content detail

Mengatasi Kebiasaan Anak Mengompol

Post by: 25/05/2015 1 comments 735 views

Mengompol adalah masalah yang jutaan keluarga hadapi tiap malam.  Hal ini adalah umum yang dilakukan oleh anak di bawah 6 tahun, tetapi terkadang bisa bertahan hingga anak berada di usia remaja. Para dokter, belum mengetahui secara pasti apa yang membuat anak mengompol, dan apa yang membuatnya berhenti. Namun hal tersebut biasanya menjadi bagian dari masa perkembangan anak-anak.

Sebagian besar kasus mengompol bukanlah disebabkan oleh masalah medis atau keadaan emosional anak. Mengompol biasanya juga terjadi dari keluarga, banyak anak yang mengompol memiliki kerabat yang juga mengompol. Jika kedua orang tua anak punya kebiasaan mengompol ketika masih kecil, maka kemungkinan anak mereka pun akan melakukan hal yang sama.

Kebiasaan mengompol yang terlalu sering dapat menjadi sumber stress bagi keluarga. Anak dapat merasa malu dan merasa bersalah karena mereka tidak bisa berhenti mengompol, dan akan gelisah ketika akan menginap atau kemping bersama teman-temannya. Sementara itu, orang tua seringkali merasa tidak berdaya untuk membantu mengatasi masalah mengompol anak.

sumber: www.todaysparent.com
sumber: www.todaysparent.com

Mengompol memang biasanya terjadi hanya sementara waktu, tetapi dukungan sosial kepada anak dapat membantu anak merasa lebih baik hingga ia berhenti mengompol. Oleh sebab itu, sangat penting untuk melakukan dukungan dan penguatan positif selama anak melalui proses ini.

Memberikan dukungan yang dimaksud adalah, ketika anak mulai merasa malu dan merasa tidak berdaya untuk mengatasi kebiasaan mengompolnya. Yakinkan anak bahwa mengompol adalah hal wajar yang menjadi bagian seseorang ketika ia tumbuh dewasa. Anak mungkin akan merasa lebih nyaman ketika ia mendengar cerita tentang anggoata keluarga yang juga pernah berjuang untuk berhenti mengompol ketika mereka masih kecil.

Selain itu, ingatkan anak untuk ke kamar mandi sebelum tidur. Usahakan, anak banyak minum ketika siang hari, bukan di malam hari, serta hindarilah minuman yang mengandung kafein. Beberapa orang tua juga menggunakan sistem motivasi. yaitu dengan memberikan stiker pada anak ketika ia berhasil tidak mengompol dalam satu malam, lalu memberikan hadiah ketika anak bisa mengumpulkan stiker dalam jumlah tertentu.

Jika anak mengompol, jangan membentak atau menghukumnya. Minta anak untuk membantu mengganti seprai atau menjemur kasur. Jelaskan pada anak bahwa hal ini bukanlah bentuk hukuman, tetapi salah satu bagian dari proses. Jika anak merasa bahwa ia dapat membantu, mungkin anak akan merasa lebih baik, tidak terlalu merasa bersalah. Selain itu, jangan lupa untuk memuji anak jika ia tidak mengompol.

Kebiasaan mengompol pada anak umumnya normal, tetapi dalam beberapa kasus, hal tersebut dapat menjadi gejala untuk kondisi medis yang lebih serius. Untuk itu, terkadang orang tua perlu menghubungi dokter untuk memeriksa tanda infeksi, sembelit, masalah kandung kemih, disbetes, atau stress. Kapan orang tua harus mulai waspada?

  • Anak tiba-tiba mengompol setelah sebelumnya tidak pernah mengompol selama 6 bulan.
  • Mengompol tidak hanya malah hari, tetapi juga siang hari.
  • Anak mengorok ketika tidur di malam hari.
  • Anak mengeluh bahwa ada sensasi terbakar atau nyeri ketika buang air kecil.
  • Anak buang air kecil terlalu sering.
  • Disertai dengan kebiasaan anak makan dan minum yang lebih banyak dari biasanya.
  • Mengalami pembengkakan di kaki atau pergelangan kaki.
  • Anak masih mengompol setelah berusia 7 tahun.

Selain itu, ceritakan kepada dokter seandainya anak mengalami stress yang cukup berat atau jika orang tua merasa frustasi terhadap kondisi yang dihadapi sehingga membutuhkan bantuan. Dukungan dan kesabaran dapat membantu anak merasa lebih baik untuk menghadapi kebiasaan mengompolnya.

 

Artikel asal dapat dilihat di kidshealth.org

Comments (1)

“great threat, i like it, thanks very_ much.”

Balas

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...