content detail

Semua Anak Punya Hak dan Kesempatan yang Sama

Post by: 21/04/2015 1 comments 1720 views

Agak tergesa, aku masuki halaman sekolah anakku. Udara musim panas amat menyengat siang ini. Ketika sedang mencari-cari ruang guru,  tiba-tiba terdengar sapaan ramah dari seorang gadis kecil,

“Assalamu’alaikum Mrs. How can I help you? (Assalamu’alakum, Bu. Bisa saya bantu?)” Segera kuhentikan kursi roda kemudian menoleh ke arah gadis kecil berkerudung putih itu.

“Ooh … Wa’allaikum salam. I’m  looking for Mrs. Nick office, could you tell me where is it? (Ooh … Wa’allaikum salam. Saya mencari ruangan Ibu Nick, bisakan kamu menunjukkannya?)” dengan sopan gadis itu mengangguk dan mengantarku ke kantor yang dimaksud.

sumber: http://www.abc.net.au/
sumber: http://www.abc.net.au/

Sesampainya di ruangan, Mrs. Nick membuka pintu dan segera mempersilahkanku masuk sambil memindahkan kursi-kursi agar kursi rodaku  dapat memasuki ruangan dengan leluasa. Ia meminta maaf kalau aku mendapatkan kesulitan ketika menuju ke ruangannya. Ia menjelaskan bahwa tujuannya mengundangku ke sekolah adalah untuk mendiskusikan pemberian penghargaan dan beasiswa atau kesempatan melompat ke kelas yang lebih tinggi pada siswa-siswa yang mempunyai prestasi bagus. Rupanya anakku adalah salah satu siswa berprestasi tersebut.

Mrs. Nick mengungkapkan kebanggaannya atas prestasi yang telah dicapai anakku serta kekaguman pada sikapnya yang selalu bersedia membantu temannya baik dalam mata pelajaran maupun hal lain. Beliau mengatakan, semua itu pasti karena kami, orang tuanya, yang telah berhasil membimbingnya dengan baik.  Saat  berpamitan, Mrs Nick menyatakan bahwa anakku sangat beruntung  mempunyai ibu yang penuh perhatian, suportif dan percaya diri, pasti anakku merasa bangga akan hal itu.

Dalam perjalanan pulang, muncul pertanyaan di hati ini. Terlintas juga pikiran, benarkah anakku bangga terhadapku? Pikiran itu kerap menggangguku, karena keterbatasan kondisi fisikku sehingga harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas. Kadang terbersit perasaan takut membuat anakku akan merasa malu pada teman-temannya jika harus datang ke sekolah untuk berbagai keperluan dikarenakan kondisiku ini.

Masih kuingat saat masih di bangku sekolah dulu, bagaimana temanku melarang orangtuanya datang ke sekolah hanya karena merasa malu karena ayahnya menggunakan kruche untuk membantunya berjalan akibat menderita polio semasa kecilnya. Karena kekhawatiran itu beberapa kali kutanyakan pada anakku tentang masalah ini, tetapi selalu dijawab kalau dia sama sekali tidak merasa malu dengan kondisiku. Malahan dia menegaskan,

“No, Mam, never ever think that way, I’m proud of what you are and who you are. (Tidak, Bu. Jangan pernah berpikir begitu. Saya bangga dengan Ibu dan apa yang Ibu miliki).”

Aku teringat cerita anak temanku yang mempunyai keterbatasan fisik bernama Desi,  yang sekolah di salah satu public school di Melbourne. Desi menderita kelumpuhan yang lumayan parah sejak kecil, tetapi kecerdasan dan semangat belajarnya sangat mengagumkan.  Untuk aktivitas se hari-hari, dia menggunakan kursi roda dan didampingi seorang pengasuh  yang selalu siap membantunya.

Di hari pertama ke sekolah, Desi merasa takut dan resisten. Tapi ternyata, guru kelas menyambutnya dengan senyum dan sapaan ramah sambil memperkenalkannya pada semua teman-teman sekelas. Gurunya berpesan agar semua murid bisa membantu Desi jika ada kesulitan, baik dalam pelajaran maupun aktivitas lainnya. Setelah itu semua teman sekelas memperkenalkan diri dan menyalaminya dengan ramah. Desi hanya tersenyum malu sambil mengangguk kemudian menuju tempat yang sudah disediakan untuknya. Seketika Desi merasa takjub. Dia tidak menyangka ternyata tempat yang telah dipersiapkan khusus untuknya adalah barisan paling depan dengan ruang yang cukup luas untuk kursi rodanya leluasa bermanuver dan dilengkapi dengan meja  beroda yang dan diatur ketinggiannya hingga dapat disesuaikan dengan kebutuhannya.

