content detail

Workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan (Day 3)

Post by: 06/06/2016 0 comments 657 views

Terus Fokus, Selalu Ada Celah untuk Berubah

Oleh: Fauzan,  Zuqi, &  Qoni

Acara workshop hari ini menghadirkan narasumber baru yang tidak kalah menariknya. Beliau sangat energik, smart, ekspresif dan tentunya semangat sekali. Beliau adalah Ken Catterton. Wakil kepala sekolah Clayton North Primary School, sekolah pemerintah yang mendidik siswa dari berbagai negara. Ken sedianya datang bersama Joanne dan Jesie tempo hari. Akan tetapi Ken baru bisa hadir membersamai kami dihari ketiga ini, karena baru saja mendapat amanah seorang bayi.

Biar ndak ngalamun langsung saja kita ice breaking ya. Eh, maksudnya membahas ice breaking dari Joanne. Hehehe. Joanne kali ini memberikan ice breaking yang mungkin sudah sering kita dengar atau bahkan kita lakukan. Jesie memutar musik, kami diminta untuk berputar-putar, dan ketika musik berhenti Joanne mengucapkan sebuah angka, seketika itu juga kita harus membuat kelompok sesuai dengan angka yang disebutkan Joanne. Jika Joanne menyebutkan angka 3 maka kami harus membentuk kelompok dengan jumlah peserta 3 orang dan jika Joanne menyebutkan 8 maka kami juga harus membentuk kelompok dengan jumlah peserta 8 orang begitu seterusnya.

Apa yang kita pelajari bukan ice breakingnya teman2. Ketika kami selesai berkelompok, dan mungkin beberapa ada yang tidak mendapat kelompok, Joanne langsung memuji kelompok yang tercepat, “your group the fasttest”. Kelompok tersebut mendapat predikat “good student”. Dan Joanne tidak menyinggung sama sekali diantara kami yang tidak mendapat kelompok. Hebat kan teman2.

Ternyata ada makna tersembunyi dibalik itu.  Setiap kali kita mencontohkan ini adalah good student, *maka dengan sendirinya anak akan belajar meniru dan selalu mengingat hal baik/prestasi tersebut.* Luar biasa kan!!?

workshop hari ke 2
workshop hari ke 3 di SD N Percobaan 2

Kali ini Ken sebagai wakil kepala sekolah Clayton North Primary School memberikan pencerahan kepada kami tentang Visi Sekolah. Ken terlebih dahulu memaparkan Visi CNPS, kemudian juga meminta kami menuliskan visi sekolah kami masing2. Setelah ditulis, Ken memberikan cara kepada kami bagaimana menilai visi sekolah kami. _Wah, ternyata visi sekolah juga perlu dinilai teman2_. Bukan dinilai benar dan salahnya lho, *tapi dinilai sudah bagus atau belum visi sekolah kita*.

Parameter yang Ken gunakan untuk menilai ada *bahasa, merepresentasikan komunitas, dan aspirasional*. Kita mah tahunya kalau visi ya diawali kata _terwujudnya_, gitu kan. Hehehehe.
Dari segi bahasa, Ken menuturkan *visi yang bagus panjangnya kurang dari 10 kata.* Ingat ya, 10 kata bukan kalimat. Hahahaha. Sekolah kita gimana!? Kita cek aja bareng2 nanti yuks. Tapi besok aja.

Yang kedua _merepresentasikan komunitas_. Maksudnya, *kalau kita sudah mencantumkan keterlibatan masyarakat dan orangtua dalam visi sekolah, berarti visi kita sudah bagus.* Ken juga sempat memamerkan visi sekolahnya. *A Partnership That Nurtures*. Tuh kan sudah ada partnership berarti mereka selalu melibatkan masyarakat dan berbagai pihak. Kalau tidak ada pelibatan masyarakat dan orangtua, Ken hanya memberi 1 bintang. Kita mungkin malah bersyukur ya dapat bintang, lah kalau kebanyakan bintang di kepala ndak enak to.

_Yang ketiga_, aspirasional. *Visi yang kita susun harus menetapkan target yang lebih baik dari saat ini*. Kita harus berpikir agar sekolah kita tidak hanya good, tapi *excellent pada 5 tahun mendatang*. Pandangannya harus jauh, melihat peluang dan tantangan yang akan sekolah hadapi. Model penilaian tadi akan sangat membantu kita untuk memaknai kata sukses dalam perumusan visi.

Penilaian visi yang Ken contohkan pada kami dimulai dari self assessment. Kita menilai rumusan kita sendiri. Dari segi bahasa apakah good, better ataukah best. Begitu juga dari aspek representasi komunitas dan aspirasional. Metode ini juga dapat digunakan untuk penilaian karya anak2. Biasanya ketika anak2 diminta menilai diri sendiri terlebih dahulu, mereka akan menilai dengan nilai yang rendah.

Setelah self assessment selesai, dilanjutkan dengan peer assessment. Rumusan kita dinilai oleh teman sebaya. Sama dengan self assessment, penilaian juga menggunakan kategori good, better dan best atau kalau menggunakan bintang berarti good 1 bintang, better 2 bintang dan best 3 bintang. Teman sebaya juga harus memberikan saran. Apa yang perlu diperbaiki dari rumusan itu. Baru dikembalikan pada perumus dan diperbaiki. Setelah diperbaiki dinilai kembali oleh diri sendiri, kemudian teman sebaya, diperbaiki lagi, begitu seterusnya sampai menghasilkan rumusan visi yang excellent. Ken menegaskan bahwa, *kalau kita ingin mendapatkan visi sekolah yang excellent, perlu berkali-kali revisi rumusan visi sekolah*.

Ken juga menyampaikan pentingnya metode penilaian seperti ini diterapkan pada anak, *anak akan tahu sukses itu seperti apa, dan akan termotivasi berbuat yang terbaik*. Lalu kenapa dimulai dengan self assessment tidak langsung peer atau bahkan share dalam forum besar, *karena itu akan membuat anak tahu dan lebih mengerti jika dinilai orang lain*. Artinya anak tidak marah dengan penilaian orang lain, karena dia sedikit-banyak tahu kekurangannya pada waktu si anak menilai diri sendiri. Ini yang jarang kita sadari kan!?

#WorkshopGSM_3

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...