content detail

Ketika Sekolah Mengajarkan Anak Berani Memilih

Post by: 30/04/2015 0 comments 1493 views

Bunda, we supposed to choose one of our statement and justify our choice with some reasons. If we can’t make it, then how we make a decision when we are a leader. My teacher said that we must make a choice and decision, how hard it is.” (Bunda, kita harus memilih satu pernyataan kita dan memperkuat pilihan dengan beberapa alasan. Jika kita tidak bisa melakukannya, bagaimana kita membuat pilihan ketika kita menjadi pemi

mpian. Guru saya berkata bahwa kita harus membuat pilihan dan keputusan, sesulit apapun.)

Itu adalah penggalan kata-kata yang diucapkan Aliya (11 tahun). Ucapan itu membuat saya termenung lama, sampai kemudian menyadari bahwa sekolah dasar ini telah mulai mengajarkan anak-anak untuk berani menentukan pilihan sejak mereka usia belia.

Hari itu, seperti biasanya, saya menjemput 3 anak saya dari sekolah. Hampir mendekati sekolah mereka, saya mulai melihat wajah-wajah sumringah mereka dari kejauhan. Ini adalah salah satu kebahagiaan saya, menjemput anak-anak dari sekolah dan selalu melihat wajah kegembiraan dari mereka walaupun mereka belajar seharian dari pukul 9 pagi sampai pukul 4 sore. Ketika mereka masuk mobil, mereka bergantian menceritakan pengalaman mereka hari ini di sekolah. Dan hari itu saya mendapatkan cerita menarik dari Aliya.

Ia bercerita bahwa hari itu guru memiliki sejumlah tema untuk didebatkan oleh beberapa kelompok. Tema yang didebatkan bukan main-main untuk anak kelas 5 dan 6 karena berupa studi kasus nyata, yaitu misalnya di kota Melbourne, pihak pemerintah memiliki wacana untuk menutup hotel lama yang ada di kota itu, jika mereka menjadi council, akankah mereka setuju dengan kebijakan itu atau tidak dan apa alasannya. Contoh lain misalnya, ada sebuah daerah tambang yg hampir mati di kota Melbourne, menurut mereka sebagai council, perlukah area tambang tersebut dipertahankan atau tidak dan apa alasannya. Kasus lain yang dijadikan bahan debat misalnya akan ada kebijakan memindahkan funeral (pemakaman) ke tempat lain, apakah mereka setuju atau tidak.

sumber: http://www.theguardian.com/
sumber: http://www.theguardian.com/

Setelah mengemukakan tema, guru membentuk kelompok debat tema 1, kelompok debat tema 2 dan seterusnya. Nah, dari masing masing kelompok, anak-anak dipersilahkan untuk menentukan sikapnya memilih yang mendukung atau yang kontra dari setiap tema. Namun menariknya sebelum anak-anak menentukan sikap dan pilihannya, semua anak diminta untuk mencari referensi terkait tema yang diberikan selama kurang lebih 1 jam. Mereka akhirnya sibuk googling untuk mencari sumber sumber berita yang dapat dijadikan dasar alasan mereka nantinya termasuk diantaranya kebijakan kebijakan pemerintah mengenai hal ini, peta-lokasi juga latar belakang budaya dari setiap tempat yang diperdebatkan. Intinya mereka harus melakukan ‘riset’ kecil-kecilan agar setiap alasan mereka faktual dan valid.

Selesai mempelajari berbagai referensi, tibalah mereka menentukan pilihan menjadi pro atau kontra terhadap wacana kebijakan tersebut. Guru akan menjadi moderator debat tersebut, dan ternyata guru membuat aturan bahwa debat hanya mendebatkan ide dan gagasan bukan tentang personal dari masing-masing dan debat harus mengikuti dan menghormati aturan wewenang moderator, jika melanggar maka moderator berhak untuk mengeluarkan seseorang dari debat tersebut.

Saya melanjutkan bertanya kepada Aliya karena rasa penasaran saya, “Then kak Aliya, what theme do you get?”

