content detail

Mindset

Post by: 22/08/2016 1 comments 647 views

 

Berikut merupakan tulisan dari salah satu guru SD Muhammadiyah Macanan, sekolah dalam jaringan GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) mengenai "mindset" atau pola pikir antara konvensional dan modern terhadap pendidikan.

SOAL MINDSET

oleh : Ailis Safitri

Dunia pendidikan memang komplek, banyak hal yang harus dipikirkan, mulai dari pelaku, materi, budaya, lingkungan dan sebagainya. Satu yang saya ingin sharing adalah soal mindset, antara yang konvensional dengan yang modern (saya kategorikan saja demikian).

Yang berpikiran modern menganggap bahwa karakter jauh lebih utama untuk ditumbuhkembangkan ketimbang nilai. Orang tua modern jika ditanya, “menghendaki pendidikan anak yang seperti apa?” Maka jawabnya, “Ingin anak yang kreatif, terutama dapat mengatasi masalahnya sendiri,” demikian.

Foto: sd muh macanan - membaca jadi budaya
Foto: sd muh macanan – keterampilan – membaca jadi budaya

Sementara orang tua yang konvensional masih berharap agar anaknya menjadi pintar dengan ukuran mendapat nilai yang bagus, dengan alasan supaya bisa melanjutkan ke sekolah negeri (faktor gengsi dan biaya).

Orang tua modern lebih menekankan pendidikan anak yang memprioritaskan life skill, sementara yang konvensional lebih suka agar anaknya diberi pendidikan berkait dengan pelajaran.

sd muh macanan - belajar bersama kakak kelas
sd muh macanan – belajar keterampilan komputer (IT) bersama kakak kelas

Kondisi seperti ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah yang berada di pedesaan, di mana wali murid mayoritas berasal dari status sosial menengah kebawah. Pemikiran mereka masih sangat konvensional dan pragmatis, anak disekolahkan supaya pintar dan mendapat nilai yang bagus. Apabila nilainya jelek maka sekolah diminta pertanggungjawabannya.

Seperti sudah sama-sama diketahui bahwa materi pelajaran untuk tingkat sekolah dasar sekarang ini lebih ditekankan kepada pendidikan karakter (60-70%) dan pengetahuan (30-40%). Kurikulum pun sudah mulai dialihkan dari KTSP ke K13 (kurikulum 13). Namun jika masyarakat maupun guru masih memiliki mindset yang konvensional dan pragmatis yang lebih mengutamakan nilai, maka perjuangannya masih akan panjang.

Foto: sd muh macanan - belajar bersama kakak kelas
Foto: sd muh macanan – melatih keterampilan sosial dan komunikasi – belajar bersama kakak kelas

Beberapa strategi sesungguhnya sudah mulai diterapkan di banyak sekolah. Salah satunya dengan menerapkan metode pembelajarn bertingkat. Maksudnya kelas 1-4 menekankan pendidikan karakter, sementara kelas 5-6 lebih menekankan pengetahuan (drill). Atau pihak sekolah berani untuk tidak terlalu fokus kepada UN (khusus kelas 6, 9 dan 12), misalnya. Karena tidak pernah ada jaminan juga bila terlalu fokus kepada UN maka hasilnya akan bagus, sementara jika sekolah tidak terlalu fokus UN maka hasilnya akan jelek.

Hasil nilai evaluasi bagus atau jelek memang sangat bergantung kesiapan siswa. Namun apabila secara psikologis anak menjadi stress karena beban belajar yang tinggi, maka akan percuma juga. Inilah pentingnya merubah pola pikir masyarakat yang selama ini (justru) terlalu membebankan anak. Beberapa pengalaman menunjukkan bahwa anak yang nilainya bagus tidak kemudian menjadi jaminan berhasil dalam kehidupannya kelak.

sd muh macanan - pendidikan karakter - latihan antri
sd muh macanan – pendidikan karakter – latihan antri

Mari bekali anak tidak hanya dengan ilmu pengetahuan tapi juga keterampilan mengolah pikir, rasa dan sikap sehingga kelak ia siap menghadapi segala tantangan kehidupan yang dihadapi.

Comments (1)

saya justru sedang mencari sekolah yang demikian di Purwokerto-Banyumas, saya rasa sekolah yang hanya mengedepankan nilai bagus apalagi kalau anak tidak sesuai KKM harus pindah ke sekolah lain adalah sekolah J A H A D
Mohon informasinya jika ada sekolah yang demikian untuk anak saya. Trimakasih

Balas

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...