content detail

Metode Belajar Berbasis Bermain

Post by: 07/04/2015 0 comments 1708 views
sumber: http://idiva.com/
sumber: http://idiva.com/

Pengalaman membuat saya tertarik untuk berbagi informasi tentang bagaimana cara orang Australia memfasilitasi ruang gerak anak, baik secara kognitif , motorik , sosial dan emosional. Usia anak yang akan dibahas adalah usia anak pra sekolah, atau bisa dikatakan usia dari lahir sampai usia 5 tahun. Istilah “bermain” menjadi latar belakang  pemerintah Australia untuk mengembangkan sebuah framework  yang digunakan oleh para pendidik  Australia dalam ranah belajar anak dalam seting institusi child care.

Mengapa pendekatan “bermain” yang mereka gunakan? Jawaban yang diutarakan oleh pemerintah Australia adalah karena bermain memberikan kebebasan atas keunikan dan kepribadian anak untuk bisa diekspresikan, meningkatkan sifat keingintahuan dan kreatifitas, mendampingi anak untuk mengembangkan hubungan antar konsep, dan mampu menstimulasi well-being anak (EYLF,2009. P.46). Hasil penelitian Bodrova & Leong (2005) menyebutkan bahwa anak-anak yang ikut terlibat dalam kegiatan bermain secara aktif, memiliki keterampilan memori yang  berkembang dengan lebih baik, mengalami perkembangan bahasa, dapat mengatur perilaku mereka, serta lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan akademis. Tidak kalah pentingnya, bermain yang dilakukan dengan cara berinteraksi dengan orang lain dinilai dapat menumbuhkan kompetensi sosial pada anak. Mereka dapat menjalin kerja sama, bernegosiasi, dan menyelesaikan konflik yang muncul dalam permainan tersebut (Lester & Russel, 2008).

Pemerintah Australia berkomitmen mengembangkan sebuah kerangka pendidikan yang dikhususkan utuk anak-anak usia 0 sampai 5 tahun yang dikenal dengan istilah Early Years Learning Framework (EYLF).  Pendistribusian kurikulum di masing-masing institusi child care di seluruh Australia diseragamkan dengan bersumber pada kerangka tersebut, dimana pendekatan yang dipakai adalah bermain. Ada beberapa konsep bermain  yang saya temui saat saya menjalani pendidikan  dan kerja praktik. Konsep tersebut sebaiknya dimengerti, sehingga lebih dapat memahami apa manfaat jenis permainan tersebut terhadap keterampilan anak, yaitu :

  1. Quiet Play

Konsep bermain yang melibatkan anak hanya bermain dengan aktivitasnya secara tenang, tanpa ada interaksi dengan orang lain. Contoh : membaca buku, menggambar, mewarnai, melengkapi puzzle, meditasi, dan lain sebagainya.

  1. Active Play

Konsep bermain dimana anak menggunakan aktivitas motorik kasar dalam melakukannya secara sendiri maupun berkelompok dengan orang lain. Contoh : lompat tali, lompat jauh, lari, memanjat, gym, lempar tangkap bola, sepak bola, kasti, dan lain sebagainya.

  1. Functional Play

Konsep bermain ketika anak melakukan repetisi dalam aktivitas permainannya Contoh : seorang bayi yang bermain dengan rattle atau aktivitas anak mendrible bola.

  1. Creative atau Expressive Play

Konsep bermain dimana anak menggunakan serangkaian perlengkapan atau media untuk mengekspresikan dirinya. Contoh : artwork, drama, bermain musik, perbendaharaan kata melalui board game.

  1. Imaginative Play atau Pretend Play

Konsep bermain dimana anak menggunakan imajinasi mereka. Contoh : drama, masak memasak (pasaran), bertindak sebagai penjual dan pembeli di restoran, dan lain sebagainya.

  1. Constructive Play

Konsep bermain dimana anak menggunakan objek yang dibentuk sedemikan rupa sehingga memberikan hasil yang dapat diinterpretasi. Contoh : bermain dengan puzzle, balok-balok, lego, seperangkat alat pertukangan.