It was about the old hotel that they want to close and will be changed to be business centre (Tentang hotel tua yang akan ditutup dan diubah menjadi pusat bisnis),” jawab Aliya.

Dan mulailah saya melihat semangat luar biasa saat dia menceritakan dengan sangat detail alasan dia tidak setuju untuk menutup hotel itu. Dengan gamblang dia menceritakan bahwa dia telah melihat areanya dan melihat sebetulnya hotel itu dapat dijadikan ikon kota tersebut, diperbaharui gedungnya dan manajemennya. Pusat bisnis memang diperlukan di kota tersebut, namun tanpa harus menutup hotel itu, karena dari data yang dia lihat area tersebut memang memungkinkan mengembangkan pusat bisnis tanpa harus menutup hotel tersebut, sehingga dengan jumlah penduduk yang kota itu miliki, hotel dapat menjadi penambah peluang kesempatan lapangan kerja, apalagi kota tersebut juga memiliki beberapa tempat wisata dan diprediksi jumlah hotel yang ada di kota tersebut memang masih kurang. Wow, saya mengagumi tiap kata-kata dan penjelasan yang keluar darinya, betapa jelas dan percaya dirinya dia, saya hanya membayangkan begitupun anak-anak yang lainnya. Sambil mendengarkan, saya seakan membayangkan suasana debat mereka. Tiba-tiba saya dikagetkan pertanyaan Aliya.

“Bunda ingin tahu nggak alasan teman-teman yang setuju hotel itu ditutup?” lanjut Aliya. Saya hanya mengangguk. Aliya melanjutkan ceritanya. Kelompok yang pro dengan kebijakan tersebut menganggap bahwa hotel tua itu telah menjadi beban kota dalam hal pembiayaan. Oleh karena itu mengganti dengan pusat bisnis akan memberi keluasan pada lapangan kerja dan pemasukan investasi pada daerah tersebut. Dia meneruskan bercerita alasan – alasan dipilihnya kebijakan itu sama jelas dan semangatnya dengan saat dia menceritakan tentang pilihannya sendiri tidak nampak kebencian, tidak nampak kegalauan bahkan saat dia menceritakan bahwa kelompok lawannya kadang menginterupsi kelompoknya.

Saya iseng bertanya kepadanya, ”Aliya, boleh nggak kalau nggak memilih? Atau memilih keduanya? Atau ada nggak teman-temannya yang bingung?”

“Bunda, we supposed to choose one of our statement and justify our choice with some reasons. If we can’t make it, then how we make a decision when we are a leader. My teacher said that we must make a choice and decision, how hard it is. My teacher said that we should know, sometimes our decision have an impact to other people life, so we should be responsible on doing that, (Bunda, kita harus memilih satu dan memperkuat pilihan dengan beberapa alasan. Jika kita tidak bisa melakukannya, bagaimana kita membuat pilihan ketika kita menjadi pemimpian. Guru saya berkata bahwa kita harus membuat pilihan dan keputusan, sesulit apapun itu. Guru saya mengatakan bahwa kita harus tau, keputusan kita terkadang memiliki efek untuk hidup orang lain, jadi kita harus bertanggungjawab atas apa yang dilakukan)

And how is you made a wrong choice? (bagaimana kalau kamu memilih pilihan yang salah?)” saya tergelitik sejauh mana dia mengerti apa yang dikatakan.

Bunda, bunda…there is no right and wrong choice, every choice has their own consequence. I am sure you know this better than me, hehehe, (Bunda, tidak ada pilihan yang benar dan salah, semua pilihan punya konsekuensi sendiri-sendiri. Saya yakin Bunda lebih tau soal itu dari pada saya, hehe)” Aliya menjawab pertanyaan saya.

