content detail

Saya dan Pak Mar: Kenangan Akan Seorang Guru

Post by: 07/05/2015 0 comments 1293 views
sumber: http://www.springfieldnewssun.com/
sumber: http://www.springfieldnewssun.com/

Jika ada yang menanyakan, kapan pertama kali saya bertransformasi, maka saya akan mudah mengingat dan menjawab : ketika saya di Sekolah Dasar (SD). Mengapa? Karena Pak Mar, guru SD saya yang keras, disiplin namun penuh perhatian dan kasih sayang pada murid-muridnya.

Sejak kecil, saya selalu tampak ceria dan gembira menikmati masa-masa bermain saya. Namun dibalik itu sebetulnya sering timbul rasa malu dan tidak percaya diri pada diri saya. Saya adalah anak seorang militer dengan pangkat ‘biasa saja’ dan kehidupan ekonomi yang pas-pasan, sehingga sorenya ayah saya harus menyupiri sendiri angkotnya. Untuk menambah penghasilan, ibu saya juga ikut membantu dengan berjualan makanan kecil untuk dipasok ke kantin-kantin kantor militer ayah saya. Saya pun sering juga membuat es berbagai macam rasa untuk saya bawa dan titipkan di kantin sekolah. Lumayan, saya bisa mendapat uang jajan dari menjual es itu.

Ayah saya sengaja mengajak kami sekeluarga tinggal di lingkungan militer pejabat. Otomatis saya pun harus bergaul dengan putra-putrinya yang tentu saja memiliki pola hidup yang berbeda. Ayah dan ibu saya sering menekankan untuk selalu percaya diri, tetapi kadang perasaan minder itu bisa muncul tiba tiba. Misalnya saat melihat teman saya sering memakai pita cantik berganti ganti, sementara saya tetap setia dengan satu bando saya. Juga ketika di rumah teman, saya lihat mainan –mainan mahal tersedia, dan juga mobil yang mengantar jemput mereka. Ayah saya juga selalu menyulutkan semangat saya, bahwa walaupun saya berasal dari anak orang biasa, namun tetap harus berprestasi. Saya mengangguk angguk, mengerti, tapi seringkali tidak tahu bagaimana caranya. Namun itu semua berubah ketika saya bertemu Pak Mar.

Ketika saya masuk SD di dekat rumah saya, Pak Mar adalah guru matematika di sekolah saya.  Orangnya cukup tinggi untuk ukuran jaman itu. Penampilannya sederhana, awalnya sering naik sepeda, tapi lama-lama beliau punya vespa abu-abu sebagai kendaraan setia. Tulang wajahnya yang menonjol dan wajahnya yang nampak keras, menyiratkan betapa kerasnya kehidupan yang telah dia jalani.  Beliau adalah salah satu guru yang sangat persistent meminta murid-muridnya memberi salam hormat kepada setiap guru yang datang ke sekolah setiap paginya. Jadi setiap pagi, beliau akan datang pagi-pagi, kemudian berdiri di depan kantor guru, dan setiap ada guru lain datang, beliau akan memberi tanda agar anak-anak yang sedang bermain harus segera menghampiri guru tersebut dan memberi salam. Saya tersenyum sendiri jika mengingat itu, walaupun harus berhenti bermain, kami sangat menikmati berlari berhamburan menyalami para guru tersebut.  Namun, jangan coba-coba untuk melanggar. Selama ada Pak Mar, pasti beliau akan memanggil dan memberi  nasehat atau sanksi jika diulang beberapa kali.

Jika guru lain masuk kelas, akan langsung fokus dengan mengajar bidang studinya masing-masing, tidak demikian dengan pak Mar. Dengan nada yang keras dan berapi-api, beliau selalu mengatakan, “Belajar itu yang serius. Belajar apa saja, bukan hanya matematika seperti yang diajarkan Pak Mar, tapi apa saja. Kelak kamu akan tahu, jika kamu belajar serius maka akan ada perubahan dalam hidup kalian. Kalian akan lebih maju dari orangtua kalian. Makanya kalau ada tugas, kerjakan dengan sungguh-sungguh. Makanya Pak Mar marah dan kecewa kalau ada yang tidak mengerjakan PR. Dan yang penting lagi hormat pada orangtua, pada guru! Kalian murid-murid Pak Mar yang hebat!”

Terus terang, walaupun nampak galak, namun kata-kata Pak Mar setiap pagi menjadi kata-kata mantra buat saya untuk mencintai belajar termasuk matematika. Sampai saya lulus SMP dan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, suasana kelas Pak Mar selalu saya rindukan.

Pak Mar memang disiplin dan galak, buat mereka yang tidak disiplin. Banyak beberapa teman saya takut dengan beliau, tapi saya dan beberapa rekan lain justru menyukainya. Beliau mengenalkan konsep adil kepada kami murid-muridnya. Jika ada murid-muridnya yang rajin dan berprestasi, beliau tidak segan segan memberi apresiasi dengan mengundangnya ke depan kelas. Namun sebaliknya bagi murid yang tidak serius dalam belajar, Pak Mar menunjukkan bahwa itu bukan karena siapa siapa tapi karena mereka sendiri yang tidak bersungguh-sungguh. Tidak hanya itu, beliau memiliki kepekaan yang sangat tinggi kepada setiap muridnya sesuai dengan keunikannya masing-masing, termasuk tentu saja saya.

