content detail

Merawat Keberagaman Mulai dari Sekolah Dasar

Post by: 18/03/2015 0 comments 1585 views
Keberagaman
Putri, Nabila dan Safira tampil dalam acara Pesta Pernikahan keluarga Malaysia di Victoria. (@Courtesy Desvalini Anwar)

 

Putri mulai masuk ke Clayton North Primary School, Australia, pada akhir 2010. Sejak hari pertama, ia sudah menikmati suasana meski belum lancar berbahasa Inggris. Kemampuan bahasa tidak menghalangi asyiknya belajar. Eva, ibunya Putri, menuturkan bahwa dalam bulan-bulan pertama Putri bersekolah, dibangun kepercayaan diri dengan menampilkan Tarian asal Minang di depan kelas. Setiap selesai penampilan, guru-guru dan siswa-siswa sekolah selalu bertanya, “Apa rahasianya penampilan kalian sangat kompak (very coordinated)?”

Banyak siswa-siswa asal Indonesia dan Australia tertarik untuk belajar tari kepada Putri. “Mereka selalu minta diajari,” papar Putri. Setelah beberapa kali menampilkan dalam beberapa acara Harmony Day dan Multicultural Day, sudah ada beberapa anak keluarga Singapura dan Indonesia yang rutin datang ke rumah Putri untuk belajar menari.

Bagaimana mereka ceritanya anak-anak belia itu bisa menguasai tujuh jenis tarian minang? Ada proses unik yang dilakukan melalui peer learning. Mereka ternyata saling belajar. Selain Putri, ada Syafira dan Nabila yang beberapa kali ikut menari bersama dalam acara-acara kebudayaan baik di sekolah maupun dalam kegiatan multikultural di kampus dan di lingkungan masyarakat lokal. Nabila dan Syafira adalah dua anak perempuan Ibu Dewi, mahasiswa PhD di Universitas Deakin, Melbourne. Dewi dan Eva menekuni bidang pendidikan di kampus yang sama.

Rahasia lainnya ialah kesungguhan Eva dan Dewi untuk terus mengasah kemampuan tari mereka. “Kami bergantian tugas belajar. Jika Dewi ke Indonesia, maka Nabila diminta belajar tarian baru,” tutur Eva. Tari Serampang misalnya, dipelajari Nabila di Sumatra Barat saat ibunya bertugas untuk mengambil data penelitin. Tarian itu kemudian diajarkan ke Putri dan teman-temannya. “Demikian juga ketika saya ke Indonesia, Putri akan mempelajari tarian baru dan dikembangkan di Australia ketika kami kembali,” sambung Eva.

Proses saling belajar budaya antar anak-anak ternyata menghasilkan kekuatan luar biasa. Mereka kini sudah membentuk Minang Traditional Club. Menurut Eva, ia mengajarkan tarian dan filosofi seni asal Sumatra Barat agar Putri tetap mengingat budaya daerahnya dan bisa ikut melestarikannya. Mereka sudah beberapa kali diundang tampil oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Mebourne, Deakin University Burwood Campus, dan Multicultural Day of Australia. Mereka bahkan seringkali menghasilkan “uang lelah” dari penampilannya.

Bermula dari cinta budaya Indonesia, Putri membangun kepercayaan diri dan kepemimpinannya di sekolah. Tahun 2013, ia mencalonkan diri menjadi Kapten Sekolah (School Captain), yang memimpin seluruh siswa di sekolah. Meski tidak terpilih, Putri tetap semangat menunjukkan bakat kepemimpinannya melalui kebudayaan.

Radhika Srivinas, guru kelas 5 dan 6 di sekolah dasar Clayton North menyatakan bahwa dalam kegiatan Harmony Day, anak-anak diwajibkan memakai pakaian adat nasional mereka atau pakaian Australian Rules. Para siswa dari kelas Prep hingga kelas 6, akan melakukan parade. Mereka juga dianjurkan untuk berbagi makanan asal negara mereka masing-masing. Suasana perbedaan dan keberagaman dialami dan dinikmati oleh seluruh anak-anak. Dengan acara yang inklusif ini, diharapkan mereka tumbuh sehat dan cerdas dengan saling menghormati perbedaan budaya, agama, dan negara.

Sekitar 300 siswa terlibat dalam pesta Harmony Day 2014 disekolah CNPS. “Semoga mereka bangga dengan budaya nasional mereka. Ini juga menunjukkan bahwa Australia menjamin kebebasan identitas dan tradisi semua negara”, tambah Srivinas.  Hari tersebut juga menjadi hari peringatan internasional Perserikatan Banga-Bangsa untuk Menghapus Diskriminasi Rasial. Pemerintah Australia membuat program Harmony Day agar bisa dirayakan oleh semua orang tanpa melihat perbedaan etnis, bangsa, dan agama.

Belajar Budaya di Sekolah Indonesia

Indonesia dengan penduduk lebih dari empat ratus bahasa, memiliki keberagaman budaya, etnis dan agama. Merawat budaya yang sangat beragam di Indonesia tentu perlu kerja keras semua kelompok masyarakat dan pemerintah. Sekolah bisa menjadi gerbang penting bagi anak-anak agar kelak bisa hidup bersama masyarakat yang sangat plural. Kebersamaan ini akan menjadi fondasi keutuhan bangsa.

Bagaimana dengan kurikulum sekolah dasar kita? Apa yang telah dilakukan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dikalangan anak-anak sekolah khususnya di tingkat dasar? Apa yang telah dilakukan Putri dan Nabila di Melbourne bisa menjadi contoh bagaimana kecintaan budaya tidak hanya mendapat apresiasi luar biasa dari sekolah mereka, tetapi juga ada peran penting keluarga dan orang tua yang telaten mengajarkan atau membimbing anak-anak untuk mencintai budaya komunitasnya, dan budaya Indonesia.

Luasnya keragaman aktivitas komunitas seni di Indonesia bisa menjadi partner penting bagi sekolah-sekolah untuk memperkenalkan budaya dan seni tradisional kepada para siswa. Mungkin kita kekurangan guru-guru seni dan budaya yang tidak hanya menceritakan, menyebarkan pengetahuan tentang seni dan budaya, tetapi juga menampilkannya dan membuat anak-anak suka cita untuk mempelajarinya. Kekayaan budaya Indonesia, jika dimulai dari sekolah akan bisa membangun masa depan generasi Indonesia yang tidak hanya kuat ilmu pengetahuannya, tetapi juga mencintai dan menghargai budaya mereka, serta menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsanya.

 

Tulisan dan gambar merupakan rangkuman dari tulisan Badrus Sholeh (mahasiswa PhD tentang Demokrasi dan Perdamaian di Aceh di School of Humanities and Social Sciences, Deakin University Melbourne) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...