content detail

Menghargai Perbedaan dari Kebun Sekolah

Post by: 11/04/2015 0 comments 1408 views
sumber: https://www.organicgardener.com.au/
sumber: https://www.organicgardener.com.au/

Kebun di Sekolah Dasar Clayton Utara (Clayton North Primary School), Victoria, Australia, nampak hijau dengan beragam buah-buahan, sayuran, dan tanaman biji-bijian khas Australia. Ada pohon almond, yang menghasikan kacang almond yang bisa dimakan langsung atau digoreng. Saya juga melihat  ada tanaman rasberry, Jeruk Tahiti, wortel, kol, bawang putih, dan banyak lainnya. Disela-sela tanaman, bunga dan sayuran ada bebegig (orang-orangan). Konon, fungsinya untuk menakut-nakuti burung yang makan padi menjelang panen.

Saya lihat juga tanaman bunga yang sedang merekah warna-warni seiring dengan musim semi yang sejuk. Saya bersama beberapa kawan diantar Wakil Kepala Sekolah (Assistant Principle), Mathew Anderton melihat kebun di belakang sekolah itu. Di sebelah kebun juga ada kandang ayam, sebagai bagian dari program berkesinambungan (sustainability program). Saya ingin tahu bagaimana sekolah disini menempatkan gardening  (berkebun) menjadi bagian dari kurikulum yang penting.

Sebelum melihat kebun ini, saya sempat membaca beberapa cerita menarik bagaimana sekolah di Australia melibatkan komunitas, lembaga swadaya masyarakat dan orang tua, dalam program berkebun sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan. Dari perbincangan dengan Mathew, saya baru tahu bahwa kebun bisa menjadi wahana menarik bagi siswa-siswi sekolah bagaimana mereka memahami keberagaman budaya, menghargai makanan yang sehat, dan terlibat dalam gaya hidup yang berkesinambungan.

Anak-anak memahami lingkungan yang sehat, makanan sehat, tetapi juga kehidupan multikultural. Di kebun sekolah, tanaman berasal dari berbagai negara. Saya lihat ada Tahitian Lime, pasti dibawa dari negeri Tahiti di bagian selatan Kepulauan Pasifik. Anak-anak diperkenalkan makanan dari berbagai negara.

“Kami juga mengajak anak-anak untuk membawa makanan yang dimasak oleh keluarga mereka, dengan tradisi masak yang berasal dari negara asal mereka, dan diperkenalkan kepada yang lain,” demikian Mathew dengan antusias menjawab pertanyaan saya.

Dasar prinsip masyarakat multikultural yang dibangun oleh Australia dimulai dari sekolah tingkat dasar. Menurutnya ini telah menjadi bagian dari kurikulum sekolah, yaitu memperkenalkan sejak dini bagaimana anak-anak bisa terlibat dalam kelestarian hidup (sustainability of life). Hasil dari program sekolah adalah “anak-anak jadi mengerti bagaimana makanan yang sehat dengan menanam buah-buahan dan sayuran oleh mereka sendiri”.

Masa Depan yang Sehat

Berkebun ditempatkan dalam program yang komprehensif yang disebut healthy future yang melibatkan guru, siswa, orang tua dan komunitas. Mereka memiliki dan memainkan peran masing-masing dalam program ini. Siswa-siswi tidak hanya diajarkan menanam dan merawat tanaman, tetapi juga bisa menjelaskan manfaat tanaman dan keragaman budaya melalui makanan. Healthy future adalah program besar. Berkebun menjadi bagian dari program ini.

“Kami bekerjasama dengan kelompok komunitas CERES, organisasi yang bergerak dalam pendidikan lingkungan. Di sana anak-anak belajar konservasi energi,” jelas Mathew.

Tentang keterlibatan CERES di sekolah, saya sempat email manajer pendidikan CERES, Kirsty Costa. Kirsty menjelaskan bahwa CERES dibangun masyarakat di Victoria untuk memperkenalkan pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah. Siswa-siswi secara reguler datang di perkebunan CERES seluas 4 hektar di kawasan Brunswick Timur. Lebih dari satu juta anak sekolah telah belajar di CERES. Mereka belajar bagaimana berkebun dan memelihara lingkungan untuk kelestarian alam. Semua buah, sayuran dan tanaman berjenis organik, dipelihara secara alami tanpa bahan kimia. Sayuran dan buah dari CERES baru dijual di sekitar Brunswick dan seputar kota Melbourne, belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Victoria.

Di sekolah, anak-anak juga terlibat dalam incubation program, tempat anak-anak belajar beternak dan melihat bagaimana ayam bertelur dan menetas.  Program masa depan yang sehat bisa berlangsung sepanjang tahun dengan beragam kegiatan sekolah. Di antaranya program green team, anak-anak dan guru berbicara tentang kesinambungan energi, dan penggunaan sampah yang bisa didaur ulang.

Bagaimana dengan program berkebun di sekolah-sekolah di Indonesia? Dalam kurikulum 2013, siswa-siswi diperkenalkan jenis dan ragam tanaman. Beberapa sekolah juga sudah memiliki program berkebun sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Kegiatan berkebun lebih banyak didorong komunitas diluar sekolah. Misalnya ada komunitas Indonesia Berkebun dan Bandung Berkebun yang memperkenalkan masyarakat perkotaan untuk mencintai tanaman dan terlibat dalam pelestarian lingkungan. Mereka mencoba menanam di halaman rumah masing-masing atau di lokasi pusat komunitas itu melakukan pelatihan.

Waktu saya kecil, kegiatan di kebun yang paling menyenangkan adalah saat panen. Saya kira anak-anak sekarang juga perlu diajarkan bagaimana padi, buah atau sayuran ini ditanam. Jika mereka melakukannya, maka akan timbul rasa hormat terhadap tanaman, sayuran dan makanan. Juga rasa hormat terhadap petani yang telah menyediakan semua kebutuhan hidup sehat itu bagi kita. Sekolah tinggal memperkuat fondasi masyarakat Indonesia yang mayoritas agraris itu. Sawah dan ladang ada di sekitar sekolah-sekolah kitam terutama yang di luar perkotaan. Keragaman budaya bisa diperkenalkan melalui beragam jenis tanaman dari ratusan suku yang ada di Indonesia, dari Aceh hingga Papua.  Semuanya kita punya, tinggal menumbuhkan kemauan kuat dan tekad untuk merawatnya. Semoga.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Badrus Sholeh (mahasiswa PhD Demokrasi dan Perdamaian di Aceh di School of Humanities and Social Sciences, Deakin University Melbourne) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...