content detail

PR KREATIF ABAD 21

Post by: 09/05/2016 0 comments 1408 views
Berikut merupakan tulisan dari ibu Ailis Safitri dari SD Muhammadiyah Macanan
Sleman yang merupakan salah satu sekolah dalam jaringan GSM.
Beliau berbagi pengalaman mengenai PR yang sering diberikan guru kepada siswanya.

13095771_1174752359221660_884549048293011474_n

PR KREATIF ABAD 21
Oleh Ailis Safitri

Saat anak lelah pulang sekolah lalu dilanjutkan dengan les ini itu, apa yg diharapkan guru untuk dilakukan seorang peserta didik di rumah? Ya, terkadang guru masih membebankan pekerjaan rumah (PR) dengan alasan agar si anak mau belajar. “Kalau tidak diberi PR, maka anak akan malas belajar di rumah…,” demikian komentar guru pada umumnya.

PR nya berupa mengulang pelajaran di sekolah (biasanya membaca dan menghafal), atau mengerjakan soal-soal di buku latihan, semuanya berkait dengan baca, tulis dan hitung. Sesungguhnya ada beberapa metode belajar di rumah untuk mengulang pelajaran di sekolah melalui bertutur atau bercerita (menceritakan kembali pelajaran yang ia terima di sekolah).

Penting ya mengulang kembali pelajaran di sekolah saat di rumah? Ya memang penting, namun jika itu saja yang diberikan maka si anak bisa jenuh atau bosan. Pengetahuan tidak hanya baca, tulis dan hitung dalam buku pelajaran, tapi juga bisa mengamati dan melakukan sesuatu. Sebagai contoh, si anak diberi PR untuk memperhatikan ibu memasak, jika ingin membantu boleh juga.

Saat di sekolah si anak diminta untuk bercerita pengalamannya mengamati ibu memasak, apa nama masakannya, apa saja bumbu yang digunakan, apa saja bahan masakannya, bagaimana cara memasaknya. Maka jadilah resep versi anak melalui sebuah pengamatan. Ia juga diperkenankan memberi tanggapan atau pendapat terhadap masakan ibunya tersebut.

Atau saat hari libur, mintalah si anak untuk ikut ibunya belanja ke pasar. Atau bisa juga mengamati dan membantu ayah mencuci kendaraan. Orangtua mengajak diskusi beberapa hal yang tidak dimengerti anak. Kemudian si anak akan menceritakan kembali pengalamannya tersebut dan tanyakan pelajaran penting apa yang ia dapatkan? Bukankah itu juga sebuah pembelajaran?

Banyak hal yang sifatnya tematik yang dapat dikerjakan anak saat di rumah sebagai sebuah PR. Contoh mengamati suasana di pasar, maka tema tersebut akan terkait dengan cara menghitung, berkomunikasi, ekonomi, pendidikan moral, dan sebagainya. Si Anak juga tidak hanya bisa “calistung” tapi juga melatih pengamatan, nalar/pikir serta mengetahui bagaimana bertindak.

Untuk itu kepada guru juga orangtua agar tidak memaknai belajar hanya dalam bentuk menghafal ulang ataupun mengerjakan soal-soal latihan, namun praktik juga penting. Agar anak menjadi terlatih logikanya dan mandiri. Bukan menghilangkan PR sekolah berupa latihan soal-soal, tapi dikurangi porsinya dan diganti dengan PR berupa praktik langsung.

Mintalah kepada orangtua untuk selalu mendampingi selama anak mengerjakan tugasnya tersebut. Bila ada hal-hal yang belum bisa terjawab oleh orangtua, maka pertanyaan dapat dibawa ke sekolah keesokan harinya. Si Anak bisa belajar (tanpa ia sadari sesungguhnya ia sedang belajar) dan komunikasi dengan orangtua dapat terjalin. Semoga bermanfaat 🙂

*Penulis : Ailis Safitri (SD Muhammadiyah Macanan, Sleman)

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...