content detail

Mempersiapkan Anak Menjadi Seorang Kakak (Setelah Kelahiran Adik)

Post by: 18/05/2015 0 comments 795 views
sumber: www.carolecgood.com
sumber: www.carolecgood.com

Menjadi seorang kakak bagi anak adalah tantangan tersendiri, meski orang tua sudah berusaha sejak si adik masih dalam kandungan (Baca: Mempersiapkan Anak Menjadi Seorang Kakak I). Ketika si adik lahir dan dibawa pulang ke rumah, perubahan yang cukup besar baru akan dirasakan si kakak. Orang tua dapat membantu anak untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut, termasuk dengan melibatkan kakak dalam keseharian si adik. Hal ini diharapkan dapat membuatnya tidak merasa tersisihkan.

Banyak anak yang sebenarnya ingin membantu mengurus adiknya, meskipun “bantuan” yang diberikan si kakak terkadang justru membuat tugas mengurus jadi berlangsung lebih lama. Namun hal tersebut dapat memberi kesempatan bagi kakak untuk berinteraksi dengan adiknya. Bantuan yang diberikan sangat tergantung dengan usia anak, tetapi anak mungkin ingin ikut terlibat dan bermain dengan adiknya. Misalnya ketika mengganti popok, membantu memakaikan baju, memandikan, dan mengajak adiknya bicara. Tetapi, jika si kakak terlihat tidak tertarik pada adiknya, tidak perlu langsung gelisah dan jangan memaksa si kakak untuk terlibat, karena hal tersbut butuh waktu.

Dalam beberapa kesempatan, mungkin si kakak tidak dapat dilibatkan dalam mengurus adik, misalnya ketika menyusui. Hal ini dapat disiasati dengan memberikan mainan atau kesibukan lain pada si kakak, sehingga ibu tidak perlu merasa cemas akan diganggu, dan si kakak tidak merasa diabaikan.

Tetaplah sediakan waktu untuk si kakak, misalnya ketika si adik sedang tidur. Bila perlu, berilah waktu khusus bagi si kakak untuk mendapatkan perhatian orang tuanya tanpa terbagi. Jika anak tahu bahwa orang tua tetap memberikan waktu khusus untuknya, diharapkan dapat membantu mengurangi kemarahan dan rasa kesal si kakak yang disebabkan oleh keberadaan anggota baru di rumah. Jika memungkinkan tetaplah menjalankan rutinitas untuk si kakak, misalnya mengantarnya ke sekolah.

Banyaknya perubahan yang dibawa oleh kehadiran adik, dapat membuat beberapa kakak perlu berusaha keras untuk beradaptasi. Ajaklah anak untuk mengatakan perasaannya mengenai kehadiran adiknya. Besarkanlah hatinya. Sebab jika anak tidak dapat mengekspresikan perasaannya dengan baik, ia justru akan bertingkah dan melakukan hal-hal yang mungkin tidak diinginkan. Seandainya anak benar-benar melakukan hal tersebut, tidak perlu langsung mengancam dengan hukuman dan aturan. Hal terpenting adalah memahami perasaan apa yang membuatnya melakukan hal tersebut. Bisa jadi, itu adalah tanda bagi orang tua bahwa anak membutuhkan waktu lebih banyak untuk mendapatkan perhatian. Namun, orang tua juga perlu tahu bahwa meski perasaan itu penting, anak tetap harus belajar agar dapat mengekspresikan emosinya dengan cara yang baik.

 

Sumber: kidshealth.org

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...