content detail

Restorasi Karakter Bangsa

Post by: 13/04/2015 0 comments 1203 views
sumber: http://www.iberita.com/
sumber: http://www.iberita.com/

Melalui sekolah yang menyenangkan, sehat, dan berkarakter, bangsa Indonesia sebenarnya bisa melakukan apa yang disebut dengan restorasi karakter bangsa. Memang, segudang persoalan pendidikan masih menghantui, seperti fasilitas sekolah rusak, akses pendidikan yang tidak merata, ketimpangan kualitas guru, contekan masal, sampai budaya ‘hedonis’ yang menjangkiti anak-anak perkotaan. Sebagian anak usia sekolah di pedesaan kesulitan mendapatkan fasilitas sekolah yang memadai, sedangkan sebagian anak muda di perkotaan justru terlibat tawuran masal dan tidak memiliki kepeduliaan terhadap lingkungan dan sosialnya. Cerita tentang pengeroyokan siswa hingga tewas, perusakan fasilitas umum oleh sekelompok pelajar hingga ‘bully’ antar siswa sering menghiasi berbagai media nasional.

Keinginan baik pemerintah melalui berbagai kebijakannya, tampaknya masih kalah cepat dengan laju virus patologi sosial yang semakin menjadi-jadi di negeri ini. Tengok saja dengan kasus pelecehan seksual terhadap siswa-siswi TK Jakarta International School (JIS) yang dilakukan oleh komplotan guru dan petugas sekolah. Sekolah yang semestinya sebagai tempat pendidikan dengan standar kurikulum dan pengajar bertaraf internasional dengan segala kemewahan fasilitas yang dimilikinya, ternyata tidak mampu menjadi tempat yang ‘aman dan sehat’ bagi tumbuh kembangnya anak-anak.

Sungguh paradoks, peningkatan anggaran pendidikan negara, tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas pendidikan. Penyakit mental pun bermunculan seperti stres, trauma, dan kecenderungan bunuh diri. Gangguan mental ini, lambat laun mengakibatkan kerugian negara dalam jangka panjang dan rendahnya kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan. Merujuk laporan studi Kesehatan Dasar, Kemenkes, 2008, menyebutkan sekitar 20% pertahun jumlah siswa sekolah mengalami gangguan mental. Harus ada upaya bersama dan sangat kuat dari kita semua untuk merubah kondisi ini.

Harus dimulai dari mana?

Banyak para ahli pembangunan mengatakan bahwa pendidikan dapat menjadi senjata ampuh untuk memberantas kemiskinan melalui sumber daya manusia yang kompeten. Faktanya masih terlihat bahwa pendidikan justru menjadi lahan kapitalisasi dan belum menjadi upaya saling menguatkan. Sekolah-sekolah di Indonesia sibuk menaikkan biaya dengan dalih meningkatkan daya saing yang berakibat pada semakin sulitnya dijangkau oleh anak-anak pintar dari keluarga kelas ekonomi bawah. Selain itu, kegemaran melakukan standarisasi melalui program evaluasi semacam Ujian Akhir Nasional UAN, mengakibatkan pendidikan kita kental dengan muatan kognitif dan miskin “rasa” serta tidak “aplikatif”.

Kegagapan juga dijumpai para sarjana yang mengambil study master dan Ph.D di luar negeri ketika harus mengerjakan academic writing. Karena terbiasa menghapal, akhirnya menjadi lemah dalam berpikir analitis dan kritis. Program UAN hanya mengevaluasi satu aspek kemampuan saja, tidak mengevaluasi keseluruhan proses belajar anak. Akibatnya tidak banyak ruang yang disediakan oleh kurikulum pendidikan kita untuk mengembangkan aspek afektif (rasa) dan psikomotorik (pelaksanaan). Padahal tokoh pendidikan bangsa ini Ki Hajar Dewantoro  telah mencetuskan tiga konsep pengajaran yang utuh yakni ngerti (kognitif), ngrasa (afektif) dan nglakoni  (psikomotorik).

