content detail

Pemimpin Masa Depan itu Ada di Sekolah

Post by: 14/03/2015 0 comments 1839 views

Pemimpin sekolah

Kepemimpinan memang tidak termasuk dalam salah satu 18 karakter yang perlu dikembangkan anak-anak Indonesia melalui pendidikan, tetapi saya ingin mengajak kembali melakukan refleksi pentingnya sekolah menumbuhkan karakter kepemimpinan bagi putra-putri bangsa ini. Terinspirasi aktivitas sederhana di sekolah dasar Melbourne, Australia, dalam mengembangkan karakter kepemimpinan anak-anak sejak SD. Tentang bagaimana sekolah di sini mempercayai bahwa kepemimpinan tidak hanya bakat bawaan seseorang, tetapi sebuah hasil belajar melalui pendidikan.

Sore itu saya dan anak-anak sedang menikmati suasana senja di sebuah taman terbuka di sekitar tempat tinggal kami di Melbourne. Ketika saya sedang asyik membaca buku sambil menemani anak-anak bermain, tiba-tiba anak pertama saya, Aliya (11 tahun) mendekat dan bertanya,

“Bunda, aku ingin mendaftar menjadi kapten sekolah, bolehkah?”

Saya memang tahu bahwa di Melbourne, anak-anak kelas 6 akan dipilih menjadi leaders (pemimpin). Namun, saya ingin mengetahui satu hal penting darinya.

“Boleh, Kak, tapi boleh Bunda tanya sesuatu. Bunda ingin tahu, siapa yang meminta kakak menjadi kapten sekolah dan mengapa ingin menjadi kapten sekolah?”

“Bunda, memang guru-guru dan teman-teman mendorong aku mendaftar menjadi kapten sekolah, tapi aku sendiri juga ingin menjadi leader di sekolah,” jawabnya.

Saya lanjutkan lagi pertanyaan saya,

“Apa yang menyebabkan Kakak ingin menjadi kapten sekolah?”.

Dengan lantangnya dia menjawab, “Aku ingin membantu sekolah menciptakan suasana aman dan menyenangkan untuk belajar teman-teman, Bunda.”

Saya tertegun mendengar jawabannya. Seakan tidak percaya terhadap apa yang baru saja saya dengar.  Saya mengangguk dan menepuk pundaknya. Saya berpikir dengan tugas seperti itu pasti tidak banyak yang ingin menjadi kapten sekolah.

Jika kamu pikir ini baik buat kamu dan sekolahmu, jalani saja, Aliya.”

Sungguh mengejutkan mengetahui bahwa anak-anak yang mendaftarkan diri menjadi kapten sekolah lumayan banyak dan mengajukan dirinya secara sukarela, bukan karena ditunjuk ataupun diminta. Melihat anak-anak usia 12 tahun dengan kesadaran penuh mengajukan diri menjadi pemimpin di antara teman-temannya adalah sesuatu yang patut dihargai.

Saya jadi teringat pada satu aktivitas yang dibuat oleh sekolah yaitu who is the inspiring leader in the world?  Dalam aktivitas itu, anak-anak diminta untuk melakukan penelitian terhadap salah satu tokoh pemimpin di dunia dengan cara membaca buku biografinya atau mencari melalui internet. Setelah itu anak-anak diminta untuk menggambarkan tokoh tersebut dengan poin-poin yang sangat sederhana.

Setelah masing-masing anak menuliskan tokohnya, mereka mendiskusikan di kelas dan mencoba mencari kesamaan dari para tokoh tersebut. Dengan aktivitas tersebut, anak-anak sebetulnya mulai belajar mengenai sifat-sifat yang biasanya dimiliki oleh tokoh pemimpin di dunia. Kegiatan ini membuat anak-anak menemukan bahwa para pemimpin inspiratif biasanya memiliki sifat berani memperjuangkan suatu hal dengan kesungguhan sehingga mampu mengajak orang lain untuk melakukannya. Dan apa yang para pemimpin perjuangkan adalah kepentingan orang banyak, bukan kepentingan dirinya sendiri.

Setelah anak-anak yang berminat menjadi kapten sekolah itu mendaftarkan diri, pada satu hari yang ditentukan, mereka diminta untuk mempresentasikan alasan mereka menjadi kapten dan apa yang akan mereka lakukan. Dengan percaya dirinya masing-masing maju ke depan bergantian menjelaskan tentang alasan mereka ingin menjadi kapten sekolah dan apa yang ingin dilakukan ketika menjadi kapten sekolah. Ada yang ingin membuat sekolah adalah tempat yang aman dan menyenangkan, teman-temannya ada yang menginginkan sekolah memiliki program lingkungan yang bagus, ada yang ingin sekolahnya hebat di olah raga dan memiliki tim olahraga yang hebat dibandingkan sekolah lain, serta ada juga yang ingin mewujudkan sekolahnya menjadi sekolah yang nyaman untuk murid dari berbagai latar belakang.

