content detail

Medina Warda Aulia, Grandmaster Catur Termuda Indonesia

Post by: 25/08/2015 0 comments 1035 views

Masa kejayaan dunia catur terjadi pada tahun 80-an. Saat itu, banyak grandmaster catur handal yang bermuculan dan meraih berbagai prestasi. Namun pamor catur mulai meredup setelah kekalahan Garry Kasparov dari sebuah komputer IBM bernama Deep Blue. Walaupun begitu, dunia catur di Indonesia masih terus melahirkan grandmaster muda. Salah satunya adalah Medina, gadis cerdas lulusan SMA Negeri I Bekasi, Jawa Barat. Pada usia yang sangat muda, ia berhasil meraih prestasi yang membanggakan bangsa.

Keberhasilan terbesar Media terjadi dua tahun lalu, ketika usianya baru menginjak 16 tahun 2 bulan. Pecatur bernama lengkap Medina Warda Aulia ini berhasil meraih gelar grandmaster perempuan termuda di Indonesia. Gelar tersebut didapatkan Medina setelah mengalahkan pecatur Rusia, Lanita Stesko, dalam kejuaraan catur junior dunia di Turki tahun 2013 lalu. Dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia, Minggu (26/4), Medina berkata bahwa ia merasa sangat bangga dengan prestasinya. Dari sekian banyak pecatur di Indonesia, baru dua orang yang meraih gelar grandmaster perempuan, dan dirinyalah yang termuda.

sumber: www.lensaindonesia.com
sumber: www.lensaindonesia.com

Pada usia sekitar sembilan tahun, Medina mengenal catur melalui sosok ayahnya, Nur Muchlisin. Ia dikenal menggilai permainan catur secara turun-temurun. Namun menurut Nur, pada awalnya ia tidak mengarahkan Media untuk bermain catur. Ketertarikan anaknya pada permainan itu berawal dari rasa penasaran.

Suatu saat, Medina kecil melihat sang ayah asyik bermain catur dengan teman sekantornya. Setelah memerhatikan keduanya memainkan bidak-bidak catur, sebuah pertanyaan polos pun meluncur dari mulut Medina, “Ini apa Ayah?” Medina menunjuk bidak catur berbentuk kepala kuda. Pertanyaan kedua, ketiga, dan keempat pun meluncur. Semuanya berangkat dari rasa ingin tahu sang bocah.

Nur berusaha menimpali rasa penasaran Medina dengan jawaban yang menarik. Ia bercerita pada anaknya, “Ini tentara berkuda zaman dulu, kalau yang ini tentara bergajah. Ini adalah suatu kerajaan di mana para tentara melindungi sang raja untuk menghancurkan lawan.” Dari momen ketertarikan itulah, sang ayah mendorong dan membimbing Medina belajar bermain catur.

Tahun demi tahun dilalui Medina dengan belajar dan berlatih. Kini, ia merupakan salah satu pecatur terbaik Indonesia dengan segudang prestasi di tingkat nasional, regional, maupun dunia. Semenjak menjuarai kejuaraan daerah catur se-Jakarta pada 2006, Medina  telah meraih lebih dari 20 trofi kejuaraan catur bergengsi tingkat dunia dan regional. Selain menjadi Grandmaster termuda di Indonesia, Medina juga berhasil memecahkan rekor MURI dengan mengalahkan 650 pecatur dalam kompetisi secara online. Pertandingan Indosat Grand Master Chess Match dengan 650 pecatur melawan Medina ini didaftarkan ke Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai rekor dunia. Bahkan, gadis ini mendapat penghargaan Satya Lancana Wira Karya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2008 lalu.

Menurut gadis kelahiran Jakarta, 7 Juli 1997 ini, catur adalah permainan yang unik. Kecintaannya pada dunia catur ikut pula membentuk karakternya dalam menjalani kehidupan keseharian. Misalnya saja jika hendak mengambil langkah, ia memikirkan efek yang akan ditimbulkan. Ia juga memiliki filosofi tertentu dalam bermain catur. “Permainan catur itu seperti seni. Jadi kita berkreasi dan berkarya dengan langkah maupun pemikiran kita,” tuturnya.

 

disadur dari isigood.com

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...