Bermain tentu saja memiliki fungsi aktif terhadap perkembangan anak, salah satunya misalnya melatih anak untuk dapat memecahkankan masalah ketika bermain puzzle. Namun, sebenarnya bermain juga memiliki fungsi aktif ganda misalnya ketika anak bermain drama, meraka akan belajar bagaimana membangun hubungan (sosial) dengan orang lain serta mengembangkan imajinasi atas tokoh yang diperankan (perkembangan otak).  Secara lengkapnya mari kita lihat pernyataan dari Scarlett (2004) :

“Bermain itu memperkuat perkembangan dan pertumbuhan anak. Secara umum bermain memfasilitasi perkembangan sosial, kognitif, emosional, moral dan pertumbuhan fisik.”

Pada saat melakukan kerja praktik, saya berdecak kagum melihat suasana ruangan yang dipenuhi dengan berbagai macam mainan edukasi dan setting ruang yang dirancang untuk anak, agar mereka dapat memilih proyek (mainan) apa yang akan dipilih. Ruangan itu dipenuhi oleh anak-anak yang berusia sekitar 4-5 tahun, yang digolongkan menjadi anak-anak preschool, yaitu masa pendidikan antara kelompok kindergarten (Taman Kanak – Kanak) dengan primary school (Sekolah Dasar). Anak-anak tersebut diampingi oleh para fasilitator atau tepatnya edukator dengan rasio 1 edukator memegang 12 – 15 anak usia di atas 36 bulan.

Saya sendiri belum pernah mendapati ada peraturan perbandingan guru dengan anak didiknya untuk usia pra sekolah. Sementara itu, di Australia sendiri, rasio ini diberlakukan sebagai peraturan yang harus dipatuhi jika kelas tersebut ingin berjalan. Sekedar informasi tambahan, untuk usia 0-24 bulan, perbandingannya adalah 1 edukator memegang 3-4 anak, sedangkan usia 24-36 bulan adalah 1 edukator memegang 4 anak. Berbicara mengenai pentingnya ratio adalah menyangkut efektifitas seorang pendidik dalam memfasilitasi anak didiknya sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Beban pekerjaan yang diampu oleh setiap edukator diharapkan dapat terpenuhi dengan tepat dan tidak berlebihan. Bagian penting lainnya adalah diadakannya observasi individual pada masing-masing anak. Para pendidik memiliki record hasil observasi anak yang tujuannya adalah untuk mencari tahu ketertarikan anak, rencana program yang akan dilaksanakan, dan kelebihan anak pada bidang tertentu.

Begitu pentingnya konsep bermain untuk sarana belajar anak-anak, pemerintah Australia berkomitmen untuk memfasilitasi mereka dengan diadakannya perpustakaan permainan (Toys Library). Perpustakaan ini diprakarsai sendiri oleh pemerintah, salah satunya yang ada di Melbourne, dimana pengelolanya dipegang oleh Melbourne City Council yang sifatnya organisasi non-profit. Permainan yang disediakan beragam untuk anak usia 0-6 tahun. Sistem yang diberlakukan sama dengan perpustakaan buku pada umumnya, hanya saja yang dijadikan objek peminjaman adalah mainan. Untuk menjadi anggotanya pun tidak harus membayar mahal, cukup dengan membayar $25 (setara dengan Rp. 250.000,-) untuk satu tahun. Keuntungan yang diperoleh untuk anak-anak selain dapat meminjam mainan yang diinginkan, juga dapat bersosialisasi dengan anak-anak lain dalam komunitas perpustakaan tersebut.

Lain cerita saya temukan juga di dekat tempat saya tinggal tepatnya di daerah Kingsbury Primary School. Saya bersama putera saya, yang pada waktu itu berusia 11 bulan berkesempatan mengunjungi sekaligus menikmati arena bermain yang disediakan oleh pihak sekolah tersebut. Ruangan bermain itu dikelola oleh beberapa guru dan koordinator, ruangannya cukup besar dan fungsinya sebenarnya adalah sebagai tempat pelayanan bagi siswa-siswi yang mengikuti before and after school care, yaitu pelayanan sebelum dan setelah jam sekolah. Pelayanan ini tidak wajib diikuti oleh seluruh siswa dan tidak ada hubungannya dengan nilai sekolah mereka. Tujuannya adalah memfasilitasi orang tua yang memiliki kepentingan pekerjaan, sehingga mereka harus diikutsertakan program tersebut.

