content detail

Mengatasi Permasalahan Anak Dengan Ungkapan Kasih Sayang

Post by: 20/04/2015 0 comments 1406 views
sumber: http://momsmagazine.com/
sumber: http://momsmagazine.com/

Seorang ibu bercerita bahwa ia memiliki permasalahan dengan anaknya yang berusia 9 tahun. Menurut sang ibu, anaknya sangat sulit diatur, tidak mau patuh, sulit belajar, dan selalu bertengkar dengan adiknya. Senada dengan sang ibu, guru kelas dari anak tersebut juga mengeluhkan permasalahan yang sama. Ia berkata bahwa di kelas anak tersebut tidak bisa duduk diam dan sering mengganggu temannya.

Permasalahan terkait dengan pengasuhan anak tentunya bukan hal baru bagi orangtua. Kisah-kisah para orangtua seperti diilustrasikan di atas juga sudah kerap kita dengar. Tidak heran, banyak orangtua kemudian berkunjung ke biro psikologi untuk mendapat jawaban atas berbagai permasalahan tersebut.

Permasalahan terkait pengasuhan anak tidak sepenuhnya berarti perkembangan anak tidak normal, tapi biasanya sudah membuat orangtua atau para guru merasa tidak nyaman, cemas, dan mengalami berbagai perasaan negatif lainnya karena perilaku anak tersebut.

Menurut ilmu psikologi anak, permasalahan yang terjadi pada anak, tidak lain sebagian besar penyebabnya adalah orang-orang atau lingkungan terdekatnya, yaitu orangtua, pengasuh, dan guru di sekolah. Bagaimana ini terjadi? Anak-anak usia prasekolah hingga SD sangat reseptif dan mereka sangat mudah meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Jika ayah marah dan membanting pintu dan kebetulan anak melihatnya, maka tunggu saja, tidak lama kemudian jika sang anak marah ia juga akan mulai membanting pintu. Demikian pula pada kasus yang lebih serius.

Misalnya, salah satu cerita yang saya dapat selama menyusun tesis. Seorang ibu bercerita bahwa anaknya sangat sering berkelahi di sekolah, ia pun suka memukul dan membanting-banting barang jika marah. Sang ibu akhirnya bercerita bahwa di rumah jika sang anak tidak patuh, maka suaminya akan memukul, mencubit, atau menampar anak mereka. Hal ini disebut dengan siklus koersif (kekerasan). Tidak hanya itu, di sekolah, sang guru pun tidak segan memukul, mencubit, bahkan menendang murid-muridnya karena muridnya dianggap sangat sulit diatur (saya saksikan sendiri).

Di sisi lain, permasalahan terkait saudara kandung juga menjadi isu yang penting. Banyak anak yang mengeluhkan bahwa ia merasa diperlakukan tidak adil saat ia memiliki adik, apalagi jika adiknya lebih dari satu. Anak-anak tersebut berulangkali berkata “Ah aku terus yang disuruh mengalah. Rasanya kayak aku salah terus”.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan?

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara cukup dalam yang saya lakukan pada 11 ibu yang melaporkan memiliki permasalahan dengan anak, dihasilkan bahwa para ibu tersebut mengakui bahwa mereka jarang menunjukkan kasih sayang pada anaknya. Baik dengan kata-kata seperti “Ibu sayang sama kamu”, kalimat pujian, ataupun berupa perbuatan seperti ciuman dan pelukan. Mereka pun mengatakan bahwa mereka lebih suka menunjukkan kasih sayangnya dengan menyiapkan makanan, mencucikan pakaian, dan membelikan barang. Ungkapan rasa sayang mungkin terlihat wajar, tetapi, ternyata ini membuahkan hal yang signifikan dalam persepsi anak. Anak yang merasa jarang mendapatkan ungkapan kasih sayang dari orangtuanya, akan mulai melakukan berbagai hal agar ia menjadi pusat perhatian orangtuanya, termasuk di dalamnya adalah perilaku-perilaku yang negatif seperti sulit diatur, ngambek, keras kepala, menentang, sengaja mengganggu adik, dan lain sebagainya. Saat orangtua merespon dengan kemarahan atau teguran, saat itu ia baru merasa bahwa setidaknya ia diperhatikan.

