content detail

Workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan (Day 1)

Post by: 01/06/2016 0 comments 798 views
Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan Clayton North Primary School (CNPS), mengadakan Workshop tentang "Pendidikan yang Menyenangkan dan Manusiawi di Abad 21". Workshop yang berlangsung 23-27 Mei 2016 ini dihadiri puluhan Kepala Sekolah dan Guru SD di Yogyakarta yang tergabung dalam Calon Sekolah Model GSM. Pembicara workshop adalah tiga orang guru yang didatangkan langsung dari Clayton North Primary School (CNPS), Australia, yaitu: Joanne Weston, Jossie Burt, dan Ken Chatterton. Workshop hari pertama dilaksanakan di Gedung Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sedangkan hari ke-2 sampai hari ke-5 dilaksanakan di sekolah-sekolah pilihan GSM.

*Belajar Bersama Guru Clayton North Primary School Australia*

_oleh: Fauzan, Zuqi, Qoni_

backdrop Workshop hari 1
backdrop Workshop hari 1

(Senin,23 Mei 2016) Belajar bersama praktisi jelas berbeda dengan profesor ataupun dosen. Tidak banyak teori yang beliau sampaikan. Beliau adalah Joanne Weston Leading Teacher Early Years, atau terjemahannya kira2 Kepala Guru Kelas Bawah, dan Josie Burt, Dolphin Teacher atau Guru kelas Lumba-lumba. Jadi disana kelasnya diberi nama hewan kesayangan anak2. Tidak ada kelas 1, 2, dan lainnya.

Modul 1 Workshop hari 1
Modul 1 Workshop hari 1

Beliau banyak menyampaikan langkah-langkah strategis untuk mencapai kategori “sekolah menyenangkan”. Beliau juga melengkapinya dengan hasil penelitian beliau tentang faktor penentu keberhasilan sekolah menyenangkan.

Salah satu yang menjadi faktor penting dalam penelitian beliau adalah Feedback atau tanggapan. Bagaimana cara menanggapi ketika siswa bertingkah lucu, ketika siswa melanggar aturan, ketika siswa dapat menjawab pertanyaan, dan lain sebagainya. Feedback bisa dilakukan guru ke siswa ataupun antar siswa. Feedback yang detail akan membantu siswa meningkatkan diri. Tidak hanya sekedar dengan kata “bagus” atau “oke”.

13335380_953296588123351_487589128_n

Feedback juga akan membantu meningkatkan hubungan emosional guru-siswa. Karena sekolah menyenangkan harus memperhatikan beberapa hal berikut ini:
1. Ruang emosional siswa
2. Hubungan guru-siswa & siswa-siswa
3. Rasa aman dan percaya diri dalam belajar, dan
4. Keterikatan dalam pengalaman

kegiatan workshop hari 1
kegiatan workshop hari 1

Class size_ menjadi faktor penentu kedua sekolah menyenangkan. Kelas yang menyenangkan adalah kelas yang kecil. Dalam artian siswanya tidak banyak. Dalam video yang diperlihatkan ke kami, Joanne membandingkan kelas Basa Jawa pada salah satu sekolah di Sleman, dan kelas Matematika Clayton North PS. Dikelas Basa Jawa, siswanya banyak sekali. Kalau ditaksir ada 30an, ruang kelas penuh. Sedangkan di Clayton, ruang kelas yang dipakai hanya separo saja. Siswa duduk lesehan melingkar dengan papan tulis kecil macam pelukis. Jumlah siswanya hanya berkisar 15 siswa. Dalam kelas Basa Jawa terlihat sekali suasana yang membosankan, guru kurang memperhatikan siswa, dan lain sebagainya. Sedangkan di kelas Matematika, siswa begitu antusias. Karena siswa tidak banyak, guru dapat leluasa memperhatikan satu persatu siswanya.

workshop hari 1
workshop hari 1

Training Teacher menjadi faktor ketiga penentu keberhasilan program sekolah menyenangkan. Guru memang perlu dilatih secara terus-menerus. Tapi kalau tidak dilaksanakan pemberian dan pembudayaan “Feedback” dan kebijakan size class ideal, maka menjadi sulit sekolah menyenangkan terwujud.

Sekolah menyenangkan bukan sekolah seenaknya. Justru sekolah menyenangkan punya peraturan untuk menanamkan _moral value_ pada anak menjadi sebuah budaya sekolah. Di Clayton sendiri ada beberapa kemasan peraturan yang dibuat secara demokratis, melibatkan banyak pihak. Yang pertama_ peraturan dalam bentuk *Student Engagement Policy* artinya kurang lebih Kebijakan Keterikatan Siswa . Kalau di kita namanya mungkin visi dan misi lah. Tapi visi tersebut memang konsen untuk membuat anak tertarik di sekolah, utamanya dalam pembelajaran dan seluruh kegiatan sekolah.

