content detail

Model Menjadi Modul

Post by: 18/03/2016 0 comments 830 views

Salah satu prinsip kerja partisipasi dalam penyusunan renstra (rencana strategis) adalah penggunaan pola bottom-up dan bukannya top-down. Demikian yang dilakukan GSM dalam menentukan instrumen dan indikator program kerjanya. GSM tidak membuat modul untuk diterapkan ke sekolah-sekolah, melainkan pengalaman sekolah dijadikan dasar (model) sebagai bahan penyusunan modul.

Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru
Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru

Beberapa kepala sekolah/guru dari sekolah dampingan GSM tampak hadir di sekretariat GSM di Fastnet, Sekip UGM (17/3). Mereka saling berbagi pengalaman terhadap praktik di sekolah masing-masing. Setiap temuan baik kelebihan dan kekurangannya dibahas dan didiskusikan sehingga menjadi bahan pembelajaran bersama. Inilah salah satu pola monitoring yang dilakukan GSM, belajar bersama.

Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru
Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru

Kembali kepada agenda penyusunan instrumen dan indikator keberhasilan program. Masing-masing sekolah diminta untuk menceritakan dan menjelaskan apa yang paling diharapkan terhadap siswanya? Dari sekian banyak yang diharapkan tentu bisa jadi sama atau bisa juga berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya, “Prinsipnya menggunakan skala prioritas. Tidak perlu terlalu banyak yang penting realistis,” ucap Novi Candra.

Sekolah memang perlu dilatih untuk bisa menyusun rencana strategis-nya sendiri. Selama ini kepala sekolah dan guru kerap menyesuaikan dan menggunakan indikator yang sudah disiapkan oleh dinas. Dalam pola top-down seperti itu dikhawatirkan sekolah tidak bisa berkreasi dan guru tidak kreatif mengembangkan pemikirannya sendiri.

Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru dalam penyusunan rencana strategis
Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru dalam penyusunan rencana strategis

Sebaliknya dengan pola bottom-up, guru lebih bebas mengekspresikan kreatifitasnya yang selama ini sudah dipraktikkan di sekolah masing-masing. Mereka juga bisa saling belajar bila ada ide gagasan kreatif lainnya. Dari sekian ide kreatif disepakati bersama untuk dijadikan atau dibuatkan panduan atau semacam modul.

Kebutuhan penyusunan instrumen dan indikator ini juga didasari kepada pengalaman sekolah yang sekadar kreatif namun tidak ada ukuran yang jelas. Tanpa adanya ukuran yang jelas dalam pencapaiannya menyebabkan sekolah sulit melakukan evaluasi apakah sudah berhasil atau belum, seberapa besar capaiannya atau kekurangannya.

Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru
Diskusi GSM, Kepala Sekolah, dan Guru

Semoga apa yang menjadi agenda GSM hari ini bisa lebih memberi motivasi bagi sekolah model GSM serta menginspirasi sekolah lainnya, bahwa setiap sekolah sesungguhnya memiliki keunggulan sesuai kompetensinya masing-masing, dan hal tersebut bisa menjadi pembelajaran bersama. Mari sama-sama kita majukan sekolah menjadi sekolah yang menyenangkan.

 

Penulis : Ailis Safitri (Kepala SD Muhammadiyah Macanan, Sleman)

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...