Oleh sebab itu, solusi agar anak atau murid lebih patuh sebenarnya sederhana, meski cukup menantang, yaitu ungkapkanlah kasih sayang pada anak dengan kata-kata atau perbuatan. Seperti sudah sekilas disebutkan di atas, banyak orangtua menganggap bahwa membelikan barang, menyiapkan pakaian, membuatkan makanan, mengantar sekolah, dan lain sebagainya merupakan bentuk kasih sayang. Tetapi, coba bayangkan Anda melakukan permainan tebak kata, di mana ada seorang memperagakan suatu kegiatan dan orang lain diminta menebak kegiatan apa yang sedang diperagakan. Misalnya, orang tersebut memperagakan orang sedang memasak. Tetapi, bisakah Anda menebak dengan tepat masakan apa yang sedang dimasak jika orang tersebut tidak mengatakan apa yang ia masak? Hal ini menunjukkan bahwa selain dengan perbuatan, ada hal-hal yang perlu diungkapkan dengan kata-kata.

Bagi orangtua yang jarang mengungkapkan kasih sayang atau pujian, mungkin akan terasa canggung. Tapi, cobalah sedikit demi sedikit setiap hari. Sama seperti orangtua, anak juga sangat senang ketika mereka mendapatkan kasih sayang.

Tips memberikan kasih sayang dalam satu hari:

  • Di pagi hari, doakan anak saat akan berangkat sekolah sambil mencium keningnya. Berikan kata-kata positif, seperti “semangat ya,” atau “kamu pasti bisa”
  • Cobalah katakan “Ibu sayang sama kakak” dan sertai dengan ciuman atau pelukan
  • Tanyakan bagaimana kegiatan anak dalam satu hari
  • Mudahlah dalam memberikan pujian, hadiah tidak harus berupa barang, tapi dapat berupa pujian yang tulus.
  • Sebelum anak tidur luangkan waktu untuk mengelus-elus kepalanya sambil mendoakannya dan memberikan sugesti positif seperti “Jadi anak pinter ya kak, sukses, sholeh, dan bermanfaat”

Di awal, anak mungkin akan merasa aneh karena perlakuan orangtua berubah. Tapi, lama kelamaan Anda pun akan mendapati perilaku anak berubah perlahan-lahan. Banyak orangtua yang telah mempraktikkan hal ini dan mereka pun melaporkan anak-anaknya saat ini lebih mudah diatur, diberi tanggung jawab, dan memiliki inisiatif yang baik.

Sama dengan orangtua, para guru juga dapat mencoba menciptakan suasana kelas yang hangat dan penuh penerimaan yang pada akhirnya bertujuan untuk mengurangi perilaku siswa yang sulit diatur. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:

  • Berikan pujian pada siswa yang sudah berhasil menyelesaikan suatu tugas dengan baik
  • Terus berikan dorongan dan kata-kata positif. Beri para siswa inspirasi dan semangat untuk melakukan yang terbaik di sekolah.
  • Dekati siswa-siswa yang tampak berbeda dengan siswa yang lain (misalnya siswa yang sering mengganggu temannya, lambat belajar, dan lain sebagainya). Berusahalah untuk mengetahui latar belakang dan penyebab kondisi mereka saat ini.
  • Jalinlah komunikasi dengan orangtua dari siswa dan ceritakan perkembangan anak mereka dari waktu ke waktu.

 

Diany Ufieta Syafitri, Mahasiswa Magister Profesi Psikologi Klinis UGM, sedang menyusun tesis tentang pengasuhan anak, keluarga, dan pendidikan.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...