content detail

Kisah Tentang Adzra

Post by: 31/03/2015 0 comments 1619 views
sumber: http://www.sekolah123.com/
sumber: http://www.sekolah123.com/

Bercerita Sebelum Tidur

Pendidikan adalah proses membentuk kebiasaan (habit formation). Secara konseptual, kita semua sudah tahu bahwa membaca dan menulis itu penting untuk menumbuhkan kecintaan anak pada dunia literasi. Namun, barangkali kita masih kedodoran di tataran strategi dan teknik, baik di tataran pendidikan formal ataupun kebiasaan di rumah. Seberapa tinggi pun dorongan yang diberikan pemerintah, kalau anak tidak diperkenalkan pada buku dalam hidupnya sehari-hari, akan alot juga prosesnya.

Adzra, anak saya yang belajar di tingkat Preparation di Australia, selalu membawa pulang satu buah buku di dalam tas sekolahnya untuk bacaan di rumah. Itu merupakan pekerjaan rumah (PR) bagi setiap anak. Sementara PR bagi orang tua ialah membimbing anak membaca buku yang dibawa dari sekolah itu. Di luar buku yang dipilihkan gurunya untuk PR membaca, sekolah juga ingin mengajak orang tua dan anak mencatat kebiasaan membaca buku yang tersedia di rumah, entah itu buku cerita, pengetahuan, dan lain-lain. Anggap saja paling gampangnya, bagaimana kebiasaan bedtime story reading masing-masing keluarga. Untuk itu, sekolah menyediakan buku catatan Home Reading. Tidak diberi nilai meski guru akan memberikan komentar secara berkala setiap bulan.

Sejak hari pertama, setiap malam atau pagi sebelum sekolah, saya isi kolom kecil di buku itu dengan judul buku, komentar saya dan Adzra tentang isi buku, dan apresiasi Adzra tentang buku itu dlm bentuk smiley. Saya anggap ini sebagai sarana mengamati diri sendiri, apakah saya sisihkan waktu untuk bercerita tiap hari, merekam resepsi Adzra, bagaimana proses interaksi kami, apakah saya yang selalu bercerita, ataukah Adzra ikut ambil peran membaca ceritanya melalui gambar.

Dalam waktu dua minggu pertama, melihat lengkapnya kolom harian saya isi, rasanya seperti pencapaian luar biasa bagi saya. Ternyata dalam waktu 14 hari saja, sudah 14 cerita berbeda yang kami baca. Sebagian sudah pernah dibaca Adzra sehingga dialah yang gantian bercerita. Adakah ini berpengaruh pada kepercayaan diri anak? Begitulah yang saya lihat.

Apa semua orang tua mau melakukannya? Semuanya memang terpulang pada tingkat perhatian masing-masing. Hal-hal yang wajib saja seperti membaca buku dari sekolah belum tentu dijalankan, apalagi anjuran home reading. Di sisi lain, saya mengenal teman-teman Indonesia yang sangat tinggi perhatiannya terhadap program ini. Ada yang rutin mengajak anaknya ke Perpustakaan Kota untuk membaca dan memborong buku pinjaman. Ada yang teratur melakukan pencatatan, sampai akhirnya bisa mencapai 500 buku yang telah dibaca anaknya dalam kurun waktu kurang dari dua tahun di sini. Pada akhirnya, semua kembali kepada orang-tua. Hanya saja secara pribadi saya tertarik mengamati lebih jauh, apa artinya bercerita sebelum tidur untuk kita.

Bukan Sekedar Perayaan Literasi

Ada kegiatan tahunan untuk merayakan literasi yang biasanya dilangsungkan pada bulan Agustus, yaitu Children’s Book Week. Tahun 2014, tema yang diusung adalah Read across the Universe. Seluruh sekolah di Australia, terutama tingkat dasar, merancang beragam kegiatan literasi. Notices, newsletters, dan kegiatan kelas serempak memberikan pengumuman kepada para orang-tua dan siswa.

