content detail

Untuk Mencegah Bully di SD Jepang dan Australia, Senior Jadi Pelindung Adik Kelas

Post by: 09/03/2015 1 comments 1211 views
sumber: http://web1.uisd.net/
sumber: http://web1.uisd.net/

Adakah diantara anda yang dulu kerap dinakali dan dikerjai oleh kakak kelasnya di SD yang ukuran tubuhnya sudah jauh lebih besar daripada ukuran tubuh kita saat itu? Seringkali mereka melakukannya beramai-ramai? Uang jajan kita diminta dengan paksa? Mereka berbuat jahil, mengejek dan mentertawakan kita hingga malas sekali rasanya berangkat ke sekolah di pagi hari? Semua kenakalan-kenakalan kakak kelas terpaksa menjadi bagian dari kehidupan kita, tanpa berani lapor kepada bapak/ibu guru? Bahkan ketika melapor, kenakalan mereka justru makin menjadi-jadi, terutama dilakukan diluar sekolah? Ketika bel tanda istirahat siang berbunyi, kita malas keluar kelas, tapi lama-kelamaan malas juga bertahan di dalam kelas?

Bicara tentang bully di SD, saya jadi teringat suatu peristiwa di tahun 2010, saat pertama kali anak saya masuk kelas 1 SD di sebuah sekolah dasar negeri di Jepang, yaitu ‘SD Nada’ atau ‘Nada Shougakkou’ di daerah Rokkomichi, di kota Kobe. Dengan kemampuan Bahasa Jepang yang sangat minim, anak seumur 7 tahun harus masuk ke kelas yang dipenuhi oleh anak-anak Jepang yang sama sekali tidak paham Bahasa Inggris, apalagi Bahasa Indonesia. Sebetulnya, perjuangan kami begitu berat untuk meyakinkan dia agar mau masuk sekolah. Anak saya merasa takut tidak punya teman, dan mengalami kesendirian diantara orang-orang asing.

Pada hari pertama masuk sekolah, bisa dibayangkan betapa tertekan perasaannya ketika semua anak tertawa-tertawa mendengar canda gurunya, sedangkan dia hanya bisa terbengong karena tidak tahu apa yang mereka tertawakan.

Dan untuk mempelajari Bahasa Jepang, ternyata sangat membutuhkan waktu dan effort untuk mencapai level tertentu sehingga mampu berkomunikasi dengan orang Jepang. Apalagi, Bahasa Jepang-nya yang diucapkan oleh anak-anak SD di Jepang ternyata jauh lebih sulit dipahami oleh orang asing dibanding ketika diucapkan oleh orang-orang dewasa di Jepang. Anak-anak sepertinya memiliki bahasa slank mereka sendiri. Saya dan ibunya hanya bisa terus berdoa semoga Tuhan memberi kami kekuatan dan kemudahan.

Selang beberapa hari kemudian, guru wali murid kelas anak saya – Ibu Takeuchi – tiba-tiba mendatangi apartemen yang kami tinggali. Pada waktu itu sekitar pukul 6 sore, ketika saya membukakan pintu lalu menemui Takeuchi Sensei (istilah sensei berarti guru atau dokter) berdiri di depan pintu langsung mengucapkan “Sumimasen, sumimasen”, alias ‘maaf, maaf’. Awalnya saya berpikir dia meminta maaf karena mengganggu waktu kami sekeluarga di luar jam kerja. Makanya langsung saya jawab “iie, iie, daijoubu”, yang artinya ‘tidak apa-apa’’.

Namun anehnya dia tetap melanjutkan permintaan maafnya, sambil membungkuk-bungkuk hampir 90 derajat dan menyebut-nyebut nama anak saya. Sedikit-sedikit saya mulai faham mengapa dia sampai seperti itu. Saya pernah mendengar bahwa meminta maaf sambil membungkuk hampir 90 derajat merupakan tradisi di Jepang ketika seseorang meminta maaf atas sebuah kesalahan yang cukup serius, atau menyakiti hati/perasaan seseorang. Pasti tadi siang terjadi sebuah masalah yang cukup serius dengan anak saya di sekolah.

Kemudian saya sempatkan sekilas melirik dan mengamati kondisi anak saya. Hasil pengamatan saya adalah, tidak ada tanda-tanda fisik maupun psikis apapun yang membuat saya kuatir. Dia tetap ceria bermain kereta-kereta-an dengan adiknya.

Justru yang saya simpulkan sementara adalah, anak saya sebenarnya ‘is fine-fine aja’, dan kini malah saatnya saya yang tidak ‘is fine-fine aja’. Karena harus berkonsentrasi penuh mempraktekkan kemampuan Bahasa Jepang saya yang juga masih minim. Dan kali ini harus digunakan untuk membahas sebuah permasalahan serius. Jujur saja, inilah yang justru membuat saya lebih deg-deg-an, hehe. Sejurus kemudian, saya persilakan Ibu Takeuchi masuk ke ruang tamu kami.

Singkat cerita, dia meminta maaf karena anak saya di-bully kakak kelasnya di sekolah. Saya tadinya sempat kuatir juga, tetapi setelah ditelaah lebih jauh, dan saya tanyakan pelan-pelan ke anak saya, ternyata tidak. Sama sekali bukan pem-bully-an. Anak saya tidak menganggap ada masalah serius, apalagi sampai di-bully. Tapi dasar orang Jepang, mereka sangat concern sekali dengan bully di sekolah. Bagi mereka bully adalah masalah yang super serius.

