content detail

Sekolah adalah Refleksi Kehidupan Nyata

Post by: 21/03/2015 0 comments 1763 views
sumber: http://theconversation.com/
sumber: http://theconversation.com/

“School is a mini life.” Itulah kalimat pertama yang diucapkan oleh kepala sekolah SD di depan para orang tua saat acara open day salah satu sekolah di Australia. Open day adalah hari informasi dimana orang tua dan anaknya yang siap bersekolah datang untuk berkenalan, mengunjungi ruang-ruang kelas, melihat fasilitas sekolah dan mendapat informasi sebanyak-banyaknya supaya bisa memutuskan untuk mendaftarkan anaknya jika sekolah tersebut nantinya dianggap sesuai dengan pilihan mereka. Tidak pernah saya lupakan kalimat itu. Menurut saya, itulah kunci bagi siapa saja yang ingin memahami sebenarnya apa tujuan sekolah.

Hal yang saya tangkap dari penjelasan kepala sekolah dan guru-guru kelas prep di acara open day adalah bahwa sekolah dari mana saja tingkatnya anak mulai, seharusnya merupakan refleksi kehidupan nyata. Dalam kehidupan nyata, anak bertugas untuk bermain sambil belajar. Berikut hal-hal yang menurut saya menunjukkan bahwa di Australia, sekolah dianggap sebagai refleksi kehidupan yang nyata.

Aturan sehari-hari

Hal yang paling menonjol yang saya amati dan rasakan adalah bahwa aturan itu sangat penting. Pesan ini disampaikan dan diterjemahkan dalam berbagai cara, misalnya dengan tulisan-tulisan di kantor sekolah, di dinding-dining kelas, dalam lembar surat yang diberikan kepada anak didik untuk dibawa pulang, dan sebagainya. Ada beberapa aturan sekolah yang bersifat umum untuk setiap siswa, ada juga aturan yang dipakai untuk masing-masing kelas yang lebih spesifik. Aturan sekolah untuk kelas ini biasanya ditulis dan dibicarakan bersama untuk meyakinkan bahwa setiap siswa mengerti tanggung jawab, kewajiban, dan hak mereka. Aturan-aturan tersebut ditulis dalam bentuk poster-poster dan catatan-catatan yang dipasang di dinding kelas, di ruang pertemuan, di kantor sekolah untuk mengingatkan semua yang ada di sekolah. Ketika proses pengenalan aturan mulai berjalan dengan baik, terkadang siswa lain yang berperan untuk menjadi pengingat terhadap teman sekelas lainnya.

Belajar Mengurus Diri Sendiri

Sejak dari masa Childcare, setiap anak diajarkan untuk mengurus diri mereka sendiri. Dimulai dari hal-hal kecil dan yang sangat sederhana seperti memakai dan mencopot sepatu, memakai botol minum, atau menggunakan sendok untuk memasukkan makanan ke mulutnya. Setiap masa sekolah dimulai, para murid diberi surat keterangan yang harus dibawa pulang dan dibaca oleh para orang tua atau wali murid. Surat itu berisi informasi penting seperti tanggal mulai kelas, perlengkapan belajar yang harus dibawa dan dipunyai oleh setiap siswa. Surat bisa dikirim beberapa kali tergantung keperluan.

Hal yang menarik dan efektif untuk mengajarkan budaya menghormati aturan adalah ketika terjadi peristiwa di kelas yang mengarah ke pelanggaran aturan, guru atau siswa lain akan selalu mengacu kepada poster dan tulisan besar-besar tidak untuk menyalahkan atau menghukum, tetapi untuk mengingatkan kembali aturan-aturan itu dan mendiskusikannya sebagai contoh nyata. Seringkali kemudian kesempatan itu dipakai untuk mengajarkan anak menjadi bertanggung jawab akan tindakannya dan belajar mengartikulasikan perasaan atau pandangan mereka akan kejadian yang mereka alamai atau saksikan.

