content detail

Kekuatan Cinta

Post by: 02/04/2015 0 comments 1007 views
sumber: http://www.imaginesouthlake.org/
sumber: http://www.imaginesouthlake.org/

“How can there be peace without people understanding each other and how can this be if they don’t know each other?”

Lester B. Pearson

(Bagaimana bisa tercipta kedamaian tanpa adanya orang-orang yang saling mengerti satu sama lainnya,  dan bagaimana  kedamaian ini bisa terwujud apabila mereka tidak saling mengenal satu sama lain?)

“Today is Friday, isn’t it, Mum?( Hari ini hari Jumat kan, Ma?),” tanya Andhika, anak kami, pada ibunya. Ia tahu dalam dua hari ke depan dia tidak akan menemui guru-gurunya, teman-temannya, dan bangku sekolahnya. Holiday is boring. I will miss my school, my friends and my teachers (Liburan itu membosankan. Aku akan merindukan sekolah, teman-teman dan guru-guruku).

Kalimat tersebut terlihat sederhana, tetapi penuh makna bagi kami selaku orang tua. Mengapa Andhika begitu merindukan guru-guru, teman-teman, dan sekolahnya? Padahal di awal-awal memulai sekolah dulu, dia cukup kesulitan untuk memulai karena keterbatasan bahasa, budaya dan lain sebagainya.

Hampir empat tahun kami bermukim di Melbourne, yang menurut sebagian besar orang adalah salah satu kota ternyaman di dunia. Empat tahun yang lalu, setiap akan memulai aktifitas sekolahnya, Andhika selalu gelisah, menangis, perut mual-mual bahkan muntah setelah sampai di sekolahnya. Sambil terduduk dia selalu menangis dan tidak mau masuk kelas. Hal ini  tentu saja mengkhawatirkan dan membuat saya iba melihat kondisinya.

Dalam kondisi demikian, pendekatan cinta pada akhirnya bisa meredam semuanya. Cinta seorang guru kepada muridnya yang begitu penuh perhatian mencurahkan perhatian yang tulus pada Andhika. Di depan pagar sekolah, Ms. Corrigan, sang guru itu, menyambut Andhika dengan senyum dan tangan terbuka,

“Do not vomit Andhika, give me a big hug (Jangan muntah Andhika, beri saya pelukan yang erat.),” Ibu guru ini memeluk Andhika dengan erat sambil mengelus-elus punggungnya sampai Andhika merasa nyaman di dalam pelukannya. Setelah agak tenang, ibu guru ini berkata, “Let’s come to the class. You can sit next to me and we will play a fun game (Ayo kita masuk kelas, kamu bisa duduk di sebelah Ibu dan kita akan bermain game yang mengasyikkan).” Hal ini dilakukan setiap pagi hingga lambat laun pada akhirnya Andhika mulai bisa beradaptasi di sekolah barunya.

Di samping itu, untuk membatunya beraktivitas selama di sekolah, Andhika juga dibantu oleh teman tandemnya, yang biasa dinamakan Buddy atau teman pendamping. Buddy adalah seorang anak yang ditunjuk untuk mendampingi anak-anak yang baru masuk. Biasanya dipilih dari negara yang sama dengannya ataupun kalau tidak ada, mereka akan didampingi oleh anak yang mempunyai bahasa yang hampir sama. Pada saat itu, Andhika mendapat pendamping dari Malaysia. Pendamping inilah yang bertugas sebagai penerjemah antara guru dan murid pada saat berada di dalam kelas. Peran buddy ini tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas. Tujuannya untuk membantu anak-anak baru untuk bisa menjadi akrab dengan lingkungan di sekolahnya. Contohnya dengan menunjukkan fasilitas-fasilitas yang ada di sekolah, seperti di mana kamar kecil, kantin, tempat bermain, perpustakaan, dan menemaninya bermain.  Di sini lagi-lagi ada cinta dan perhatian dari temannya.

Perlahan-lahan Andhika sudah mulai semakin percaya diri. Dia sudah tidak gelisah, menangis, dan mual-mual lagi sewaktu akan berangkat sekolah, bahkan tidak pernah muntah lagi. Bahasa Inggris yang menjadi bahasa sehari-hari pun mulai dipahami dan dipergunakannya. Prestasi demi prestasi diraihnya dengan mendapatkan beberapa penghargaan Student of the Week  di setiap term. Hal ini sangat mengembirakan. Bahkan, di penghujung tahun ajaran 2013 ini, Andhika mendapat predikat “The Most Outstanding Student”. Predikat ini diberikan kepada anak yang sangat serius dalam kegiatan Hip Hop. Andhika yang dulunya sangat pemalu, pendiam, dan sangat tidak percaya diri bisa membuktikan bahwa dia bisa meraih prestasi ini dengan menari di depan banyak orang di sekolahnya.

Begitulah sebuah kekuatan cinta, tanpa mengenal batas-batas etnis, ruang, dan waktu. “When there is love there is peace,”  demikian kata Neil Wu. Ketika ada cinta, maka juga akan ada kedamaian. Kekuatan Cinta Ms. Corrigan terhadap Andhika dapat mengubah semua hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Seorang guru yang tidak mempunyai hubungan secara personal kepada murid barunya, dapat memberikan cinta yang begitu dalam dan menyentuh. Cinta. Kata yang sederhana, tetapi penuh makna, dan semua orang bebas untuk mengartikan dan memaknainya.

 

Tulisan merupakan rangkuman dari tulisan Temmy Thamrin (Kandidat PhD Program Linguistics, Faculty of Humanities and Social Sciences, La Trobe University, Melbourne – Australia) yang dimuat dalam buku Sekolah itu Asik (2014). Tulisan lengkap dapat dibaca dalam buku tersebut.

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...