content detail

Pendidikan Seks Perlu Diberikan Bahkan Sejak Anak Masih Bayi!

Post by: 07/07/2015 0 comments 1576 views

Berita di televisi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa kejahatan seksual semakin tidak terkendali. Pelaku tindakan asusila juga semakin brutal, tega berbuat senonoh kepada anak di bawah umur. Kondisi sulit ini semakin diperparah dengan stigma buruk dari masyarakat terhadap korban, yang membuat korban enggan melapor ke pihak berwajib. Maka yang terjadi kemudian, korban, terutama yang masih di bawah umur, akan terus terkukung dalam penderitaan. Perkembangan teknologi dari perangkat gadget juga memungkinkan adanya transfer dan transmisi materi porno secara cepat tanpa mengenal usia.

sumber: www.huffingtonpost.com
sumber: www.huffingtonpost.com

Salah satu pendekatan yang bisa kita lakukan untuk mengatasi permasalahan sosial ini adalah dengan penerapan pendidikan seks kepada anak. Pendidikan seks yang selama ini masih menuai penolakan dari masyarakat, sebenarnya terjadi karena pendidikan seks masih dimaknai dengan sempit. Pendidikan seks dibutuhkan untuk menanamkan nilai moral kepada anak, menanamkan harga diri, kepercayaan diri serta kepribadian yang sehat.

Pertanyaan selanjutnya adalah, sejak kapan anak perlu mendapatkan pendidikan seks? Jawaban menarik saya dapatkan dari seorang Psikolog bernama  Clara Kriswanto dalam bukunya berjudul “Seks, Es Krim dan Kopi Susu”. Dari buku ini, saya jadi tahu bahwa  pendidikan seks untuk anak harus dimulai sejak dini, bahkan sejak usia 0 – 5 tahun (masa balita).  Wow, bagaimana bisa? Berikut Caranya!

Jangan Buka Popok Bayi di Muka Umum

Ternyata, penting untuk kita memperhatikan tempat untuk mengganti popok atau membuka baju bayi. Sangat dianjurkan agar kita melakukannya di tempat tertutup. Atau, jika memang tidak memungkinkan untuk menuju ke tempat tertutup, kita bisa menggunakan kain untuk menutup alat vital sang Bayi. Hal ini penting untuk menanamkan rasa malu sejak dini. Pernah kan melihat bocah sudah lumayan gedhe, tapi tidak malu keluar kamar mandi tanpa busana? Nah, supaya anak kita kelak tidak seperti itu, kita harus ajarkan budaya malu sejak dini. Nanti setelah agak besar, mulai ajarkan kepada anak untuk tidak buang air kecil di tempat terbuka dan tidak keluar kamar mandi tanpa busana.

Jangan Sebarkan Foto Bayi Tanpa Busana

Mulai banyak orang tua yang dengan bangga menyebarkan foto bayinya tanpa busana. Iya sih, bayi yang tidak menggunakan busana itu tampak lucu dan menggemaskan. Tapi, ternyata ini memberikan efek yang tidak baik. Apalagi sudah banyak ditemukan kasus yang tidak masuk akal dimana orang dewasa berbuat tidak semestinya terhadap balita. Makanya, sejak bayi, kita harus mengajarkan kepada bayi kita untuk tidak memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang vital di depan umum.

Jangan Berikan ASI Di Tempat Terbuka

Kita kelak juga harus berupaya untuk memberi contoh yang baik kepada anak kita. Salah satunya dengan tidak menyusui di muka umum. Ini akan mengajarkan anak tentang privasi. Saat bayi sudah berusia 2 tahun juga seharusnya kita tegas untuk  berhenti memberinya ASI. Selain agar anak menjadi mandiri, anak usia 2 tahun juga sudah memiliki daya rekam dan visual yang baik. Jadi seorang ibu sudah seharusnya untuk tidak mempertontonkan dadanya kepada sang Anak.

Ajak Ia Komunikasi Tentang Bagian Tubuhnya

Ini juga penting ternyata. Kita harus perhatikan tangan anak kita. Jika tangan anak kita seringkali memegang alat vitalnya dengan tangan, maka kita harus mengalihkan perhatian. Misalnya dengan menggenggamkan pensil atau mainan ke tangannya. Ini juga perlu diterapkan sampai anak beranjak besar. Bahwa memegang alat vital di muka umum itu tidak boleh sama sekali. Kita juga bisa mulai untuk mengajaknya berbicara tentang organ tubuh. Apa saja organ-organ tubuh yang dimiliki, apa fungsinya, dan bagaimana untuk menjaganya.

Gunakan Baju Sesuai Gender

Ternyata, kita perlu membiasakan anak untuk berpakaian sesuai identitas kelaminnya sejak bayi. Banyak kelalaian orang tua terkait hal ini. Mereka membuat anak perempuan menjadi tomboy dan anak laki-laki menjadi feminin. Dalam kondisi ekstrem, ketika ia mulai besar, anak bahkan bisa mengalami kebingungan identitas seksual.

 

Dyah Laily Fardisa, disadur dari isigood.com. Tulisan lengkap dapat dibaca di sini.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...