content detail

Memupuk Rasa Percaya Diri Anak

Post by: 26/05/2015 0 comments 899 views

Rasa percaya diri adalah salah satu hal yang perlu dimiliki anak. Terutama, ketika anak mulai masuk ke lingkungan baru seperti sekolah. Memupuk kepercayaan diri anak sebenarnya dapat dilakukan sejak dini. Hal ini menjadi tugas orang tua dan lingkungan tempat anak tumbuh.

Kepercayaan diri pada anak muncul bukan hanya dari pernyataan orang tua yang mengatakan anaknya hebat, tetapi dari kemampuan anak untuk mencapai prestasinya. Pujian dari orang tua pun penting, tetapi akan menjadi lebih berarti ketika itu merujuk pada usaha keras atau kemampuan baru yang anak berhasil lakukan. Misalnya ketika anak dapat melakukan sesuatu yang baru seperti dapat menyikat giginya sendiri atau dapat naik sepeda roda dua. Anak akan merasa bahwa ia mampu melakukan sesuatu, serta lebih percaya diri.

Membangun kepercayaan diri dapat dilakukan sejak dini. Ketika bayi belajar untuk membuka halaman buku atau balita belajar berjalan, mereka akan merasa bahwa mereka mampu. Dengan kemampuan yang berkembang sedikit demi sedikit itulah kepercayaan diri anak dapat meningkat. Orang tua dapat memberi anak kesempatan seluas luasnya bagi anak untuk mencoba dan menguasai ketrampilan yang ia suka.

Biarkanlah anak melakukan kesalahan dan orang tua terus menjadi penyemangat agar anak mau tetap mencoba. Berikan tanggapan dengan bersemangat dan penuh ketertarikan ketika anak menunjukkan ketrampilan baru yang ia miliki. Beri anak pujian ketika ia berusaha mencapai tujuan yang ia inginkan. Dengan kesempatan yang cukup, bimbingan yang baik, serta kesabaran dari orang tua, anak akan lebih mudah dalam menguasai ketrampilan-ketrampilan dasar, dan dapat mengembangkan kemampuannya ke area yang lain.

Pengawasan merupakan hal yang penting untuk memastikan bahwa anak-anak melakukan usahanya dengan aman. Tetapi, orang tua tidak perlu menuntun terlalu dekat. Berikanlah kesempatan bagi anak untuk mencoba, membuat kesalahan, dan belajar dari kesalahan yang dilakukan.

Misalnya ketika anak ingin belajar membuat roti dengan olesan selai. Beritahu bagaimana caranya, lalu biarkan ia mencoba. Hasil buatan anak mungkin sedikit berantakan. Tidak perlu langsung menyalahkan, sebab malah dapat membuat anak tidak mau mencoba lagi. Ketika misalnya di tengah proses membuat, anak membuatnya kurang rapi, orang tua tidak perlu langsung mengambil alih roti dan menyelesaikan olesannya. Sebab jika orang tua langsung ikut campur, anak dapat berpikir bahwa ia memang tidak bisa membuatnya sendiri. Tetapi jika orang tua bisa bersabar dengan hasil yang berantakan dan membiarkannya belajar, mungkin suatu saat nanti, ketika anak mengatakan, “Saya lapar, saya mau buat roti sela.” Maka orang tua bisa menjawab, “ Wah, bisakah ayah dan ibu dibuatkan juga?” Hal itu adalah tanda nyata bahwa orang tua sudah percaya dengan kemampuan anak.

Terkadang, anak merasa frustasi dan memutuskan untuk menyerah mencoba. Bantulah dengan mendorong anak agar lebih tekun. yakinkan bahwa dengan mencoba lagi, ia akan tahu bahwa hambatan dapat diatasi.

Setelah anak dapat mencapai tujuan, pujilah ia tidak hanya pada hasil yang ia inginkan, tetapi keinginannya untuk melanjutkan. Misalnya ketika anak sudah bisa membuat roti selai, maka tawarkan dia untuk belajar ke tahap selanjutnya, misalnya membuat telur mata sapi. Mungkin kemampuannya terlihat sepele, tetapi itu langkah penting dalam perkembangan anak untuk lebih percaya pada dirinya sendiri bahwa ia dapat mandiri.

Tanamkanlah pada anak bahwa ia berharga dan dibanggakan orang tuanya. Hal tersebut dapat ditunjukan dari interaksi sehari-hari. Beri ia kesempatan untuk menunjukkan apa yang mampu ia lakukan, dan hargailah usahanya. Biarkan anak melakukan sendiri apa yang ia bisa lakukan, bahkan jika memungkinkan, biarkanlah ia membantu agar merasa dibutuhkan juga, meski hanya hal-hal sederhana. Pada masa anak-anak, orang tua memang perlu memberikan kesempatan pada anak untuk belajar mandiri. Anak-anak perlu merasa percaya diri dan mandiri agar dapat menghadapi lingkungan barunya dengan tenang.

Dikembangkan dari kidshealth.org.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...