content detail

Lawan Bullying dengan Sikap Asertif

Post by: 15/03/2015 0 comments 1485 views
sumber: http://www.wayofthespiritualwarrior.co.uk/understanding-bullying-for-parents/
sumber: http://www.wayofthespiritualwarrior.co.uk/

Seorang anak dikerubungi oleh tiga orang kakak kelasnya. Salah satu kakak kelas menggenggam kerah adik kelas sambil membentak-bentak. Dua kakak kelas lainnya tidak ingin kalah. Mereka menjitak kepala si adik sambil meminta uang. Tidak lupa ancaman agar si adik kelas tidak melaporkan kejadian itu kepada siapapun. Setelah kejadian itu, si adik kelas akan pergi, tidak melapor pada siapapun, dan terus menjadi bulan bulanan di hari-hari berikutnya.

Barangkali kita sudah sering melihat adegan tersebut di layar kaca. Tindakan semacam itu dapat dikategorikan sebagai bullying, yaitu kekerasan baik secara verbal, fisik, maupun emosional. Biasanya hal tersebut dilakukan oleh kelompok yang merasa lebih kuat kepada kelompok yang dianggap lebih lemah.

Ternyata, beberapa korban bullying memiliki kecenderungan tertentu, sehingga seringkali dijadikan “target”. Salah satunya adalah tingkat asertivitas yang rendah. Asertivitas adalah kemampuan untuk mengekspresikan diri secara tegas tanpa menyakiti orang lain. Menjadi asertif berarti bersikap aktif, serta dapat mengatakan apa yang diinginkan dan apa yang menjadi hak, tanpa melanggar hak orang lain.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Novalia dan Dayakisni (2013), semakin tinggi perilaku asertif siswa maka semakin rendah kecenderungan menjadi korban bullying, demikian juga sebaliknya, semakin rendah perilaku asertif maka semakin tinggi kecenderungan menjadi korban bullying. Hal ini disebabkan oleh perilaku asertif membuat seseorang mampu mengatakan tidak dengan sopan dan tegas, serta berani menyampaikan pendapat yang sesuai dengan apa yang ingin disampaikan, berbicara dengan tegas tanpa ada rasa takut, dan berani menolak ajakan kakak kelas yang tidak disenangi.

Novalia dan Dayakisni (2013) menjelaskan bahwa dengan adanya perilaku asertif, kecenderungan untuk menjadi korban bullying kemungkinannya akan sedikit atau rendah. Dengan munculnya perilaku asertif di atas maka siswa tidak mendapatkan kekerasan fisik, karena mereka mampu melawan atau menghindar dari perilaku bullying yang dialami. Siswa juga tidak mendapatkan kekerasan nonfisik karena mereka mampu melaporkan pada kepala sekolah atau guru.

Lantas bagaimana cara menumbuhkan sikap asertif pada anak untuk mengurangi resiko menjadi korban bullying? Berikut beberapa tips untuk menumbuhkan sikap asertif:

  1. Berikan contoh pada anak

Aturan pertama dalam mendidik anak selalu sama: jadilah role model untuk anak. Bila orang tua tak pernah menghargai pendapat anak, sering memaksakan perintah tanpa alasan jelas, mudah dipastikan bahwa anak akan tumbuh menjadi pribadi yang ragu-ragu. Untuk itu, hargai apa yang menjadi hak dan pendapat anak.

Selain itu, tunjukkan bagaimana cara menghargai pendapat, menolak pendapat namun tidak menyakiti, kapan harus mengalah dan kapan harus mempertahankan pendapatnya. Dengan cara ini, anak akan belajar bagaimana ia harus berhubungan dengan orang lain.

  1. Berikan kasih sayang penuh

Kasih sayang akan membentuk anak menjadi pribadi yang percaya diri. Rasa percaya diri adalah modal anak untuk memasuki lingkungan yang lebih besar di luar lingkungan rumahnya. Rasa percaya diri erat kaitannya dengan sikap asertif. Karena anak percaya diri tentu akan lebih mudah untuk menyampaikan apa yang menjadi keinginannya.

  1. Ajarkan anak untuk mandiri

Salah satu hal yang mendorong seseorang untuk percaya diri adalah kemampuan untuk melakukan dan memenuhi semua keperluan yang berkaitan dengan diri sendiri. Untuk itu ijinkan anak untuk belajar mandiri sedari dini. Sebagai orang tua kita cukup menjadi fasilitator guna mempermudah proses belajarnya. Misalkan dengan mengijinkan belajar mandi sendiri, memakai baju, hingga memilih mainan yang ia beli.

  1. Dorong dan ijinkan anak untuk membuat keputusan

Anak dapat belajar membuat keputusan dari hal-hal yang terkecil. Misalkan memilih jenis makanan yang ingin ia jadikan bekal , memilih baju, mainan, warna favorit dan masih banyak lagi. Hormati apa yang menjadi pilihannya. Jika tidak sesuai atau tidak pantas, berikan alasan yang tepat dengan penjelasan yang bijaksana.

  1. Ajarkan untuk menghargai diri sendiri

Berbagi bersama teman tidak berarti ia harus mengorbankan semua yang ia miliki. Ajarkan bahwa kita juga perlu menghargai milik sendiri. Misalkan bila mainannya tidak dikembalikan oleh temannya, maka ajak ia untuk meminta kembali mainannya tersebut. Selain itu cobalah untuk mengemukakan mana “Milik Ibu” dan “Milik Anak.” Minta ia untuk meminta ijin jika ingin menggunakan “Milik Ibu”, begitu pula sebaliknya. Ketika Ibu harus meminjam “Milik Anak”, maka lakukan hal yang sama dan segera kembalikan bila telah selesai memakainya. Cara ini selain mengajarkan sopan santun, anak juga akan belajar bagaimana menghargai batasan masing-masing pribadi.

Perlu diingat bahwa usaha menumbuhkan sikap asertif juga memerlukan dukungan dari orang-orang disekitar anak. Untuk itu informasikan pola pengasuhan ini dengan pengasuh, kerabat, juga guru di sekolah.

 

Sumber:

Penelitian dari Novalia dan Tri Dayakisni (2013), berjudul Perilaku Asertif dan Kecenderungan Menjadi Korban Bullying.

Tips disadur dari http://id.theasianparent.com/. Artikel asli dapat dilihat di sini.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...