Penggunaan ruang bermain tersebut pun akhirnya dimaksimalkan untuk masyarakat sekitar sekolah, cukup 1 hari dalam seminggu. Jadi, para orang tua yang ingin mengajak anaknya bermain bersama, dapat mengunjungi arena bermain tersebut selama kurang lebih 2 jam (pukul 09.00-11.00) dengan biaya $3.5,- Kegiatan selama 2 jam tersebut juga diisi dengan story telling dan group time yang biasanya diisi dengan menyanyi, serta ada juga area menggambar dan mewarnai.

Menyambut Inspirasi

Berakar dari ide yang digagas oleh pemerintah Australia melalui pemberian fasilitas-fasilitas bermain untuk anak-anak, membuat saya tertarik untuk mengembangkan ide perpustakaan permainan (Toys Library) untuk dapat diterapkan di daerah-daerah di Indonesia. Sifat permainannya bisa bermacam-macam dari sisi jenis, fungsi terhadap skill anak, maupun rentang usia yang direkomendasikan. Perpustakaan permainan ini selain mampu memenuhi hak anak-anak untuk bermain, diharapkan juga mampu melestarikan permainan tradisional. Pelestarian permainan tradisional itu penting karena permainan tersebut juga mengandung nilai budaya, sehingga mampu merepresentasikan indigenous toys suatu negara. Pengimplementasian program perpustakaan bermain bisa merambah ke sekolah-sekolah dasar maupun ke daerah-daerah yang berpotensi, misalnya di daerah yang memiliki komunitas anak-anak. Pemerintah daerah yang memiliki perhatian dalam pendidikan anak, memungkinkan untuk bisa menjadi donor sekaligus motor penggerak di daerahnya masing-masing. Kemudian, apa yang menggelitik di pikiran adalah membangun kerja sama dengan kelompok orang-orang yang telah pensiun untuk pengelolaan perpustakaan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar mereka mendapatkan kembali rasa rindunya untuk beraktivitas ketika masih aktif bekerja.

Kegiatan-kegiatan lain pun juga bisa disisipkan dengan mengajak anak ikut berpartisipasi. Pemilihan kegiatan bisa juga dikategorikan berdasarkan usia mereka. Salah satu program seperti Shake, Rattle and Rhyme dikhususkan untuk anak-anak usia di bawah 2 tahun. Program tersebut dimaksudkan untuk menstimulasi pemerolehan kosa kata pada anak-anak melalui lagu. Selain itu, untuk usia lebih dari 2 tahun bisa di lakukan story telling, puppet show, dan group time.

Masing-masing anak memiliki tingkat perkembangan dan pertumbuhan yang berbeda-beda. Salah satu untuk membantu mereka untuk mencapainya adalah dengan memberikan mereka stimulasi. Jika anda adalah orang tua yang mayoritas waktu anda habiskan di rumah bersama anak-anak Anda, bergeraklah untuk menjadi stimulator bagi anak-anak. Dengan diadakannya  perpustakaan permainan ini menjadi sarana bagi para orang tua dalam rangka membantu anak-anak belajar dengan bermain.

“Masa anak – anak memiliki awal yang paling baik dalam kehidupan untuk memulai sekaligus menciptakan masa depan bagi mereka sendiri atau negaranya”

Daftar Pustaka:

Early Years Learning Framework for Australia (EYLF).2009. Canberra: Department of Education, Employment and Workplace Relations.

Bodrova, E. & Leong, D. J. (2005). Uniquely preschool: What research tells us about the ways young children learn. Educational Leadership, 63(1), 44-47

Lester, S. & Russell, S. (2008). Play for a change. Play policy and practice: A review of contemporary perspectives. Play England.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Tasa Laurika (S1 Fakultas Psikologi UGM, bekerja di salah satu penyedia jasa Outside School Hour Care, yakni Camp Australia) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...