnya:

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 1, Part 3)

Workshop Sekolah Menyenangkan (Day 1, Part 4)

Tulisan ini disarikan dari Workshop Sekolah Menyenangkan 9 Juni 2015

About author

Shiane Anita Syarif

Kontributor Gerakan Sekolah Menyenangkan

Website:

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...