Sekolah ini mengajarkan kesungguhan pada anak-anak tentang apa arti tujuan memimpin. Sejak dini mereka telah dikenalkan bahwa memimpin bukan sekedar menjadi’ bos’ yang dapat memerintah teman-temannya, tetapi lebih dari itu harus memiliki pandangan jauh ke depan dengan membuat harapan. Harapan itu tidak hanya untuk dirinya, melainkan untuk seluruh rekan-rekan sekolahnya. Setelah mereka satu persatu selesai mempresentasikan visi misinya, para guru akan memberikan suaranya dengan menuliskan nama untuk memilih satu kapten sekolah perempuan dan satu kapten sekolah laki-laki yang akan diumumkan seminggu kemudian.

Nah, di sekolah dasar di Australia, selain kapten sekolah ada beberapa anak lain yang menjadi kapten di berbagai bidang, misalnya kapten olahraga, musik, media, Bahasa Jepang/Perancis/Jerman, lingkungan hidup, seni dan budaya, dan juga ‘kapten house’. Masing-masing kapten memiliki tugas di bidangnya masing-masing. Kapten-kapten tersebut dipilih di antara anak-anak yang telah mengajukan diri.  Kapten olah raga memiliki tugas menginspirasi rekan-rekan di sekolahnya untuk mencintai dan aktif di kegiatan olahraga. Ia bekerja sama dengan guru olah raga dalam membuat programnya. Demikian juga kapten seni (art captain) bertanggung jawab membuat aktivitas seni dan budaya di sekolah bekerja sama dengan guru seni dan budaya. Lain halnya dengan kapten lingkungan hidup. Dia bersama-sama dengan guru seni akan membuat dan melaksanakan program lingkungan di sekolah tersebut.

Anak-anak yang terpilih menjadi kapten tersebut adalah anak-anak yang memilki rekam jejak yang bagus di bidang masing-masing di mata adik-adik kelasnya. Misalnya ada satu anak yang menjadi kapten media, karena anak tersebut  dikenal canggih sekali membuat web dan teknologi IT dalam melakukan aktivitas sekolah, juga rajin menginisiasi aktivitas menulis dan sosialisasi menggunakan media IT. Hal itu mengajarkan pada anak-anak bahwa untuk menumbuhkan kepemimpinan, seseorang harus memiliki satu hal yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, dibagikan kepada orang lain tanpa diminta sehingga orang lain mengapresiasi bahkan terinspirasi untuk mengikuti. Sekolah menunjukkan pada anak-anak bahwa hasil karya sangat penting untuk menandai bahwa seseorang pantas diteladani.

Selain menjadi role model bagi teman teman dan mengkoordinasikan para kapten yang lain dalam melaksanakan tanggung jawabnya, kapten sekolah memiliki tugas yang lebih utama. Yaitu mewujudkan nilai-nilai yang dianut menjadi sebuah budaya perilaku di sekolah bersama-sama dengan guru dan kepala sekolah. Maka ia akan membuat sebuah rencana aktivitas dimana kapten sekolah harus menjadi representasi dari nilai-nilai tersebut.

Ternyata anak-anak Indonesia yang bersekolah di sini memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi dan tidak kalah bersaing bahkan dengan anak-anak Australia. Dari 12 kapten yang ada, 5 kapten dari Indonesia termasuk kapten sekolahnya. Tentu hal tersebut bukan kebetulan. Saya memiliki keyakinan bahwa anak-anak Indonesia memiliki kemampuan yang hebat untuk dapat berdiri sama tinggi dengan anak-anak bangsa lain. Anak-anak Indonesia memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi untuk mampu memimpin anak-anak dari bangsa lain di dunia.

Sudah saatnya, Indonesia menyuarakan pentingnya karakter kepemimpinan hadir dan mewarnai jiwa-jiwa bersih mereka dan tumbuh bersama ketika mereka dewasa. Suatu hari nanti, sekolah sekolah di Indonesia akan menjadi ”sekolah yang asyik”, menjadi  tempat untuk tumbuhnya anak-anak yang pintar dan menjadi tempat yang indah untuk bersemainya pemimpin-pemimpin masa depan yang berani, cerdas dan berbudi. Dan pemimpin-pemimpin masa depan itu ada di sekolah.

 

Tulisan dan gambar merupakan rangkuman dari tulisan Novi Poespita Candra (PhD student ,Center for International Mental Health, School of Population and Global Health, The University of Melbourne) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...