content detail

Menyemai Benih Ekspresi

Post by: 07/03/2015 0 comments 889 views
sumber: http://www.slate.com/
sumber: http://www.slate.com/

Saya dan istri duduk di lantai apartemen kecil kami di Mount Keira Road di West Wollongong. Kami berdua serius memerhatikan seorang guru ‘privat’ di yang menjelaskan tentang cara menceritakan suatu obyek dan mengemasnya dalam bentuk berita. Guru kami menyebutnya news time. Kelas diawali dengan penjelasan dari guru tentang tata cara pelaksanaan news time. Saya dan istri harus bergiliran maju dan bercerita tentang satu objek yang kami pilih. Sayapun memulai. Proses news time itu berlangsung dua atau tiga menit saja.

Selepas menjelaskan, guru kami berkata, “Good job Andi!” tanda bahwa saya melakukan tugas dengan baik. “Now is the time for questions and answers,” kata guru kami. Guru saya kemudian berkata lantang “Any questions?” Asti yang satu-satunya murid di kelas itu agak terperangah karena tidak siap. Tetapi akhirnya ia tetap bertanya. Sayapun berusaha menjawabnya dengan baik, dengan harapan guru kami akan terkesan. Beberapa menit berlalu, akhirnya guru kami menganggap tugas saya selesai. “Good job Andi. Now you can go back to your seat”. Sayapun berlalu dan merasa lega. “Now, Asti! Your turn!” kata guru saya memanggil Asti untuk tampil ke depan melakukan hal yang sama.

Penggalan cerita di atas adalah kisah kami sekeluarga ketika tinggal di Wollongong, Australia. Guru yang saya sebut-sebut pada cerita ini tidak lain dan tidak bukan adalah Lita, anak semata wayang kami. Yang mungkin tidak terlalu umum, Lita baru berumur hampir 4 tahun ketika kisah itu terjadi. Yang kami lakukan adalah meniru adegan di sekolah TK (preschool) Lita yang rupanya sangat dinikmatinya. Yang menggelikan sekaligus membuat saya heran dan kagum adalah kefasihan Lita meniru adegan dan ucapan dari gurunya. Saya merasa mendengar seorang manusia dewasa yang benar-benar berkuasa di kelas. Lita melakukannya dengan fasih, tidak malu-malu dan seakan itu adegan sebenarnya.

Saya menangkap pelajaran hebat di situ. Anak-anak kecil umur tiga atau empat tahun sudah diajari untuk mengemukakan pendapat dan bercerita. Setiap minggu, tiap anak akan mendapat tugas menceritakan sesuatu di depan teman-temannya. Untuk membantu sang anak dalam bercerita, mereka diwajibkan membawa sebuah obyek. Cerita itu kemudian dikisahkan dengan mengacu kepada obyek itu.

Saya percaya pada kekuatan cerita. Seorang presenter ulung umumnya lebih mudah meyakinkan pendengar akan gagasan besar/pentingnya jika memulai dengan cerita. Saya yakin, kebiasaan bercerita yang dipupuk sejak kecil akan meningkatkan kemampuan seseorang dalam menyampaikan gagasan secara meyakinkan.

Secara umum, saya belajar bahwa pendidikan di Australia sangat menjunjung tinggi kemampuan berekspresi. Pemaparan gagasan dalam bentuk cerita (story telling) baik itu lisan maupun tulisan menjadi fokus penting dalam pembelajaran. Hal yang tidak kalah penting dari gagasan ini adalah diciptakannya suasana yang kondusif untuk memupuk keberanian berekspresi ini. Guru selalu memulai dengan pujian ketika seorang anak selesai melakukan tugasnya. Tidak hanya guru, anak-anak di kelas itu tidak dibiasakan untuk memberi komentar negatif saat terjadi kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam presentasi. Hal ini secara perlahan membentuk rasa percaya diri.

Pada akhirnya, apapun bidang ilmu kita, suatu ketika kita akan dihadapkan pada situasi untuk meyakinkan orang lain akan suatu prinsip atau kebenaran. Meskipun kita belajar sesuatu yang sangat teknis, pada akhirnya kita akan meyakinkan manusia akan perihal teknis itu maka belajar memahami dan menggunakan bahasa yang dipahami manusia menjadi sangat penting. Pelajaran lain yang saya simak dengan mengamati proses pembelajaran Lita adalah bahwa kemampuan presentasi itu bisa dilatih. Bakat mungkin memang berperan dalam usaha menjadi baik tetapi saya percaya tidak ada orang yang bisa presentasi dengan baik tanpa pernah belajar dan berlatih.

Dapat dibayangkan, jika saja dari kecil kita diajari cara berekspresi dengan cerdas, baik itu lisan maupun tulisan. Menyemai benih ekspresi itu harus dilakukan sejak dini. Untuk merawat dan memastikannya tumbuh maka pupuknya adalah pujian yang tulus. Gulma dan hama berupa hinaan dan ejekan, harus disiangi sedini mungkin sebelum mereka tumbuh berkuasa dan menjadi lebih tinggi dan lebih kuat dari benih keberanian berekspresi itu sendiri.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan I Made Andi Arsana, Ph.D (Dosen Fakultas Teknik UGM) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...