content detail

Santun, Hormat, Disiplin, Mandiri dan Empati

Post by: 23/03/2015 0 comments 3635 views
sumber: http://www.alibaba.com/
sumber: http://www.alibaba.com/

Pada suatu hari di musim panas yang cukup terik, seorang guru senior dengan tergopoh-gopoh mengejar seorang anak yang berlari di depannya. Sarah McLaren, nama guru itu, berlari dan berusaha menghentikan anak tersebut dengan suara yang cukup keras. Akhirnya anak itu berhenti dan Sarah menatap matanya dengan tajam lalu bertanya apakah anak itu tahu mengapa dia mengejarnya. Bel sekolah sudah berbunyi, anak-anak mulai keluar kelas dengan tertib namun Ibu Sarah masih menahan siswa tersebut dan terus bertanya apakah dia sadar apa yang telah dia lakukan tidak terpuji. Dengan nada tegas Ibu Sarah menekankan bahwa itu bukan prilaku yang baik dan dia harus meminta maaf. Akhirnya anak itu terlihat sangat menyesal dan Ibu Sarah membimbingnya masuk kembali ke kelas untuk menyelesaikan urusannya.

Usut punya usut, ternyata anak yang berlari itu, Aaron, tidak mau antri ketika yang lain berkemas-kemas untuk pulang. Untuk siswa kelas 1 atau 2, biasanya ada ruang khusus di dalam kelas tempat mereka menggantungkan tas. Tas Aaron digantung tidak jauh dari tas Sabrina. Sayangnya Aaron tidak sabar mengantri dan menunggu Sabrina memasukkan barang-barang ke tasnya sehingga dia memaksa dirinya untuk mengambil tas. Perilaku “tidak terpuji” Aaron terlihat oleh Sarah. Walaupun Sabrina tampak tidak keberatan dengan hal tersebut, Ibu Guru menindaklanjuti “pelanggaran” Aaron dengan cukup tegas.

Salah satu budaya santun yang ditegakkan di kelas, seperti budaya mengantri, bukan urusan sepele bagi praktisi pendidikan di Australia. Sekolah anak saya menggalakkan rasa hormat dan menjadikannya sebagai tema di majalah sekolah selama satu tahun. Mereka mempromosikan dua jenis hormat, yaitu hormat terhadap diri sendiri dan orang lain. Dalam berkomunikasi dengan teman dan gurunya pun, pendidik memberikan contoh bagaimana karakter ini diterapkan. Ada tiga kata wajib bagi siswa-siswi di Australia di tingkat pendidikan apapun yaitu maaf, tolong, dan terimakasih. Dalam observasi saya, penegakkan karakter seperti ini sejak usia dini membuahkan hasil yang baik.

Itulah gambaran bagaimana para praktisi pendidikan bagi anak usia dini di Australia membangun karakter siswa agar menjadi manusia yang santun dan memiliki rasa hormat, disiplin dan mandiri, serta kemampuan berempati terhadap sesama. Sistem pendidikan suatu negara tidak bisa dipisahkan dari konteks sejarah, politik, ekonomi, sosial dan budaya negara yang bersangkutan. Tentu tidak bijak jika kita membandingkan sistem pendidikan Australia dengan Indonesia tanpa memperhatikan hal-hal tersebut. Walaupun demikian penulis bermaksud memberikan perspektif pendidikan usia dini di Australia yang beberapa nilainya justru sesuai dengan karakter “manusia Indonesia seutuhnya” yang sering digaungkan oleh pemerintah Indonesia. Oleh karena itu, ada potensi yang besar untuk mengadaptasi beberapa nilai pendidikan usia dini Australia tanpa menghilangkan kearifan budaya Indonesia.

Disiplin dan Mandiri

Displin diterapkan di hampir semua kegiatan di sekolah, misalnya soal waktu atau budaya membaca. Menumbuhkan kegemaran membaca bukanlah suatu langkah sederhana melainkan keputusan besar dan diambil dengan kesadaran tinggi yang dalam pelaksanaannya memerlukan komitmen dari semua pihak.