Saat istirahat makan siang, sambil makan siang teman-teman barunya silih berganti menjelaskan semua kegiatan yang ada di sekolah yang dapat diikutinya. Setelah selesai makan siang, salah seorang teman Desi mendorong kursi rodanya berkeliling menunjukkan semua fasilitas sekolah. Mendapat sambutan yang bersahabat dan menyenangkan seperti itu kekhawatiran dan ketakutannya berangsur berkurang. Apalagi setelah mengetahui sarana dan fasilitas yang ada di sekolah memudahkannya mengikuti semua kegiatan. Desi yakin dapat menyesuaikan diri dan mengikuti semua pelajaran dengan baik.

Sepanjang jam sekolah hari itu, pengasuh Desi menunggu di depan kelas berjaga-jaga jika Desi sewaktu-wakktu membutuhkan bantuan yang seperti biasa dilakukan selama ini. Seusai jam pelajaran, Desi dan pengasuhnya dipanggil ke ruang guru untuk mendiskusikan sesuatu. Wali kelas Desi menjelaskan bahwa peraturan sekolah tidak memperkenankan  siswa ditunggu keluarga saat jam belajar di sekolah, karena segala sesuatu keperluan siswa menjadi tanggung jawab sekolah.

Hari pertama tanpa didampingi pengasuh, Desi kembali merasa cemas dan gelisah. Dia merasa tidak percaya diri dan takut tidak dapat mengikuti dan menyelesaikan kegiatan di sekolah.  Akan tetapi apa yang ditakutkannya sama sekali tidak terjadi. Desi dapat mengikuti pelajaran dengan baik, semua  guru dan teman-temannya selalu menawarkan bantuan secara sukarela. Demikian juga saat istirahat teman-temannya akan membantunya, mengambilkan minum dari tap water ataupun memanaskan makanan. Selesai makan siang, mereka bermain bersama ataupun hanya ngobrol sambil bergurau  sebelum kembali masuk kelas.

Pihak sekolah menyediakan semua modifikasi fasilitas sekolah  yang diperlukan Desi. Semua ruangan kelas dan sarana belajar lainnya dapat diakses (accessible) untuk kursi  roda,  Termasuk kelas yang biasanya berkegiatan di lantai atas, dipindahkan ke lantai dasar berikut semua peralatannya supaya Desi dapat mengikuti pelajaran tersebut. Pendek kata, semua fasilitas yang berhubungan dengan mata pelajaran dan aktivitas lainnya, seperti tempat bermain, kantin dan disable toilet. Dengan fasilitas seperti itu Desi dapat mengikuti semua kegiatan sekolah tanpa didampingi oleh pengasuhnya.

Hari-hari selanjutnya Desi berangkat sekolah dengan semangat dan antusias. Di sekolahpun ia dapat mengikuti semua pelajaran dan kegiatan dengan baik. Desi dapat cepat menyesuaikan diri dengan dengan teman-teman dan lingkungan sekolah. Desi bahkan menjadi murid yang berprestasi disekolah itu. Semua guru dan temannya sangat suportif dan tidak menganggapnya berbeda apalagi mempunyai kekurangan. Desi tidak merasa rendah diri karena keterbatasan fisiknya. Dia merasa sangat nyaman dan senang pergi ke sekolah.

Kini, aku bisa membayangkan perasaan Desi yang merasa senang di sekolah. Aku pun pernah mengalaminya. Walaupun hanya mengambil kursus komputer di suatu Neighbourhood House, semacam Balai Latihan Kerja di lingkungan sekitar tempat tinggalku. Pihak penyelenggara memindahkan ruangan kursus beserta seluruh perangkatmya ke lantai dasar hanya karena aku tidak bisa naik tangga ke lantai satu tempat ruangan komputer itu berada sebelumnya. Mereka juga memindahkan vending machine snack dan minuman ringan yang sebelumnya ada di basement untuk alasan yang sama.

