content detail

Mengajak Anak Berpikir Kritis

Post by: 14/03/2016 0 comments 1219 views

Berpikir kritis adalah proses berpikir dimana informasi menjadi keputusan atau kesimpulan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Hal ini memang tidak mudah dilakukan, perlu latihan dan pembiasaan setiap hari secara rutin dan berkelanjutan. Sayangnya kemampuan berpikir kritis tidak diberikan kepada kita sejak lahir. Anak harus belajar untuk dapat menguasainya. Jadi adalah tugas orangtua dan guru untuk dapat mengembangkan ketrampilan berpikir kritis pada anak. Bagaimana caranya?

id.theasianparent.com
id.theasianparent.com

Salah satu cara yang paling mudah dan sederhana adalah dengan bertanya pada anak dalam berbagai macam bentuk pertanyaan. Karena dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan, anak akan terdorong untuk berpikir. Tentu saja bentuk pertanyaannya harus tepat.

Benjamin Bloom (2001), seorang ahli pendidikan, yang membuat klasifikasi (taxonomy) pertanyaan-pertanyaan yang dapat dipakai untuk merangsang proses berpikir pada manusia (lebih dikenal dengan istilah “taxonomy Bloom”). Menurut Bloom kecakapan berpikir pada manusia dapat dibagi ke dalam enam kategori, yaitu: mengingat, mengerti, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Tiga kategori pertama lebih merupakan ketrampilan berpikir kongkrit, sedangkan menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan lebih abstrak sifatnya dan dikenal sebagai ketrampilan berpikir kritis.       Berikut ini penjelasan lebih terinci disertai pertanyaan-pertanyaan berdasar taxonomy Bloom:

www.kenilworthlearning.co.uk
www.kenilworthlearning.co.uk
  1. Mengingat (Remembering) mencakup ketrampilan mengingat kembali fakta-fakta yang pernah dipelajari oleh anak yang biasanya menghasilkan jawaban yang benar atau salah. Biasanya bentuk pertanyaannya dimulai dengan kata: berapa banyak, kapan, dimana. sebutkan, jelaskan, dll. Contoh pertanyaannya: Kapan hari kemerdekaan Republik Indonesia? Atau ada berapa banyak selusin itu?
  2. Mengerti/Memahami (Understanding) meliputi pemahaman terhadap informasi yang ada. Biasanya bentuk pertanyaannya diawali dengan kata: jelaskan, gambarkan, bedakan antara satu hal dan lain hal, prediksikan, dll. Contoh pertanyaannya: Jelaskan bagaimana terjadinya hujan? Atau peristiwa-peristiwa penting apa saja yang terjadi sebelum kemerdekaan Indonesia?
  3. Menerapkan (Applying) mencakup ketrampilan menerapkan informasi atau pengetahuan yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru. Biasanya bentuk pertanyaannya menggunakan kata-kata: tunjukan, terapkan, eksperimen, dicobakan, selesaikan, klasifikasikan, dll. Contoh pertanyaannya: Tunjukan persamaan antara telur dan bola dunia? Apakah telur dapat berubah menjadi seekor sapi? Atau bagaimana rumus luas segiempat dapat dipakai untuk mengetahui luas kubus?

    kalangkangmencrang.blogspot.com
    kalangkangmencrang.blogspot.com
  4. Analisis (Analyzing) meliputi pemilahan informasi menjadi bagian-bagian atau meneliti dan mencoba memahami struktur informasi. Biasanya bentuk pertanyaannya memakai kata-kata: klasifikasikan, sunsunlah, bandingkan, apa perbedaan-perbedaannya, dll. Contoh pertanyaannya: Apa salah satu perbedaan antara telur ayam dengan telur katak? Atau bandingkan dan bedakan ciri-ciri penting diantara alat-alat transportasi yang ada saat ini?
  5. Evaluasi (Evaluating) meliputi pengambilan keputusan atau menyimpulkan berdasarkan kriteria-kriteria yang ada. Biasanya pertanyaannya memakai kata: pertimbangkanlah, bagaimana kesimpulannya, dll. Contoh pertanyaannya: Apa yang terjadi kalau Soekarno dan Hatta tidak pernah ada? Apakah dan bagaimana sejarah itu (kemerdekaan Indonesia) mungkin berbeda dari yang ada?
  6. Menciptakan (Creating) mencakup menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang sudah ada untuk menggabungkan elemen-elemen menjadi suatu pola yang tidak ada sebelumnya (menciptakan sesuatu yang baru). Biasanya pertanyaannya menggunakan kata: bagaimana kalau, temukan, ciptakan, buatlah, gabungkanlah, dll. Contoh pertanyaannya: Apa yang terjadi kalau kucing bertelur? Dengan mengetahui ciri-ciri hewan yang bertelur, apa yang dapat kamu jelaskan tentang hewan yang tidak bertelur?
www.ciputra-uceo.net
www.ciputra-uceo.net

Orangtua, maupun guru, dapat menerapkan bentuk pertanyaan diatas dalam situasi sehari-hari, selain dalam bentuk yang berkaitan dengan bidang akademis atau pelajaran di sekolah. Situasi sosial seperti bagaimana menanggulangi kemacetan lalu-lintas, atau apa dampak positif dan negatif dari merokok dan obat-obat terlarang dan bagaimana menghadapi ajakan teman untuk memakainya, atau bagaimana menghadapi pergaulan bebas, dsb dapat dijadikan sebagai simulasi untuk mengembangkan ketrampilan berpikir kritis pada anak. Tentu saja ketrampilan ini harus dimulai sejak dini dan situasi yang dipakai sebagai bahan simulasi harus disesuaikan dengan usia dan perkembangan anak. Selama orangtua dan guru melakukannya dalam bentuk dan situasi yang menyenangkan, maka anak akan merasa senang menjawab pertanyaan orangtua dan guru dan berdiskusi dengan mereka.

 

Daftar Pustaka:

www.ciputra-uceo.net

www.untukku.com

id.theasianparent.com

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...