Waktu itu saya hanya tahu bahwa cara menunjukkan prestasi belajar adalah memiliki nilai setinggi tingginya di semua mata pelajaran terutama matematika. Saya hanya sibuk dengan belajar, bermain, pulang ke rumah. Sampai suatu saat Pak Mar memanggil saya, “Novi, nilai pelajaran kesenianmu bagus. Kata Pak Sri guru kesenian. Nah, bapak minta coba Novi bantu tim kulintang sekolah kita di melodi ya.”

Saya awalnya tidak percaya bahwa saya punya kemampuan musik, dari mana pak Mar tahu?  Tapi Pak Mar tetap saja memaksa dan memberi semangat. Saya pun ikut berlatih setiap ada jadwal latihan dan viola! Lama lama saya menikmati bermain kulintang setiap istirahat sekolah dan mampu memainkan lagu apa saja pada melodi. Sampai suatu saat, Pak Mar berkata kepada saya dan teman teman, “ Tim ini kalau bermain sungguh –sungguh, mau tidak kalau bapak usulkan siaran di TVRI? “

Wowww…tentu saja kita serempak menjawab, “ Mauuuuu. Pak.” Dan pak Mar adalah teladan kami dalam bersungguh-sungguh, beliau juga menunjukkan kepada kami bahwa impian apapun bisa dilakukan asal bersungguh-sungguh. Beliau berusaha mewujudkan janjinya untuk membawa kami siaran live di TVRI Yogya saat itu. Betapa gembira dan terharu kami, orangtua kami dan juga sekolah saat kami berhasil tampil live.  Setelah siaran selesai, kami peluk Pak Mar bersama-sama karena rasa terima kasih yang tak terhingga dari kami.

Di dalam bis perjalanan pulang dari TVRI Yogya ke Magelang, saya melamun mencoba mengingat kembali betapa luar biasanya pengalaman saya waktu itu, sehingga saya mampu mengambil pelajaran bahwa saya tidak akan menyepelekan kemampuan saya sendiri sampai saya mencobanya terlebih dahulu. Saya tidak akan mengatakan tidak sanggup terlebih dahulu, sebelum saya mencobanya dengan kesungguhan. Lamunan saya terhenti ketika Pak Mar mendekati saya, ”Bagus kamu tadi main kulintangnya, nduk. Ternyata pinter kamu.” Beliau tersenyum sambil mengusap rambut saya. Tidak nampak lagi wajah kerasnya, berganti dengan wajah keharuan. Saya tersenyum dan melanjutkan lamunan saya melalui jendela bis sambil berdoa, semoga Pak Mar selalu diberi kesehatan di usianya yang relatif tidak muda dan terus bisa menjadi guru saya.

Sejak itu pak Mar selalu mendorong saya melakukan hal baru seperti ikut tim leader pramuka, ikut marching band, kulintang dan gamelan Jawa. Meskipun anak-anak didorong untuk ikut berbagai kegiatan, namun beliau sangat intens memantau prestasi akademik kami. Dengan bimbingan pak Mar, hampir seluruh aktivitas sekolah kami selalu menjadi juara dan berprestasi. Beliau sangat keras dalam berlatih apapun dan bersungguh-sungguh. Dari beliaulah juga saya belajar bahwa melakukan aktivitas apapun haruslah sungguh-sungguh.

Waktu-demi waktu, saya mulai merasakan perubahan. Dari yang dulu kadang tida percaya diri dan kadang malu, lambat laun menjadi pribadi yang berbeda. Prestasi akademik yg bagus ditambah dengan berbagai kegiatan yang saya ikuti, telah mampu membuat saya meyakini bahwa bukan hanya kecantikan fisik yang harus dibangun, tidak cukup kekayaan apalagi kekayaan orangtua untuk kita mampu merasa ada dan bermanfaat, namun kesungguhan belajar dan berlatih yang mampu membuat kita pantas menjadi insan yang dihormati karena memberi makna bagi kehidupan.  Ketika Pak Mar, mampu mendampingi dan meyakinkan saya untuk lulus dengan nem tertinggi di kota dan masuk SMP terfavorit di kota kami, titik balik saya dimulai.  Pak Mar, yang saat itu telah menjadi kepala sekolah dan mampu menjadikan sekolahnya meraih nem rata-rata tertinggi di kota kami, menangis haru memeluk kami murid-muridnya karena beliau tahu murid-muridnya telah berjuang, tidak hanya untuk meraih prestasi akademik terbaik, namun juga berjuang menjadi diri mereka yang hakiki. Tetap saja, saat beliau memeluk kami saat itu, kata-kata beliau yang sempat terucap “ Anak-anak Pak Mar, hebat-hebat.”

Hal itu, tanpa sadar Pak Mar telah membuatkan fondasi yang sangat kuat pada salah satu muridnya yaitu saya untuk menghargai kedisiplinan, belajar, usaha keras dan selalu percaya diri untuk sukses. Semoga bapak tahu bahwa fondasi yang bapak tanamkan selama 6 tahun di SD masih ada dan bertambah kuat ketika saya tambahkan struktur apapun di atasnya.

Teriring doa semoga masih banyak dan semakin banyak guru seperti pak Mar, yang tidak hanya mengajar namun juga mendidik. Tidak hanya mengajari namun menginspirasi murid-muridnya agar selalu menjadi insan cerdas dan berbudi.

 

Novi Poespita Candra, PhD student ,Center for International Mental Health, School of Population and Global Health, The University of Melbourne.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...