Tinggallah saya yang masih duduk termenung. Saya memang tahu nak, tapi saya baru tahu jika anak-anak seusiamu telah belajar tentang ‘berani’ memilih dan mengambil keputusan yang bukan semata mata tentang hidupnya sendiri. Sekolah ini menunjukkan kepada anak-anak bahwa hidup itu tentang sebuah pilihan, namun hebatnya pilihan itu tidak selalu untuk dirinya, namun menyangkut hajat hidup orang banyak. Sekolah ini menyiapkan anak-anak untuk menjadi pemimpin yang harus memiliki kemampuan untuk memilih dan membuat keputusan berdasarkan hasil belajar.

Dari cerita Aliya tadi, saya juga belajar bahwa sekolah mengajarkan anak-anak  sebelum membuat sebuah pilihan, mereka harus ‘belajar’, membaca banyak hal, melakukan riset kecil-kecilan agar mereka memiliki alasan yang masuk akal dalam menentukan pilihan untuk kepentingan orang banyak.

Selain itu, hal terpenting adalah, anak-anak sejak dini diajarkan bahwa memilih itu bukan perkara benar atau salah, kedua pilihan bisa saja benar, bahkan bisa saja salah, tidak ada yang tahu. Namun yang terpenting kata-kata Aliya terakhir mengingatkan kita orang dewasa bahwa setiap pilihan mengadung konsekuensi tersendiri. Selain bertanggung jawab memilih, anak-anak diajarkan bahwa dalam setiap pilihan mereka harus juga bertanggung jawab atas segala konsekuensinya. Contohnya, untuk kelompok Aliya yang tidak setuju hotel tua itu ditutup, mereka tetap harus memiliki solusi agar kehidupan ekonomi kota tersebut tetap berkembang dan juga harus memikirkan agar hotel tua itu tidak menjadi beban. Ini mengajarkan kepada anak-anak bahwa pilihan untuk kepentingan orang banyak itu tidak boleh berdasarkan emosi. Pilihan untuk kepentingan orang banyak itu harus berdasarkan visi dan nilai-nilai tertentu.

Jika setiap kita menganut cara pikir seperti ini maka tidak layak lagi jika perbedaan pilihan itu dilakukan dengan saling menjatuhkan, saling mematikan karakter, menghina, menghasut yang lain agar berupaya supaya menang.

Saya melakukan instrospeksi, pantas saja generasi seperti kita menjadi generasi tidak terlalu pintar untuk mengajukan gagasan-gagasan baru. Alih-alih mengajukan gagasan tandingan terhadap ide lawan, yang dilakukan adalah cara-cara tidak ‘cerdas’ seperti menjatuhkan pihak lawan, membuat berita berita fitnah untuk mempengaruhi sekitarnya dan juga memburukkan karakter orang. Selain itu generasi kita juga generasi yang ‘galau’ jika diminta memilih, memilih apapun termasuk memilih ‘bersikap’ terhadap suatu peristiwa.

Demi Indonesia yang lebih baik, maka mimpi saya adalah kelak generasi muda ke depan memiliki keberanian untuk menyatakan sikap dan pilihannya atas apapun  apalagi menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan hajat hidup orang banyak. Agar hadir pemimpin–pemimpin yang pemberani, karena keberanian itu sebenarnya lahir dari  sebuah kejujuran dan ketulusan.

Untuk generasi baru Indonesia yang lebih cerdas dan berani, maka sudah saatnya sekolah sekolah di Indonesia tidak hanya tempat mengajarkan pelajaran sekolah yang harus dikuasai namun juga sebagai tempat menumbuhkan warga negara Indonesia yang baik, memiliki kemampuan untuk memilih dengan jujur dan cerdas, serta berani mempertanggung jawabkan pilihannya.

Mimpi saya juga agar sekolah mampu menjadi tempat bersemainya para calon pemimpin yang mampu menelurkan ide-ide, gagasan buat Indonesia, berani memilih langkahnya untuk bangsa, bukan hanya jago menjatuhkan lawannya.

Berbagi satu mimpi untuk Indonesia.

 

Novi Poespita Candra, PhD student ,Center for International Mental Health, School of Population and Global Health, The University of Melbourne.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...