Belajar Menjadi Teratur dan Terorganisir

Di setiap sekolah, anak-anak diberi sebuah ruang atau tempat untuk menempatkan barang-barangnya dengan nama masing-masing. Setiap siswa diberitau bahwa ruang itu adalah milik mereka sehingga mereka juga perlu bertanggung jawab untuk merawat dengan baik. Selain itu juga ada penekanan bahwa setiap siswa harus menghormati ruang siswa lain yang berarti mereka tidak boleh memakai, menempatkan barang mereka, mengambil dan menggunakan ruangan yang bukan miliknya. Dalam hal ini menghargai ruangan sendiri dan orang lain sangatlah penting. Setiap siswa diberi tanggung jawab untuk merawat locker masing-masing dengan menjaga kebersihan.

Menghargai Budaya Lain

Setiap tahun sekolah anak saya merayakan hari yang disebut Multicultural Day. Tujuannya adalah untuk merayakan perbedaan. Di kelas mereka misalnya belajar tentang nama-nama negara, bahasa, bendera, makanan, adat-istiadat dan hal-hal khusus yang berhubungan dengan masing-masing negara tersebut. Selain itu sekolah juga memakai contoh yang sangat dekat dengan kehidupan anak dan keluarga  yang berasal dari berbagai penjuru dunia.

Sistem Buddy

Salah satu kegiatan hari pertama di sekolah untuk kelas Prep adalah berkenalan dan bertemu dengan ‘buddy’ mereka dari kelas lima. Masing-masing siswa kelas Prep kemudian dipanggil untuk maju ke depan dan dipertemukan dengan buddy mereka. Selama satu tahun tugas kakak buddy adalah menemani adik kelasnya untuk belajar seluk-beluk sekolah, menemani ketika istirahat, membantu ketika adik kelas perlu bantuan. Selain itu saya lihat dari sisi kakak kelasnya, banyak ketrampilan yang dimunculkan dari system buddy, misalnya belajar bertanggung jawab terhadap siswa yang lebih muda, belajar menjadi sabar, menghindari masalah bully yang bisa diderita oleh siswa baru terutama yang di kelas awal.

Belajar adalah ‘Pekerjaan’ Utama

Dari kecil saya biasakan untuk berbicara secara terbuka dengan anak saya. Saya putuskan untuk mengajari anak saya sebanyak mungkin tentang pekerjaan ibunya. Misalnya saya terangkan bahwa ibunya harus bekerja untuk mencari uang. Uang yang diperlukan untuk membayar berbagai rekening (listrik, air, gas) berbelanja makanan, dan mengembangkan ketrampilan ibunya. Ketika dia mulai sekolah kami punya bahasa khusus, yaitu ‘pekerjaan utama’ dia adalah belajar di sekolah.

PR Untuk Keluarga Bersama

Sudah menjadi kebiasaan bahwa anak saya tidak pernah mengerjakan PRnya sendirian. Kadang saya, ayahnya, nenek atau kakek ikut menemaninya. Meskipuan semakin besar dia bisa mengerjakan PRnya, kami selalu menekankan pentingnya salah satu dari orang tua untuk duduk di meja ketika dia mengerjakan PRnya. PR yang disusun sangat menggambarkan kehidupan nyata, misalnya topik matematika. Setiap siswa disuruh melihat belanjaan orang tua di lemari dapur dan mengidentifikasi 10 produk yand beratnya 1 mg. Siswa itu diminta untuk meminta salah satu anggota keluarganya untuk membantu mencari barang yang sesuai, menuliskannya dalam buku dan memberi komentar tentang barang itu.

Hal yang penting adalah menjadikan anak memiliki kepercayaan diri, bisa berteman dengan banyak anak, berani menyampaikan pendapat, dan menunjukkan respek pada aturan yang ada. Kami yakin, pengalamannya ketika belajar di TK telah memberikan fondasi atas hal-hal tersebut. Fondasi yang terbangun karena lingkungan dan sistem pendidikan; guru, framework dan detil aktivitas, serta tata lingkungan belajar TK yang memberinya kesempatan untuk secara luas melakukan eksplorasi dan ekspresi atas talenta yang dimiliki dan identitas dirinya.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Yacinta Kusdaryumi Kurniasih (pengajar di Indonesian Studies, Arts Faculty, Monash University) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...