UAN yang selama beberapa tahun terakhir digunakan sebagai penentu kelulusan, membuatnya tidak hanya digunakan untuk mengukur dan meningkatkan prestasi akademis rata-rata siswa di Indonesia, tetapi juga menjadi wahana ‘proyek’ hingga menjangkitnya ‘penyakit sosial baru’ yakni turunnya moral kejujuran. Seperti maraknya bocoran soal dan kunci jawaban UAN yang dilakukan secara bersama-sama oleh siswa, guru, hingga pemangku kebijakan pendidikan. Untunglah untuk tahun 2015 ini, fungsi UAN mulai diubah, tidak lagi sebagai penentu kelulusan, tetapi evaluasi terhadap sistem pendidikan.

Sejak bertahun-tahun lalu, di Australia, sebenarnya juga sudah ada juga ujian nasional, yaitu National Assessment Program on Literacy and Numeracy (NAPLAN) Test. Tujuan utamanya ialah mengevaluasi sekolah dalam menerapkan metode belajar-mengajar (kurikulum) yang diukur melalui hasil test siswanya. Dengan demikian, siswa tidak terbebani untuk lulus atau tidak. Seperti yang telah ditulis sebelumnya oleh Ibu Sutarimah Ampuni (Baca: Sebuah Rapor Tanpa Angka), tes NAPLAN ini adalah program nasional asesmen kemampuan peserta didik dalam hal literacy (kemampuan baca-tulis) dan numeracy (kemampuan berhitung). Sesuai namanya, NAPLAN hanya menguji kemampuan baca-tulis dan hitung, tidak menguji kemampuan dalam matapelajaran lain yang diajarkan di sekolah.

Skor NAPLAN ini digunakan lebih sebagai data kelompok daripada sebagai data individual. Sekolah menggunakannya sebagai referensi mengenai bagaimana pencapaian anak didiknya secara umum, apakah sudah memenuhi standar nasional, bagaimana progresnya dari tahun sebelumnya, di mana letak kekurangannya dan bagian mana yang harus ditingkatkan. Sementara itu, untuk penilaian individual siswa, Kepala Sekolah mengingatkan bahwa rapor dari sekolah merupakan rujukan yang lebih akurat untuk melihat capaian siswa karena didasarkan pada catatan dan observasi guru sehari-hari sepanjang tahun.

Setelah lima tahun lebih saya tinggal di kota Melbourne, rasanya ingin sekali berbagi pengalaman terbaik dalam pendidikan tingkat dasar. Kebetulan tiga anak saya bersekolah di Clayton North primary School. Setiap kali mengantar-jemput, selalu saja keceriaan, kegembiraan, dan suasana menyenangkan terpancar dari wajah mereka. Mereka selalu berceloteh mengenai apa saja yang terjadi di sekolahnya. Dari cerita-cerita ringan itu, saya melihat bahwa sekolah di Australia mampu menghadirkan suasana yang menyenangkan untuk belajar.

Di negeri kangguru ini, siswa diajarkan bagaimana konsep matematika itu ditempatkan dalam mengajarkan logika berpikir dalam budaya tutur. Mereka misalnya diajarkan perbedaan kecepatan jatuh sebuah benda akibat memiliki berat berbeda dengan ketinggian berbeda. Anak-anak langsung diajarkan praktik sebuah logika “peristiwa alam” dan kemudian diajak untuk menemukan rumus itu melalui eksperimentasi langsung. Suatu pendekatan yang menggabungkan ketiga aspek pengajaran yakni olah pikir, olah rasa, dan olah karsa (tindakan nyata).