Salah satu contohnya adalah kelas 4 di sebuah sekolah di daerah Bellarine. Di 30 menit pertama dan 30 menit terakhir, anak-anak diminta untuk membaca buku. Belakangan saya mengetahui bahwa membaca buku 30 menit di awal dan akhir pelajaran memiliki efek terapi untuk menenangkan pikiran sekaligus mempersiapkan mereka untuk belajar. Setelah saya mengecek dengan sekolah anak saya ketika mereka mulai bersekolah, praktik seperti ini pun dilaksanakan di sana. Tak heran anak-anak telah dipersiapkan untuk disiplin membaca bahkan sebelum mereka mampu membaca sendiri. Disiplin membaca diterapkan di semua tingkat pendidikan. Jika mereka telah selesai membaca selama periode tertentu, guru akan memberikan penghargaan di kelas yang bisa berupa piagam kecil atau gambar tempel. Tak heran jika di beberapa negara maju, disiplin membaca diterapkan sejak dini dan membawa hasil yang memuaskan.

Selain disiplin dalam membaca yang saya ungkapkan di atas, karakter selanjutnya adalah sifat mandiri yang diterapkan di sekolah.  Rata-rata anak orang Australia, dan juga mungkin di negara lain, terlihat lebih mandiri. Sifat tidak tergantung pada orang lain ini bisa dilihat sejak dini. Misalnya anak diminta untuk makan sendiri dan tidak disuapi lagi oleh orangtuanya sejak mereka mulai bisa makan. Mereka juga terbiasa untuk memakai dan melepas baju sendiri sejak kecil. Di sekolah, kegiatan belajar pun melatih kemandirian siswa.

Berempati Terhadap Sesama

Pemerintah Australia memberikan hak yang sama bagi siswa berkebutuhan khusus untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak –anak yang lain. Oleh karena itu sekolah umum tidak boleh menolak siswa berkebutuhan khusus yang mendaftar di sekolah tersebut. Dengan kebijakan ini, anak-anak diajarkan untuk berempati kepada orang lain sejak dini. Anak-anak diajarkan untuk menghormati perbedaan dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Tak heran jika anak-anak di Australia terbiasa belajar dengan anak-anak dengan karakter dan kebutuhan berbeda. Dan anak-anak yang berkebutuhan khusus itu disebut anak yang “istimewa”.

Karena mereka terbiasa bergaul dengan siswa berkebutuhan khusus, siswa pun lambat laun mengetahui ciri-ciri anak autis atau anak istimewa lainnya. Suatu hari anak saya yang bersekolah di Prep  mengatakan bahwa hari itu kelasnya kedatangan siswa baru. Dan menurut gurunya, anak-anak disarankan tidak duduk atau berdiri sangat dekat dengan anak itu. Bukan karena dia memiliki penyakit yang menular tapi gurunya menjelaskan bahwa anak itu memiliki ruang pribadi yang lebih luas dibandingkan anak lain yang tidak boleh dimasuki orang lain dan itulah yang menyebabkannya “istimewa”.  Tentu saja guru tidak boleh menyebarluaskan kebutuhan khusus apa yang disandang anak itu terhadap orang lain, tapi lambat laun setelah saya memperhatikan perkembangannya ternyata siswa yang dimaksud adalah penyandang Autis Asperger. Meskipun demikian dia selalu dilibatkan dalam semua kegiatan dan diperlakukan sederajat dengan siswa lainnya.

Apakah sebagai bangsa Indonesia kita tidak memiliki karakter mulia seperti yang penulis jelaskan di atas? Jawabannya tentu saja punya. Apalagi kita sering bangga mengatakan bahwa sebagai negara Timur kita lebih menjunjung tinggi nilai sopan santun dan hormat terhadap orang lain dibandingkan dengan negara Barat. Sayangnya, di sekolah kita pada umumnya karakter ini sering digerus kepentingan lain yang lebih tinggi seperti lulus ujian dengan nilai tinggi atau menjadi ranking pertama di sekolah. Nilai akademik yang hanya menekankan sisi kognitif siswa, selayaknya tidak hanya menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan pendidikan, apalagi untuk masa-masa gemilang anak usia dini. Saya percaya pembentukan karakter siswa yang santun, hormat, disiplin, mandiri dan berempati terhadap orang lain bisa dilakukan di sekolah kita dengan komitmen nyata dari semua pihak.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Gin Gin Gustine (menyelesaikan program Doktor di bidang Languange and Literacy Education, Deakin University, Geelong Victoria) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...