content detail

Workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan (Day 2)

Post by: 01/06/2016 0 comments 610 views
Workshop hari ke-2 (Selasa, 24 mei 2016) di SD Muhammadiyah Noyokerten

*FAIL = First Attempt In Learning*

Oleh: Fauzan, Zuqi, & Qoni

.

Workshop dimulai dengan ice breaking yang cukup menarik. Joanne meminta kami untuk berdiri dengan 1 kaki, kemudian Joanne menyampaikan beberapa pertanyaan yang sederhana tentang anggota tubuh. Kita diminta menunjukkan bagian tubuh yang disebutkan Joanne.

Joanne ingin menunjukkan pada kami bahwa keseimbangan akan membantu kita menjadi nyaman. Begitu juga kelas. Tidak hanya siswa yang punya keinginan, tetapi keinginan itu harus diimbangi dengan peraturan. *Jika kelas tidak mempunyai peraturan, anak tidak akan nyaman. Karena anak tidak mempunyai tujuan*. Begitu kata Jesie.

Peraturan kelas yang sudah kita bahas kemarin adalah classroom agreement. Dimana peraturan ini dibuat setiap awal tahun dengan melibatkan seluruh siswa sebagai warga kelas. Nah, ternyata sebelum ada peraturan kelas tersebut, di Clayton North Primary School (CNPS) ada yang namanya Classroom Expectation atau ekspektasi kelas. Kita ingin kelas kita terlihat seperti apa ya. Semua dirembuk dengan warga kelas dan disepakati bersama. Barulah kalau sudah punya keinginan atau ekspektasi tadi, dibuatlah classroom agreement tadi atau peraturan kelas agar ekspektasi kelas tercapai. Ekspektasi kelas harus memakai kalimat yang positif.

workshop hari 2
workshop hari 2

Disinilah peran guru untuk meluruskan atau membetulkan setiap kalimat yang condong pada kalimat negatif menjadi kalimat positif. Contohnya ketika anak menyampaikan usulan ekspektasinya “sesama anak tidak boleh saling menyakiti”, guru bisa memperbaiki kalimat anak misalnya menjadi, “kita harus respek terhadap sesama”. Contoh lain ekspektasi kelas di CNPS misalnya, _kita akan saling memperhatikan, kita akan berbicara sopan, kita akan fokus dan menyelesaikan setiap tugas, kita akan peduli dengan saling menasehati, kita akan peduli dengan barang miliknya dan akan mengembalikan pada tepatnya_.

Josie menjelaskan bahwa anak yang melanggar classroom agreement dan classroom expectation cukup kita beri peringatan/teguran. Dan peringatan itupun tidak boleh disampaikan didepan teman2 nya. Cukup ketika si anak sendirian. Hal ini untuk menjaga kepercayaan diri anak dimata teman2 nya. Karena classroom expectation dan classroom agreement *bertujuan untuk menata keseharian anak*. Berbeda dengan code of conduct, anak yang terbukti melanggar tidak perlu diberi peringatan, melainkan langsung diberi hukuman. Entah itu kerja sosial atau diskors sesuai dengan level pelanggaran yang dilakukan anak. Walaupun berbeda, ekspektasi dan kesepakatan kelas tadi tetap harus sesuai dengan peraturan atau code of conduct.

Materi yang tidak kalah menarik adalah tentang display karya siswa. Yang berbeda dari CNPS adalah, mereka melakukan display karya anak *tidak berpatokan pada sisi artistik* seperti kita, melainkan berpatokan pada tujuan. Kalau kita kan biasanya, “ayo karyanya ditempel biar kelasnya bagus”. Di CNPS semua karya siswa dipajang, baik yang sempurna, maupun kurang sempurna. Hal ini bertujuan agar anak *mengerti akan kerja kerasnya*. Foto kegiatan pun mereka display disetiap sudut kelas. Ada yang ditempel di dinding, jendela, bahkan digantung dengan kawat.

Dengan ditempelnya karya anak2, mereka juga bisa melihat perkembangan belajarnya masing2. Ketika pertama belajar menulis, anak akan melihat tulisannya seperti itu, terkadang banyak yang keliru. Dan sekarang tulisan anak sudah lumayan bisa dibaca. Karya atau hasil kerja yang keliru, tidak perlu siswa perbaiki. Yang penting anak mengerti akan kesalahannya dan besok lagi tidak diulangi. Karena perasaan anak *”Dulu aku pernah salah” itu menjadi hal penting bagi anak*. Salah satu prinsip yang diajarkan Joanne pada anak2 nya adalah FAIL. First Attempt In Learning. Yang artinya kurang lebih *mencoba untuk pertama kalinya adalah belajar*. Singkat & sangat manjur untuk menanamkan pada anak sikap tidak takut gagal. Mencoba dan mencoba terus tanpa menyerah.

