content detail

Perubahan Haikal dan Jana di Sekolah

Post by: 01/04/2015 0 comments 986 views
sumber: http://siteaboutchildren.com/
sumber: http://siteaboutchildren.com/

Suatu siang sewaktu masih di Indonesia, anakku yang sulung pulang sekolah bersama adiknya. Namanya Haikal Jarjani. Saat itu usianya 7 tahun.  Sementara itu, adiknya Jana Safira Jarjani, usianya 6 tahun.  Sesampai di rumah, Jana sangat gembira mendapat nilai bagus.  Berbeda dengan Haikal yang saat sampai rumah diam saja dan agak cemberut.  Ada apa, ya? Merasa penasaran, saya langsung bertanya,

“Abang dapat nilai berapa hari ini?” tanyaku pada Haikal.

“Abang tidak dapat nilai hari ini, Yah, “ jawabnya.

“Kok, tidak dinilai?”

“Ya, Abang tidak nulis, Yah,”

“Kok tidak nulis, kenapa?”

“Abang termenung, Yah,”

“Termenung?”

“Ya, Abang termenung lihat papan tulis.  Jadi, tidak nulis yang ibu guru suruh”

“Emang Abang termenung terus-terusan hingga dari mulai masuk kelas hingga waktu pulang?”

“Ya,”

“Lain kali tulis yang ibu guru suruh, agar Abang naik kelas, ya?” kataku mengingatkannya baik-baik. Aku sebenarnya kaget mendengar penjelasannya yang aneh itu.  Tapi aku berusaha untuk tak  memaksanya menulis. Apalagi belum tahu pasti penyebabnya.

Rupanya, besoknya ia mengalami hal serupa.  Alasannya juga sama, termenung.  Pasti ada yang tidak beres, pikirku.  Aku harus memastikan apa sebabnya. Besoknya aku menemui gurunya, menanyakan hal itu.  Ibu gurunya membenarkan bahwa Haikal tak mau menulis. Ia duduk terus. Macam-macam alasan dibuatnya.  Tidak ada pensil, tak teraut pensilnya, lupa bawa buku.  Padahal aku dan ibunya selalu mempersiapkan segala keperluannya di malam hari setelah selesai mengerjakan PR.  Ada lagi yang ketahuan oleh ibu gurunya, Haikal sering mematahkan pensilnya sendiri, sehingga punya alasan tak menulis.

Haikal memang tampak agak berbeda, tapi sebenarnya punya potensi yang bagus. Kukatakan bahwa terlalu banyak PR yang diberikan untuk anak kelas 2 SD.  Setiap hari kuperhatikan dari balik jendela ruangan anak-anak diberikan tugas yang banyak untuk dikerjakan di sekolah dan di rumah.  Ibu gurunya duduk di depan menunggu anak-anak mengumpulkan tugas-tugas yang diberikan itu.  Sebagai seorang dosen yang ikut bertugas mengajar calon guru, batinku memberontak.

Tapi apalah artinya pemberontakan batin dalam menghadapi sekolah yang tidak mau membangun komunikasi yang baik dengan orang tua murid.  Tak ada pula aturan yang mengevaluasi proses pembelajaran guru, apakah sudah sesuai dengan usia anak atau tidak.  Aku terus berpikir bagaimana caranya keluar dari ketidakberesan ini.

Beberapa bulan kemudian, keluargaku turut serta mendampingiku melanjutkan studi di Australia, tepatnya di Melbourne.  Haikal dan adiknya tentu harus bersekolah di sana.  Namun, mereka tak memiliki kemampuan Bahasa Inggris sedikitpun.

Hari pertama aku dan ibunya mengantar mereka ke sekolah, Haikal menangis minta pulang begitu masuk kelas.  Jana yang didampingi ibunya di kelas yang lain juga mengalami hal yang sama.   Dengan penuh kuatir, kami mencoba menunggu, sambil bermain-main dengan permainan yang diberikan guru di dalam kelas.

Kupandangi ruangan kelas yang penuh dengan berbagai tempelan beragam warna.  Semuanya berisi macam-macam karya anak-anak yang dipelajari selama belajar di sekolah.  Tertulis nama anak-anak dalam berbagai karya itu. Sembari memperhatikan sudut ruangan yang rapi dan cara guru berteman dengan murid-murid, kulihat Haikal mulai asyik bermain.  Ketika ia sedang asyik bermain bersama teman-temannya, diam-diam aku mengendap pergi keluar kelas.

Sorenya, cepat-cepat kami jemput pada jam 3.30.  Perasaanku masih tak menentu ketika menunggu mereka.  Begitu lonceng pulang berdenting, kulihat satu persatu anak-anak keluar dari kelasnya masing-masing.  Tiba-tiba kulihat anakku Haikal muncul dari balik pintu.  Dari wajahnya sama sekali tak menunjukkan bahwa ia jera hari itu. Bola matanya yang bulat langsung diarahkan padaku, dan langsung berlari menujuku.

