content detail

Kegiatan Guru Piket yang Menarik

Post by: 26/02/2016 0 comments 1098 views
Sumbangan Tulisan : Yuna Puteri Kadarisman

Kegiatan guru piket tidak selalu membosankan. Seperti yang dilihat Yuna Puteri Kadarisman ketika mengunjungi Clayton North primary School (CNPS) di Australia, dalam rangka program Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yaitu School Visit bagi mahasiswa Master Indonesia di Melbourne. Tujuan dari program tersebut agar mahasiswa Master / guru dapat belajar tentang suasana belajar yang menyenangkan di Australia.

Yuna bertemu dengan Shaun, seorang social worker di CNPS yang sedang membantu mengembalikan konsentrasi siswa melalui kegiatan sederhana.

        Pak Shaun, seorang Social Worker yang ditugaskan pada Clayton North Primary School (CNPS). Beliau ditugaskan ke CNPS karena sekolah ini termasuk ‘school at risk’ dari segi beragamnya latar belakang siswa disana. Tugas beliau simple, salah satunya adalah membantu siswa mengakomodasi emosinya. Saat siswa merasa bosan dan tidak bisa berkonsentrasi di kelas, atau saat siswa mengalami masalah perilaku, Pak Shaun akan membantu mengembalikan konsentrasi mereka melalui kegiatan sederhana seperti membangun ‘Tree House’ dihalaman belakang sekolah, atau mengecat gudang perlengkapan. Tugas beliau mengingatkan saya akan peran guru piket di sekolah kita.

Pak Shaun, Social Worker @ CNPS
Pak Shaun, Social Worker @ CNPS

            Ketika saya ditunjuk sebagai guru piket beberapa tahun lalu, saya merasa bosan dan tidak berdayaguna. Tugas saya hanya menyampaikan tugas guru yang tidak hadir karena alasan tertentu, me-recap siswa dan guru yang tidak masuk, dan sesekali mencari siswa yang terlambat masuk kelas atau ‘menghilang’ karena tertidur diperpustakaan. Sungguh membosankan. Dan Pak Shaun memberi saya ide untuk membuat tugas guru piket menjadi menarik.

            Guru piket bisa juga diserahi tugas untuk mengawasi siswa yang memerlukan perlakuan khusus. Seperti siswa yang ketinggalan pelajaran karena sakit atau ijin, lalu harus mengerjakan beberapa tugas tambahan. Atau seperti Pak Shaun, mengawasi siswa yang memiliki masalah perilaku di kelas dengan memberikan mereka tugas yang berbeda. Namun kita harus berhati-hati agar siswa tidak memandangnya sebagai ‘hukuman’. Kuncinya adalah membiarkan siswa memilih sendiri kegiatannya. Jika mereka suka perpustakaan, biarkan mereka membantu pustakawan membereskan perpustakaan. Jika mereka suka berkebun, kenapa tidak meminta mereka membantu Pak Bon sekolah. Atau membantu mas CS menyiapkan minuman untuk guru-guru. Intinya, mereka berkegiatan, walaupun tidak harus didalam kelas. Beri juga batasan kewajaran. Jika dalam satu semester siswa mengalami sekali rasa kebosanan, sangat wajar. Namun jika sudah beberapa kali meminta ijin terutama pada waktu jam pelajaran tertentu, kita harus mulai waspada akan adanya permasalahan yang lebih kompleks. Dan, siapa yang bisa memberikan informasi terinci tentang hal ini jika bukan guru piket?

 

*Tulisan ini adalah pendapat pribadi. Yuna Puteri Kadarisman , MAN Insan Cendekia Serpong

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Loading...