Para siswa dilatih bagaimana memiliki keterampilan hidup, kebiasaan membaca setiap malam, menceritakan apa saja yang dibawanya dari rumah di depan kelas (show and tell), musik, dan belajar bersosialisasi. Suatu proses belajar yang dapat menumbuhkan kemampuan berempati dan saling menghargai satu sama lain. Untuk menciptakan sekolah yang aman sekolah di Australia menerapkan aturan setiap siswa harus ditemani oleh minimal dua kawan ketika pergi ke toilet. Mereka menerapkan sistem “buddy”, siswa senior diwajibkan membantu, menemani dan menjaga siswa yunior jika mengalami kesulitan dan membutuhkan bantuan. Perilaku yang mengajarkan tanggung jawab dan kepemimpinan .

Para siswa diberi tugas untuk menulis dan menceritakan siapa pahlawan mereka dan mengapa dianggap pahlawan. Siswa diajarkan berpikir kritis, rasional dan bertanggungjawab atas pilihannya. Tak jarang pilihan pahlawan anak-anak itu sangat unik, misalnya “tukang pengangkut sampah” karena dianggap telah berjasa membuat lingkungan selalu bersih, sehat, dan jauh dari penyakit. Siswa di sini sejak dini diperkenalkan pentingnya tanggungjawab dan tugas setiap profesi pekerjaan yang mereka jumpai sehari-hari, misalnya polisi, pemadam kebakaran, dokter, insinyur hingga petugas petugas kebersihan. Anak-anak menjadi terlatih untuk memiliki kesadaran tinggi dampak buruk jika tidak mengikuti aturan mereka.

Singkatnya anak anak di sekolah Australia tidak dicekoki oleh hukuman, hapalan rumus, beban mata pelajaran bahkan prestasi ujian nasional yang fantastis. Mereka hanya dilatih keterampilan hidup melalui pelajaran memasak, pertukangan, berkebun, pengenalan bahasa asing, dan penanaman karakter positif sejak dini. Untuk mengajarkan inovasi dan pola pikir kritis dan rasional, Australia melatih siswanya sejak SD untuk selalu membaca dan merefleksikan bacaannya melalui argumentasi yang terukur dan penulisan esai yang mampu melebihi batas imajinasi mereka.

Revolusi mental bangsa, bukanlah sekedar jargon politis, melainkan sudah dipraktikkan di sekolah-sekolah dasar di Australia. Mereka hadir secara langsung menanamkan karakter positif dan optimis sejak dini melalui permainan yang menyenangkan, mudah, terjangkau tanpa fasilitas mahal.

Saya berharap, cerita-cerita tentang sekolah yang menyenangkan itu dapat dikumpulkan bersama dan dibagikan secara masif ke sekolah-sekolah di Nusantara. Mungkin upaya itu akan membantu menambah wawasan dan motivasi bagi para guru, orang tua, dan anak-anak di Indonesia untuk mendapatkan pengalaman bagaimana sekolah-sekolah di negara maju diterapkan. Agar para orang tua dan stake holder pendidikan di Indonesia dapat berpikir kritis dan tidak terjebak oleh jargon “internasionalisasi” yang hanya menggunakan bahasa asing dan bekerjasama dengan institusi asing. Agar seluruh siswa dari berbagai lapisan masyarakat dapat dengan mudah merasakan bahwa internasionalisasi itu bukan hanya belajar dengan fasilitas mahal dan teknologi maju, tetapi  justru menekankan aspek pendidikan karakter yang sebenarnya telah diajarkan oleh para leluhur bangsa.

Jadi, bisa dimulai dari mana? Memulai perbaikan pendidikan dasar kita dengan cara belajar kepada pengalaman sukses negara lain. Mengambil pengalaman terbaik dari negara maju untuk dijadikan bahan pembelajaran di Indonesia.

Semoga berkenan dan terus bergema.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Muhammad Nur Rizal (Ketua Perhimpunan Indonesia Belajar) dan Sutarimah Ampuni (Kandidat PhD di School of Psychology, La Trobe University, Melbourne) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...