workshop hari2
workshop hari2

Sekarang kita masuk ke kegiatan pembelajaran. Clayton membiasakan gurunya untuk menuliskan Learning to Intention atau kalau di sekolah kita disebut indikator. Disana biasanya diawali dengan kata “kita akan mempelajari  . . .”. Misalnya kita akan mempelajari bilangan loncat. Nah, selain Learning to Intention tadi, guru juga menuliskan success criteria atau kalau di sekolah kita namanya tujuan pembelajaran. Biasanya diawali dengan kata “saya bisa. . .”. Kedua komponen ini ditulis guru didepan kelas agar anak bisa membaca dan mengingat terus tujuan pembelajaran hari ini. Sehingga semangat untuk mencapai atau menguasai tujuan pembelajaran mengalir terus. Kalau hanya diucapkan anak dan guru akan mudah lupa. Kedua komponen itu guru ambil dari kurikulum yang dibuat pemerintah. Guru menciptakan kedua komponen itu dengan kalimat sendiri yang mudah anak mengerti.

Setelah anak mengerti akan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan hari ini, anak dipersilakan membuat personal goal, atau target capaian masing2 anak. Anak2 membuat personal goal dengan melihat tujuan pembelajaran dan kondisi anak. Misalnya dalam tujuan pembelajaran tertulis, “saya dapat menghitung bilangan loncat 3”. Anak bisa menulis, “aku bisa menghitung bilangan loncat 3 sampai dengan 42”. Sehingga disini tidak ada anak yang tidak tuntas pada tujuan pembelajaran, yang ada siswa tidak mencapai target yang telah dibuat. Misal targetnya menghitung sampai 40, tapi ternyata waktu evaluasi cuma sampai 30. Akan tetapi walaupun anak tidak mencapai target, anak tetap menyelesaikan tujuan pembelajaran, yang mana dapat disimpulkan kalau mereka telah tuntas.

Kami juga diajari bagaimana cara efektif menukar tempat duduk anak tanpa harus memaksa si A untuk duduk disini dan si B disana. Karena menurut Joanne dan Jesie, pertukaran tempat duduk dapat meminimalisir anak untuk nge-gang. Joanne meminta kami untuk berkumpul sesuai dengan warna baju yang kami pakai. Yang merah berkumpul dengan yang merah, biru dengan biru, dan lain sebagainya. Setelah semua berkumpul sesuai warna, Joanne meminta kami untuk membentuk kelompok yang beranggotakan masing2 warna baju. Ada yang merah 1 orang, biru seorang, hijau seorang dan seterusnya. Jesie menegaskan bahwa dikelas yang kita ampu masing2 bisa diterapkan sesuai konteksnya. Bisa memakai warna kaos kaki, tinggi badan, dan lain sebagainya.

workshop hari 2
workshop hari 2

Joanne dan Jesie juga mengajak kami untuk merasakan suasana kelas yang mereka ajar di Australia. Joanne menuliskan tugas untuk “menghitung dengan pola bilangan loncat”. Tidak lupa Joanne mengajak kami bermain terlebih dahulu dengan permainan tentang bilangan loncat. Setelah itu kami diminta membuat hitungan bilangan loncat. Kami dibebaskan mau membuat bilangan loncat berapa. Bisa 2, 3, 4, dan lain sebagainya. Kami tuliskan dikertas post-it agar bisa ditempel. Joanne memang sudah memperkirakan beberapa siswa akan sama dalam membuat pola. Misalnya si A membuat bilangan loncat 4, si B pun demikian. Akan tetapi yang membedakan disini adalah hitungannya. Misalnya si A hanya sampai 20, si B bisa sampai 30. Dan Joanne selalu membuat pujian yang detail untuk setiap anak didiknya. Tidak lupa hasil kerja mereka ditempel untuk dijadikan pelajaran berikutnya. Perlu kita pahami bersama, *Joanne dan Jesie tidak memberikan nilai dalam bentuk angka, akan tetapi semua diberi penghargaan lewat feedback yang detail kepada setiap anak.* Setelah itu kami diminta berdiskusi untuk membuat pola sendiri dan memberi alasan kenapa memilih pola tersebut. Misalnya waktu itu kami memilih pola bilangan loncat 4. Alasan kami adalah karena kami berjumlah 4 orang dalam satu kelompok.

Joanne memberikan pendapat bahwa dengan anak mengemukakan alasan, anak akan belajar untuk menyampaikan gagasannya masing2.

Di akhir pembelajaran, Joanne meminta anak didiknya untuk membuat self assessment dan ditempel didinding kelas mereka. Melihat dari personal goal yang telah dibuat, sampai mana anak2 bisa mencapainya. Dan tidak lupa juga untuk menuliskan apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana usahanya untuk memperbaiki. Semua anak pastinya menuliskannya berbeda-beda, karena diawal mereka membuat personal goal juga berbeda. Baru setelah itu Joanne memberikan refleksi dan motivasi. Kalimatnya begini, *”Oke, hari ini kalian sudah bisa melakukan yang terbaik.

Walaupun ada yang baru sampai 10 atau 20 tidak apa-apa. Sekarang mari kita tantang diri kita sendiri untuk melebihi apa yang kita hasilkan hari ini”*. Didada kami cukup terasa energi kata-kata itu.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...