Namanya perayaan, yang dimunculkan adalah kehebohan seperti parade kostum karakter buku, pemilihan kostum terbaik sampai pemilihan buku terbaik tiap tahunnya. Anak-anak dan guru akan menggunakan kostum dari cerita-cerita klasik maupun kontemporer. Ada yang bertanya, lho kok acara Book Week tapi tidak ada bukunya? Sebenarnya apa yang disebut Children’s Book Week ini bukanlah berarti bahwa hanya minggu ini semua sekolah akan menggelar acara literasi. Ini hanyalah minggu perayaan atas keseluruhan kegiatan literasi yang menjadi rutinitas tiap hari di tiap kelas.

Mengapa acara seperti ini begitu meriah? Bagaimana anak bisa diajak memilih sendiri kostumnya, yang kerap memilih yang berbeda dari saran oranng tuanya? Itu karena program literasi yang sesungguhnya terjadi selama lima hari dalam seminggu sepanjang tahun ajaran.

Sebuah program literasi akan berhasil dengan sangat baik bila kelima unsur ini saling berkaitan: sekolah-guru-siswa-orang tua-pemerintah. Ini kalau kita bicara tentang literasi di tingkat nasional. Di mata saya, inter-relasi ini saya temukan di sini, di dalam pendidikan tingkat dasar di Australia.

Program literasi memerlukan kesungguhan dari semua pihak agar bisa mendarah-daging. Ada keberlanjutan dan kesatuan yang dipastikan berjalan dari guru tingkat bawah hingga berlanjut ke jenjang berikutnya. Ada keterlibatan orang tua yang diharapkan tetap penuh perhatian dengan program sekolah. Semuanya menjadikan anak-anak sebagai subyek, sosok yang penting.

Mengenal Indonesia

“Mommy, apakah Indonesia itu negara yang besar?” begitu tanya Adzra, anak kedua kami ketika berkunjung ke Melbourne Museum pada suatu hari. Di depan kami terbentang peta Pacific Islands, bagian dari negara Australia. Indonesia, meski bukan termasuk wilayahnya, terpampang lebar di peta tersebut.

Mendapatkan pertanyaan tentang negara sendiri, saat berada di negeri orang, membuat saya tersadar. Saya mengira anak seusia Adzra belum saatnya dikenalkan dengan geografi. Eh, ternyata sekolahnya malah mengangkat Indonesia sebagai tema pembelajaran di term tiga. Introducing Indonesia from an Australian perspective, kira-kira begitu saya menangkapnya.

Tentu bukan tanpa tujuan bahwa Moreland Primary School (MPS) mengangkat tema Indonesia dalam pembelajaran mulai Preps-Grade 6. Di lingkup MPS sendiri, setidaknya ada sekitar 50 siswa asal Indonesia, dari 350 siswanya. Mayoritas adalah anak-anak yang orang-tuanya sedang studi S2/S3 di berbagai kampus di Melbourne. Di tingkat Preps saja ada tujuh siswa Indonesia dari total 45 anak.

Membuat congklak menjadi salah satu proyek atau tugas selama liburan sekolah kali ini. Dibantu ayahnya, Adzra membuat papan dakon. Dia keluar ke Warr Park dekat rumah untuk mencari kerikil yang berukuran sama. Lalu kami berdua pun seru bermain dakon. Saya ikut bersemangat. Seperti kembali ke masa kecil. Entah kapan saya terakhir beririsan dengan permainan tradisional seperti ini. Entah itu dakon, bekel, sepak engklek, atau gobak sodor.

Lama saya merenungkan betapa permainan tradisional sudah lama menghilang dari jamahan anak-anak di tanah air masa kini. Di masa kecil saya dulu, tidak ada hari tanpa bermain karet atau petak umpet. Apakah anak-anak sekarang mengenal apa itu dakon,  bola bekel atau gobak sodor? Sementara itu, di pelataran Moreland Primary School, garis permainan engklek malah jadi salah satu lokasi favorit anak-anak perempuan. Mereka menyadari pesan-pesan oral yang terkandung dalam permainan tradisional semacam congklak itu. Kearifan lokal memang perlu diintegrasikan ke dalam pembelajaran sekolah.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Pratiwi Retnaningdyah (mahasiswa S3 di bidang Cultural Studies di the University of Melbourne) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...