Foto workshop hari 1 di Dinas Dikpora DIY
Foto workshop hari 1 di Dinas Dikpora DIY

_Yang kedua_, peraturan dalam bentuk *Code of Conduct* atau kesepakatan dalam berperilaku. _Yang ketiga_, peraturan bentuk *Golden Rules* atau kata kunci. Kedua peraturan ini disusun melibatkan seluruh guru dan orangtua, baik secara langsung maupun tidak langsung. Makanya tidak heran, menyusun keduanya dilakukan dalam waktu satu tahun. Satu tahun bukan karena tidak digarap, tetapi mereka begitu memperhatikan Feedback dari orang tua dan guru. Setiap minggu digarap, didiskusikan dan dikonsultasikan. Bayangan kami, bertemu dan berdiskusi dengan guru dan orang tua tidak hanya sekali dua kali, tapi berpuluh-puluh kali.

Joanne dan Jesie menyampaikan bahwa “berubah itu tidak perlu buru-buru, yang penting tahan berkelanjutan”.

Code of conduct bentuknya sama dengan peraturan akademik yang kita punya, tetapi sekali lagi konsennya pada perilaku. Ada tindakan dan konsekuensinya. Juga ada level dari tindakan, ada ringan, sedang dan berat. Semisal di level ringan ada tindakan “meludah permen karet”, konsekuensinya anak mendapat hukuman social community atau hukuman sosial. Membantu orang lain yang sudah ditentukan sekolah. Entah membantu Pak Bon menyapu lantai, atau membersihkan dapur. Di level sedang ada tindakan membolos, konsekuensinya anak harus apa. . . Sehingga anak akan berpikir “kalau aku meludah, sudah siap belum aku menjalani social community!!??”. Disini tidak menutup kemungkinan anak akan mencoba untuk melakukan tindakan pelanggaran tersebut, tetapi itu hanya akan berjalan dua tiga kali. Karena ketika konsekuensinya adalah perbuatan kebaikan, maka hati anak akan terbuka.

Kalau Golden rules ini sangat singkat tetapi padat maknanya. Mudah diingat anak. Ada Respect, Creativity, Responsibility, & Acceptance. Golden rules ini terpampang di berbagai sudut sekolah. Setiap satu siswa yang terlihat melakukan salah satu Golden rules akan mendapat penghargaan dari kepala sekolah. Begitu seterusnya sampai membentuk budaya.

workshop hari 1
workshop hari 1

Yang keempat adalah peraturan berbentuk *Classroom Agreement*. Perjanjian kelas. Peraturan ini disusun oleh guru dan siswa di masing2 kelas. Kita sering mendengarkan ini, akan tetapi sekali lagi bedanya ini konsen pada perilaku siswa. Contohnya “in our class, we care about our environment” terjemahannya kira2 begini “dikelas kita, kita peduli dengan lingkungan”. Ada juga “in our class, we celebrate each other’s success”. Dikelas kita, kita merayakan setiap kesuksesan orang lain. Bukan berarti cukup orang lain juara, aku sudah bahagia. Tapi kita ikut peduli dengan kesuksesan orang lain. Nantinya akan tumbuh kepedulian pada kemalangan orang lain.

Classroom agreement ini disusun setiap awal tahun. Kelas yang berbeda, maka peraturannya juga berbeda. Walaupun pasti ada yang sama. Semua dibicarakan dengan anak2 dikelas, dan hasilnya dilaporkan ke orangtua dirumah. Sehingga sinkron antara yang ingin dibudayakan sekolah dan pelaksanaan dirumah. Seperti penuturan Kabag. Dikdas Dikpora DIY, beliau bapak Didik Wardoyo adalah “Tri pusat yaitu sekolah, rumah dan masyarakat”.

workshop hari 1
workshop hari 1

Akhirnya, selesai sudah yang dapat kami sampaikan. Mohon maaf kalau terlalu panjang, ini menandakan bahwa setiap sesi workshop ini sangat menarik dan berguna bagi kita semua.

Terimakasih atas perhatiannya.

.

.

oleh: Fauzan, Zuqi, Qoni (SD NU Yogyakarta) . Salah satu calon sekolah model GSM yang menjadi peserta workshop.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...