content detail

Mimpi Buruk, Mengapa Anak Bangun dan Ketakutan?

Post by: 04/06/2015 0 comments 1243 views

Entah sejak umur berapa anak mulai bermimpi, tapi bahkan balita pun sudah mulai bercerita soal mimpi, baik yang menyenangkan maupun yang menakutkan. Hampir semua anak pernah mengalami mimpi yang tidak menyenangkan. Terutama, bagi balita yang sudah mulai merasa takut pada gelap. Mimpi buruk merupakan puncak mimpi yang tidak menyenangkan,

Mimpi buruk tidak dapat sepenuhnya dicegah, tetapi orang tua dapat menciptakan suasana yang nyaman bagi anak untuk beristirahat di malam hari. Dengan begitu, jika anak tiba-tiba mengalami mimpi buruk, orang tua dapat menenangkan dan membuat anak kembali nyaman. Membantu anak mengatasi rasa takut dapat melatihnya untuk terbiasa mengatasi hal-hal yang mungkin membuatnya takut di masa pertumbuhannya.

Mimpi biasanya muncul di fase ketika otak sedang sangat aktif memilah pengalaman dan informasi baru dalam proses belajar dan mengingat. Gambaran nyata di otak dalam proses ini membuat kejadian terasa nyata dan memicu emosi pada anak. Fase ini dikenal dengan fase Rapid Eye Movement (REM), sebab pada masa ini, mata bergerak dengan cepat di bawah kelopak mata yang terpejam. Mimpi buruk cenderung terjadi pada paruh kedua tidur malam, ketika interval fase REM lebih panjang.

Ketika anak terbangun dari mimpi buruk, gambaran soal kejadian menyeramkan masih tergambar jelas di kepala mereka. Oleh sebab itu, sangat wajar jika anak merasa takut dan kesal, lalu memanggil orang tua mereka agar merasa lebih nyaman. Saat anak hampir memasuki usia sekolah, anak akan memahami bahwa mimpi buruk hanyalah sebuah mimpi yang tidak nyata dan tidak dapat menyakiti. Tetapi hal tersebut tidak akan membantu mereka untuk tidak merasa takut. Bahkan anak-anak yang lebih besar bisa saja merasa takut ketika mereka terbangun akibat mimpi buruk, sehingga membutuhkan rasa nyaman dari orang tua.

Tidak ada yang tahu persis apa penyebab mimpi buruk. Mimpi buruk nampaknya menjadi salah satu cara bagi anak untuk belajar berpikir dan merasakan sesuatu tentang situasi yang dihadapi, serta mengatasi rasa khawatir yang muncul.

Seringkali, mimpi buruk muncul tanpa alasan yang jelas, tetapi pada beberapa kesmpatan, mimpi buruk terjadi sebagai akibat dari stress atau perubahan yang terjadi pada hidup anak. Peristiwa atau situasi yang mungkin membuatnya merasa terganggu, seperti pindah rumah, sekolah di tempat baru, kelahiran adik, atau masalah keluarga lainnya dapat membuatnya mengalami mimpi yang meresahkan. Terkadang, ketika mimpi buruk juga terjadi rebagai reaksi trauma pada anak, seperti setelah mengalami bencana alam, kecelakaan, atau cedera. Sementara itu, bagi beberapa anak, terutama yang memiliki imajinasi yang baik, membaca buku atau menonton acara TV yang menakutkan sebelum tidur dapat membuat mereka mengalami mimpi buruk juga.

Mimpi buruk apa yang dialami anak dapat mencerminkan apa yang dihadapi anak pada usianya, misalnya ketika dia sedang berjuang melawan perasaan yang agresif, kemandirian, atau ketakutan karena akan berpisah dengan hal yang ia sukai. Karakter yang mungkin muncul bisa jadi berupa monster, orang jahat, hewan, makhluk khayalan, atau malah orang-orang dan tempat yang selama ini ia kenal. Terkadang, isi mimpinya merupakan kombinasi dari semuanya, sehingga terasa menakutkan.

Bagi anak-anak, mimpi buruk yang dialami misalnya dikejar, dihukum, kehilangan, atau bahkan ditelan oleh makhluk asing. Terkadang, kejadian dalam mimpi adalah kejadian yang dikenali di dunia nyata, tetapi ditambah dengan akhir yang menakutkan dan tidak biasa. Anak sebenarnya mungkin tidak begitu ingat detail mimpinya, tetapi ia dapat mengingat bagian menakutkan yang membuatnya merasa tidak aman. Memahami penyebab dan mekanisme mimpi buruk, dapat membantu orang tua menemukan cara yang tepat untuk  membuat anak tidur lebih nyaman.

 

sumber: kidshealth.org

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...