content detail

Membangun Kepribadian Positif Anak

Post by: 28/07/2015 0 comments 1241 views
sumber: www.parents.com
sumber: www.parents.com

Pembentukan kepribadian sudah dimulai sejak masa kanak-kanak. Oleh sebab itu, penanaman nilai positif yang membentuk kepribadian perlu ditanamkan sejak anak masih berusia dini. Menurut Ediastri T. Atmodiwirjo (Gunarsa, 2008), ada beberapa hal penting yang dapat mempengaruhi dasar kepribadian anak, antara lain ialah:

  1. Macam dan kualitas hubungan antara manusia, terutama antara anak dengan ibu, di mana melalui hubungan timbal balik ini juga terjadi perangsangan mental, proses sosialisasi dan pengembangan kehidupan emosi. Makin kaya dan bermakna hubungan antar manusia tersebut, kemungkinan terjadinya pemiskinan emosi yang akan berakibat buruk pada perkembangan anak akan dapat dihindari.
  2. Metode pengasuhan yang diterapkan di rumah. Biasanya suatu cara pengasuhkan anak di rumah merefleksikan harapan-harapan dan sikap-sikap tertentu dari orang tua. Hal ini berpengaruh pada perkembangan anak, misalnya pengasuhkan yang menitik beratkan pada sikap terlalu melindungi akan berakibat buruk bagi anak. Demikian juga halnya dengan sikap-sikap orang tua yang menuntut kesempurnaan dalah segala hal dapat mengakibatkan anak tertekan atau justru akan memberontak.

Dalam membentuk kepribadian anak yang positif, dibutuhkan kerjasama antara ayah dan ibu, serta berbagai figur lekat lainnya yang berada di lingkungan tempat anak tumbuh, seperti kakek, nenek, pengasuh, guru). Chairilsyah (2012) dalam tulisannya di Jurnal Educhild, menjabarkan beberapa tips yang dapat dilakukan oleh orangtua dan guru pendidik anak usia dini dalam rangka membuat landasan pribadi yang positif pada diri anak, yaitu:

  • Mengajarkan anak dengan contoh yang kongkret. Apabila ingin mengajarkan kedisiplinan atau kemandirian sangat sulit apabila kita menjelaskan kepada anak kita mengenai bentuk perilaku tersebut. Oleh karena sifatnya yang abstrak tentunya anak belum sampai pada tahap pemahaman level abstrak tersebut. Berilah contoh kongkret seperti, apabila kita ingin mengajarkan kebersihan pada anak maka ajarkanlah tatacara mandi dengan benar pada anak saat di kamar mandi.
  • Tidak bosan-bosan memberikan nasihat positif. Berikan nasihat yang positif, namun dengan kata-kata, tempat, intonasi, kondisi dan cara yang berbeda. Hal ini dilakukan dengan maksud agar anak tidak jenuh mendengar nasihat dan justru berpikir negatif (misalnya, merasa bahwa ibu cerewet, bawel, dan sebagainya).
  • Mengajarkan anak untuk mengendalikan emosinya. Ada emosi positif dan juga emosi negatif. Emosi positif apabila ditunjukkan akan membuat orang disekitar kita akan menjadi senang dan bahagia. Akan tetapi apabila emosi negatif terutama amarah, apabila ditunjukkan secara berlebihan, dapat menjadi konflik. Oleh karena itu ajarkan anak untuk mengalihkan dan mengendalikan amarahnya agar dapat mengekspresikannya dengan tepat. Bisa dengan jalan relaksasi, menarik nafas panjang, menghindari situasi yang membuatnya marah, atau melakukan kesukaannya ketika ia akan marah.
  • Menerapkan program Hukuman dan Hadiah. Apabila anak bersalah maka berilah hukuman dengan segera dan sesuaikan dengan tingkat kesalahannya. Selain itu juga kita harus konsisten dalam pemberian hukuman dan hukuman tidak perlu dalam bentuk fisik (pukul, tendang, cakar, terjang). Berilah hukuman dengan cara menunda atau tidak memberikan kesenangan anak, misalnya: hari ini tidak boleh main sore hari karena tidak membuat PR, tidak boleh menonton TV, atau menunda acara rekreasi keluarga yang telah dijanjikan. Begitu pula dengan pemberian hadiah, harus terencana, konsisten, adil dan disesuaikan dengan usia anak.
  • Memperkenalkan Tuhan dan agama sejak kecil. Memperkenalkan Tuhan dan agama sejak kecil terbukti sebagai salah satu cara ampuh untuk membentuk karakter anak. Dengan ajaran agama anak menjadi tahu mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan serta apa akibatnya kelak jika kita melanggar ajaran agama.
  • Menjadi model pribadi yang positif. Orang tua jangan hanya menuntut anak berperilaku baik akan tetapi kita juga harus menjadi contoh nyata dalam berperilaku baik. Anak adalah peniru maka ia akan mencontoh segala perilaku, ucapan, sikap dan cara berpikir orang di sekitarnya.
  • Mengawasi pergaulan anak. Masa kanak-kanak adalah masa bermain. Bermain tidak hanya di rumah namun juga di luar rumah. Perlu sesekali kita memperhatikan dengan siapa anak kita bermain. Terkadang pergaulan yang salah membuat anak kita menjadi pribadi yang bermasalah, seperti cara bicara yang kurang sopan, perilaku yang kurang pantas, dan sikap serta cara pemikiran yang negatif terhadap situasi dan lingkungan sosialnya.
  • Mengawasi tontonan anak. Dengan televisi kita dapat terhibur, belajar pengetahuan baru, mendapatkan informasi terbaru dan berita terbaru. Akan tetapi tidak semuanya boleh untuk diterima anak, seperti sinetron, acara gosip, dan film-film dewasa atau film kekerasan tentunya akan membawa dampak negatif bagi anak.
  • Mengawasi teknologi internet dari anak (Baca: Melindungi Anak dalam Menggunakan Media Sosial). Hal ini harus diawasi, ketika anak yang pandai dapat mengakses internet maka tidak mungkin anak tersebut akan mengakses gambar pornografi, pornoaksi, kekerasan, dan juga sekarang banyak yang kecanduan main game lewat internet.

 

Sumber:

Gunarsa D, Singgih.2008. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: Gunung Mulia

Chairilsyah, Daviq. 2012. Pembentukan Kepribadian Positif Anak Sejak Usia Dini. Jurnal Educhild vol 1 no 1

About author

Shiane Anita Syarif

Kontributor Gerakan Sekolah Menyenangkan

Website:

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...