Kejadian yang sebenarnya hanyalah sebuah kesalahpahaman yang diakibatkan salah  komunikasi dalam Bahasa Jepang. Kakak-kakak kelas anak saya tadinya berusaha menerangkan sesuatu kepada anak saya, dituturkan dalam bahasa Jepang tentunya. Namun, anak saya tidak memahami mereka ngomong apa, lalu menjawab sekenanya. Nah, jawaban sekenanya itulah yang membuat mereka mendadak tertawa terpingkal-pingkal. Karena merasa ditertawakan, anak saya jadi agak hopeless karena merasa sulit berkomunikasi, dan menampakkan muka agak ditekuk, lalu seketika itu pergi meninggalkan mereka.

Ternyata, gara-gara mendadak pergi meninggalkan mereka, anak saya tidak menyangka kalau kakak-kakak kelasnya yang tadinya tertawa terpingkal-pingkal mendadak berubah menjadi khawatir dan dicekam ketakutan. Mereka takut kalau anak saya marah, ngambek dan sedih karena tersakiti hatinya. Bagi mereka, itu adalah sebuah kesalahan yang dapat dikategorikan bully, alias menyakiti perasaan seorang anak lain. Apalagi, mereka ditugaskan gurunya untuk membimbing dan membantu anak saya beradaptasi di sekolah.

Ketika mereka melaporkan kejadian itu kepada gurunya, dan ketika sang guru tidak mampu berkomunikasi dengan anak saya, akhirnya Ibu Takeuchi melakukan sesuatu yang sudah menjadi aturan di Jepang. Yaitu mendatangi apartemen kami, meminta maaf dan menjelaskan semuanya agar tidak terulang lagi kejadian serupa kedepannya. Inilah Standard Operating Procedure (SOP) yang diangkat dari budaya saling memahami dan saling membantu di Jepang. Mereka ingin menciptakan budaya tersebut sejak usia dini pada anak-anak SD.

Di Jepang, setiap siswa kelas 3, 4 dan 5 diwajibkan untuk membimbing adik-adik kelasnya. Mereka bahkan dilatih dan diberi tanggung jawab melindungi adik-adik kelas sejak berangkat jalan kaki bersama dari rumah masing-masing. Anak-anak SD di Jepang wajib berjalan kaki ketika berangkat ke sekolah, dan diwajibkan pula pulang bersama-sama dengan teman-teman dan kakak kelas yang rumahnya saling berdekatan.

Jadi, setiap pagi kita bisa melihat anak-anak di Jepang berkumpul di sebuah meeting point di dekat rumah masing-masing, lalu berangkat bersama-sama. Waktu rata-rata yang mereka tempuh untuk mencapai sekolah adalah 10 menit. Jadi, saya tidak mungkin menyekolahkan anak saya di sebuah SD di Jepang yang jaraknya jauh dari apartemen, hanya karena SD tersebut lebih favorit daripada SD dekat rumah. Di Jepang, kualitas setiap SD negeri dibuat sama, sesuai dengan standard nasional.

Tidak hanya di Jepang, ternyata SD di Australia juga menerapkan konsep yang hampir serupa, yaitu program “buddy”.

Bahkan mereka sudah mulai menularkannya ke beberapa SD di Indonesia. Hasilnya sangat luar biasa. Menyambut ajakan pemerintah Indonesia, mahasiswa Indonesia di Australia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia Belajar (PIB) meluncurkan “Gerakan Sekolah Menyenangkan”. Inilah gerakan untuk mengembalikan akar sekolah sebagai tempat menyenangkan bukan sekadar penghasil nilai ujian.

Bulan September 2014 lalu, PIB bekerjasama dengan Universitas Ahmad Dahlan di Yogyakarta melaksanakan pelatihan praktik baik pendidikan (inspirasi dari sekolah di Australia) kepada guru-guru.

Salah satu sekolah yang mengikuti sharing inspirasi praktik baik adalah Sekolah Dasar Muhammadiyah Pakem yang terletak di kaki Gunung Merapi.

Dalam kesempatan korespondensi dengan Novi Candra (mahasiswa PhD Melbourne University, yang juga Project Leader Sekolah Menyenangkan PIB) menceritakan bahwa sekolah yang banyak diisi oleh siswa-siswi dari keluarga petani dan sopir truk tersebut mulai menerapkan beberapa praktik baik (buddy) tersebut.

Di sekolah tersebut, guru mulai memberikan tanda bintang kepada murid sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian, baik berupa diraihnya prestasi akademik maupun sikap baik peserta didik. Selain itu, bentuk prestasi juga akan terus diberikan setiap minggunya di setiap upacara bendera kepada siswa yang aktif dan memiliki perilaku terpuji, sebagaimana disampaikan Novi.

Sejak menerapkan program “buddy”, yakni setiap siswa senior menjadi pelindung adik kelasnya, kenakalan menurun tajam karena setiap kakak kelas merasa memiliki tanggung jawab untuk melindungi “adik buddy” nya. Alih-alih bersekongkol untuk mengganggu, kakak kelas ini malah saling bekerjasama menjaga adik-adik kelasnya agar tidak mengalami kesusahan di sekolah.

 

Wikan Sakarinto, Pejuang Beasiswa tunas-indonesia.org – Dosen SV-UGM – Owner of Fasnetgama Training Center (fasnetgama.co.id) – Ketua Yayasan Tunas Indonesia Jepang

Tulisan ini sebelumnya pernah dipublikasikan di isigood.com. Tautannya dapat dilihat di sini.

Comments (1)

halloblognya sangat menarik, izinkan kami untuk menshare nya

Balas

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...