“Yah, besok datang lagi kemari, ya,” katanya sambil tersenyum. Hah! Aku tak menyangka ia begitu cepat berubah. Lalu kudengar mulutnya yang lincah bercerita tentang permainannya hari itu.  Bisa kulihat kalau dia sangat senang.

Pada hari-hari selanjutnya, mereka selalu ingin berangkat cepat ke sekolah. Bahkan, mereka tak mau langsung pulang ke rumah dengan cepat. Soalnya, banyak permainan yang bisa dipergunakan di sana, di dalam kelas dan di luar kelas.  Dengan berangkat cepat dan pulang agak lambat, mereka memiliki banyak waktu bermain bersama teman-temannya.  Kulihat keduanya sangat bersemangat bersekolah.

Tak banyak PR yang diberikan oleh sekolah. Hanya diminta membaca satu judul buku cerita ringan setiap hari di rumah dan diminta mengomentari sesuai dengan apa yang mereka pahami setelah membacanya. Setiap anak diberikan satu buku catatan untuk mencatat buku apa saja yang telah dibacanya setiap malam. Di buku tersebut ada kolom judul buku, komentar anak terhadap buku tersebut, dan komentar dari guru beserta stempel warna-warni gurunya yang lucu-lucu dan menggugah hati anak. Sangat senang anak-anak itu membuat komentar singkat tersebut, meskipun komentarnya sederhana.  Misalnya, ‘I like the kind frog in the book’.

Baru kemudian saya menyadari betapa banyak manfaat dengan adanya buku catatan untuk menuliskan komentar murid itu.  Secara tidak langsung, itu strategi bukan hanya untuk membuat anak termotivasi untuk membaca dan menulis setiap hari di rumah, tetapi juga bisa meningkatkan daya imajinasi anak.  Hal ini bisa saya amati dari komentar anak-anak saya di bukunya masing-masing, yang semakin hari semakin bagus dan panjang.  Pada awalnya saya bantu mereka untuk membaca dan memberikan komentar. Ternyata, semakin hari kian mandiri dan mampu mengungkapkan sendiri komentarnya .  Selain itu, anak-anak bukan hanya mau membaca satu buku per malam, tetapi seringkali membaca sendiri lebih banyak buku, meskipun tidak disuruh.

Semakin lama kemampuan anak-anak saya kian membaik.  Saya sebagai orang tua kerap diajak untuk berkomunikasi dengan pihak sekolah, terutama wali kelas, tentang anak-anak saya baik secara lisan maupun tulisan.  Secara lisan, saya kadangkala diberikan kesempatan untuk bertemu dengan guru-gurunya, seperti guru bahasa Inggrisnya, guru kebaikan murid, dan guru kelasnya.  Yang paling sering tentu bertemu dengan guru kelasnya, terutama setiap kali menjemput anak.  Wali kelasnya selalu berdiri depan pintu waktu anak-anak mau pulang, sembari menyapa murid-muridnya dan kadangkala berbicara dengan orang tuanya. Bila ada anak-anak yang terlambat dijemput orang tuanya, wali kelasnya akan menunggu hingga datang penjemput yang memang sudah dikenalnya. Pihak sekolah tidak akan mengizinkan anak-anak untuk pulang bila penjemputnya tidak dikenal.

Sementara itu, secara tulisan, sekolah menyediakan Buku Komunikasi, email, dan selebaran.  Bila ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh guru kepada orang tua atau orang tua kepada guru, Buku Komunikasi itu menjadi medianya. Motivasi dan komunikasi seperti itu sangat membantu.  Prestasi anak-anakku terus-menerus meningkat setiap hari.  Ia bahkan sudah mampu berbicara bahasa Inggris. Hal lain yang nampak darinya, ia sudah sangat aktif bergaul dengan rekan-rekannya di sekolah dan memanfaatkan fasilitas-fasilitas sekolah dengan baik.

Di akhir tahun, anakku yang dulunya merasa malang dan tertinggal sewaktu bersekolah di tanah air, ternyata dinobatkan sebagai anak cemerlang di sekolahnya di Australia.  Dengan bangga aku membaca di portofolionya: “Congratulations! Great effort! Haikal Jarjani for being an excellent, hardworking student.”

Dari pengalaman anak-anakku itu, aku yakin bahwa membuat anak-anak senang bersekolah itu sebenarnya tidaklah sulit. Yang terpenting adalah metode atau pendekatan pendekatan terhadap anak-anak lebih diperhatikan dengan memberi ruang yang sebesar-besarnya bagi tumbuh-kembang mereka. Usia sekolah dasar merupakan usia emas saat anak-anak mulai berlatih berpikir kritis, mengembangkan imajinasi, dan bercita-cita. Melihat pengalaman baik Haikal dan Jana di Australia, aku dan istriku bertekad untuk ikut mengembangkan metode negeri Kangguru ini saat pulang ke kampung halaman nanti. Fasilitas yang memadai memang penting tetapi jauh lebih penting lagi adalah keinginan dan kreativitas.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Jarjani Usman (Kandidat PhD bidang pendidikan di Faculty of Arts & Education, Deakin University, Australia.) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...