content detail

Wawancara dengan Muhammad Nur Rizal, Perhimpunan Indonesia Belajar

Post by: 25/03/2015 0 comments 959 views
Indonesia Belajar in Melbourne earlier this year.
Indonesia Belajar in Melbourne.

Pendidikan adalah salah satu hal yang terpenting dalam kehidupan kita, terutama bagi orang yang tidak mampu. Menagapa? Karena pendidikan bisa membantu anak-anak mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Perhimpunan Indonesia Belajar (PIB) adalah organisasi yang “membantu anak usia sekolah yang tidak mampu di seluruh Indonesia dalam mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas...” Ini wawancara saya bersama dengan Ketua PIB Muhammad Nur Rizal.

Secara ringkas, bisa anda menceritakan tentang Program Indonesia Belajar (IB)?

Perhimpunan Indonesi Belajar (PIB) adalah Rumah Bersama untuk memajukan pendidikan Indonesia melalui penguatan kerjasama dengan perseorangan dan institusi pendidikan di Australia. PIB dikelola oleh para kandidat PhD dari berbagai universitas di Australia dan kalangan professional.

PIB mengajak seluruh elemen masyarakat, baik di Indonesia maupun di Australia, untuk bergandengan tangan berkontribusi mewujudkan pendidikan Indonesia yang berkualitas, berkeadilan, inklusif dan memiliki sinergi antara pembelajaran global dengan kearifan lokal.

Pak Rizal mendapat ide atau inspirasi IB dari mana?

Kami terinspirasi dengan pola dan paradigm pendidikan dasar di Australia yang mampu membuat anak-anak kami senang dan mencintai sekolahnya.

Ketika liburan tiba, mereka kebingungan dan menginginkan segera bertemu dengan teman-temannya di sekolah. Tidak jarang kami keliling mendatangi berbagai “public library” di sekitar tempat kami tinggal untuk membaca dan menulis (review) bacaan apa saja yang telah mereka lahap.

Kebetulan kami memiliki 3 orang puteri yang duduk di Grade 7, Grade 4 dan Grade 1. Berbekal penasaran kami, secara rutin kami mendatangai acara “Assembly” yakni sejenis upacara yang diselenggarakan setiap minggu oleh primary schools (hari Senin atau Kamis) untuk memberikan berbagai penghargaan kepada murid-murid dari grade (prep) hingga grade (6) yang telah melaksanakan nilai-nilai sekolah mereka, seperti “respect each other”, “integrity”, “honesty”, “care”, “read and learning” dan berbagai tugas dan karakter positif lainnya.

Hal ini yang sangat membedakan dengan sekolah di Indonesia, dimana penghargaan lebih diorientasikan kepada anak atau siswa yang memiliki nilai baik di mata pelajaran tertentu seperti matematika atau ilmu alam atau yang memiliki peringkat tinggi di kelasnya. Hampir tidak pernah aspek penghargaan disematkan kepada mereka yang memiliki karakter positif dan gemar membantu atau membuat suasana ceria di antara teman-temannya.

Kalau tidak salah IB mempunyai dua cabang di Australia, satu di wilayah Victoria dan satu di Australia Barat. Apakah ada rencana untuk membangun cabang IB di setiap negara bagian atau state di Australia?

Agar gerakan Indonesia belajar semakin dikenal dan memberikan efek signifikan, kami akan terus bekerjasama dengan berbagai pihak agar terus tumbuh dan meluas di seluruh Australia dan Indonesia.

Apakah kira-kira program jangka pendek dan jangka panjang untuk IB?

Saat ini IB memiliki 3 program utama yakni (a) Gerakan Orang Tua Asuh atau beasiswa kepada siswa SMA kelas 1 hingga lulus (b) Program Pendampingan kepada penerima beasiswa dan (c) Promoting sekolah yang menyenangkan dan berkarakter.

Untuk program beasiswa, pada tahun 2013 kami membiayai 50 siswa dari 20 kabupaten/kota di Indonesia dan tahun 2014 ini, kami menargetkan untuk menambah jumlah hingga 100 siswa berasal dari berbagai wilayah berbeda di Indonesia.

Terkait program pendampingan, kami telah melakukan korespondensi ke sebagian siswa pada tahun lalu, dan pada tahun 2014 ini, kami telah bekerjasama dengan PPIA Australia untuk menambah jumlah Mentor/Pendamping agar dapat mendampingin hingga 100 siswa tersebut. Selain itu, kami juga sedang mempersiapkan kegiatan Pendampingan by Post Card bersama PPIA Victoria yang akan di launching di bulan Agustus ini di acara Panggung Merdeka. Kegiatan ini mengundang seluruh pelajar yang tergabung di PPIA Victoria untuk menuliskan surat harapan, motivasi, memberikan wawasan tentang pendidikan di Melbourne atau Australia. Harapannya kegiatan ini akan dapat meningkatkan partisipasi pelajar yang akan bergabung dalam gerakan IB ini. Dalam waktu dekat, kami juga sedang menyiapkan tim yang akan membuat newsletter yang akan disebar ke seluruh siswa penerima beasiswa dan sekolah tempat mereka belajar.

Untuk program ketiga, saat ini kami masih terus mensosialisasikan kepada seluruh pelajar dan masyarakat untuk menuliskan berbagai pengalaman bagaimana sekolah Primary schools di Australia mendidik, menekankan aspek pendidikan karakter dalam setiap kegiatan belajar-mengajarnya yang kami muat di website IB www.indonesia-belajar.org. Dalam waktu dekat, kami akan meluncurkan buku perdana IB yang berjudul: “Sekolah itu Asyik” yang akan kami distribusikan ke guru-guru di Kabupaten paser, ke sekolah-sekolah Indonesia melalui Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Pada bulan September 2014 ini, kami juga akan bekerjasama dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Yogyakarta untuk mengadakan workshop dan training kepada calon-calon guru dan guru-guru di beberapa sekolah di Yogyakarta tentang bagaimana menerapkan konsep dan pelatihan pendidikan karakter di setiap aktivitas belajar di sekolah (khususnya SD) berdasarkan best practises dari Australia. Kegiatan ini diharapkan menjadi pilot project, yang jika berhasil diharapkan dapat diterapkan secara nasional (national-wide) bersama universitas-2 dan sekolah-2 lainnya di Indonesia.

Bagaimana teman-teman AIYA bisa mendukung IB?

AIYA adalah salah satu komunitas yang kami harapkan dapat bekerjasama secara erat. Sehingga selain membantu program IB, kerjasama ini diharapkan dapat meningkatkan hubungan people-to-people relation antara Indonesia dan Australia melalui aktivitas pendidikan.

Anggota AIYA sekaligus menjadi Pendamping atau “Penpal” dengan melakukan korespondensi baik melalui email atau facebook atau post. Korespondensi dapat berupa pertukaran budaya, bahasa, sekolah ataupun informasi lainnya yang bermanfaat dan meningkatkan hubungan kedua negara atau masyarakat.

 

Gambar dan tulisan disusun oleh Tim Flicker, tulisan ini pernah dimuat di www.aia.org.au. Selengkapnya dapat dilihat di sini.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...