Pikiranku melayang jauh ke masa kecilku dulu saat seusia Desi.  Aku teringat  betapa setiap hari aku mendapat ejekkan dan hinaan dari temanku yang bandel. Anak-anak itu tidak juga berhenti ataupun jera mengejek walaupun setiap kali ketahuan guru pasti terkena marah bahkan dihukum, tapi tetap saja mereka melakukannya setiap kali ada kesempatan.  Karenanya, aku jadi anak yang pendiam dan rendah diri. Aku adalah anak terpandai di sekolahku, tapi tetap saja sekolah bukanlah tempat yang nyaman dan menyenangkan buatku saat itu.

Sepertinya saat itu anak-anak yang mempunyai keterbatasan fisik sepertiku atau kebutuhan khusus lainnya, tidak diberi kesempatan oleh lingkungan untuk belajar bersama dengan teman-temannya yang sempurna.  Mereka biasanya dikirim kesekolah khusus anak-anak cacat yang katanya agar dapat bersosialisasi dengan teman-teman senasib.  Terus terang aku tidak mengerti apa tujuannya dengan mengirim anak-anak cacat karena polio kesekolah khusus seperti itu, karena walaupun mereka sudah bisa mandiri dan pintar, begitu mereka terjun ke masyarakat dan berada di lingkungan yang beragam, mereka akan rendah diri dan merasa kurang, karena umumnya lingkungan akan memperlakukan mereka sebagai orang yang kurang mampu dan berbeda dengan orang lain.

Sementara di Australia, fasilitas umum tak terkecuali sekolah, wajib memenuhi standar yang ditentukan untuk bisa digunakan oleh semua orang tanpa kecuali, termasuk untuk orang-orang berkebutuhan khusus seperti keterbatasan fisik, tuna netra, dan tuna rungu. Untuk siswa yang mempunyai keterbatasan mental dan intelegesia, pemerintah menyediakan sekolah khusus yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Anak-anak yang hanya mempunyai keterbatasan fisik dapat belajar di sekolah umum tanpa harus merasa berbeda atau kurang mampu. Mereka diberi kesempatan dan hak yang sama dengan teman lainnya dengan bantuan sarana yang disediakan sekolah serta bantuan dari guru dan teman. Mereka diperlakukan sama dengan murid lainnya sehingga merekapun percaya diri akan kemampuannya dan dapat bangga atas prestasinya, sama seperti teman lainnya.

Di sekolah, para guru mengajarkan murid-murid tentang nilai-nilai kehidupan yang sangat bagus dan penting untuk membentuk kepribadian mereka, yaitu untuk berempati, saling berbagi, saling membantu dan saling menghargai orang tanpa melihat perbedaan dan kekurangannya. Mereka tidak memandang rendah ataupun merasa kasihan akan keterbatasan orang, akan tetapi justru mereka menunjukkan apresiasi dan kekaguman. Karena dengan segala  keterbatasan yang dimilkinya, seseorang dapat berhasil dan sukses dalam berbagai hal. Tentunya semua itu dapat terjadi karena contoh dan bimbingan dan diberikan oleh para guru dan pihak sekolah serta lingkungan yang  mendukung.

Nilai-nilai  seperti itu tentunya dapat juga diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia. Bukankah hal itu sesuai dengan kepribadian dan kultur budaya bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang ramah  dengan berbudi pekerti yang luhur, halus, santun, suka menolong, dan saling menghargai?. Dengan pelajaran budi pekerti yang sekarang mulai diberikan lagi di sekolah, diharapkan penanaman nilai-nilai luhur tersebut dapat diterapkan dengan baik. Sekolah pada gilirannya akan lebih nyaman dan menyenangkan bagi semua murid. Pada akhirnya anak-anak akan bersemangat dan bahagia pergi ke sekolah. Sekolah menjadi tempat yang selalu disukai dan dicintai semua anak karena menyenangkan dan mengasyikkan.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Lies Pangestu (Ibu rumah tangga, tinggal di Melbourne, Australia), yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

 

Comments (1)

Hello Admin! Thanks for this article, very good information, I will be forwarding this to some friends, if you’re ok with that. Greetings from Germany!

Balas

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...