content detail

Rhyme Time dan Story Time: Kegiatan Mingguan yang Asyik

Post by: 06/03/2015 0 comments 1124 views
sumber: http://www.libraries.sa.gov.au/
sumber: http://www.libraries.sa.gov.au/

Bagi anak-anak, belajar perlu dilakukan dengan cara yang mengasyikkan. Misalnya belajar sambil bermain dengan lagu, cerita, dan gambar. Di Australia, perpustakaan merupakan salah satu tempat yang memiliki daya tarik bagi anak-anak untuk belajar sambil bemain. Yaitu dengan adanya program Rhyme Time dan Story Time. Rhyme Time adalah program untuk anak 0 – 18 bulan, dan Story Time untuk anak di bawah 5 tahun.

Perpustakaan memiliki Children’s Area, dimana para orang tua, atau anggota keluarga lainnya membacakan buku yang ada di perpustakaan untuk bayi mereka pada waktu Rhyme Time. Kalau dilihat-lihat, kami pasti terlihat lucu, sekelompok orang dewasa komat kamit sendiri dengan suara yang ditinggikan beberapa oktaf, dengan ekspresi wajah yang dianeh-anehkan. Si makhluk mungil yang dimaksud diajak bicara sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

Orang-orang yang datang pun dari berbagai negara,seperti China, Malaysia, Indonesia, Middle East, Australia, Spain, Africa, dan Japan. Dengan keragaman bangsa itu membuat saya tidak merasa asing atau berbeda sendiri di negeri ini. Karena dari mana pun kami, peran kami di sini sama, yaitu sebagai orang tua dari bayi-bayi mungil ini, dan tujuan kami sama, yaitu mengajak mereka belajar sambil bermain.

Sementara itu, untuk anak-anak yang lebih besar, ada program Story Time. Beda dengan Rhyme Time, di program Story Time anak-anak lebih didorong untuk berbagi cerita, dipancing dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana. Tiga puluh menit pertama diisi dengan bernyanyi, mendengarkan cerita dan menari. Di dalam Story Time, saat bernyanyi anak-anak diberikan beberapa properti pendukung lagu. Jumlah properti terbatas (atau sengaja dibuat terbatas), mengajari mereka untuk bergantian mendapat giliran menggunakan properti itu saat bernyanyi. Saat mendengarkan cerita, anak-anak diajak berdiskusi tentang buku yang dibacakan, dari gambarnya, ceritanya, atau hubungannya dengan kehidupan mereka. Tiga puluh menit terakhir diisi dengan aktifitas anak; mewarnai, menggunting, menempel, membuat buku, boneka jari, dan lain-lain. Di sinilah konsep berbagi tadi menjadi bermakna.

Setelah beberapa kali mengikuti program Story Time, banyak kemajuan yang terlihat dari anak saya, Rachela. Dia sangat semangat mempersiapkan dirinya dari rumah untuk pergi ke perpustakaan. Dia makin bisa terlibat dengan cerita yang dibacakan, makin bersemangat dalam setiap lagu, mau berbagi properti dengan teman-temannya tanpa disuruh lagi, mengembalikan buku setelah dibaca, dan meminjam buku di mesin peminjam buku. Setiap malam dia akan ngotot minta dibacakan buku yang ia pinjam di perpustakaan, berkali-kali. Tapi yang paling menjadi kejutan adalah ketika pada suatu hari, dia mampu membawakan cerita di buku itu. Dia hanya dapat membaca gambar, tapi dapat bercerita dengan alur yang benar, dengan bahasa Inggris yang cukup bisa dimengerti. Terima kasih Story Time.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Kadek Manik Permata yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...